Nias Island

Nias – Pulau Seribu Kontol Jilid II Betul saja, jam 8 lebih sedikit Fasi datang naik sepeda, wajahnya cerah sumringah, ia menyandarkan sepedanya di tiang rumahku. “Bang perutku sakit, habis makan aku langsung ngebut naik sepeda” katanya manja, ia langsung menghempaskan pantatnya ke kursi rotan. Celana pendeknya sudah robek sebelah depan dekat selangkangan, aku perhatikan kakinya panjang dan tidak punya bekas-bekas luka. Inilah kelebihan orang Nias kulit mereka mulus-mulus, seperti Cina. Mereka juga tidak bau badan, sejujurnya aku suka dengan mereka, secara fisik mereka tidak mengecewakan, mainnya juga total, tidak malu-malu. Yang bikin kecewa banyak dari mereka mulutnya tidak bagus, suka mencuri dan mereka orang yang pemarah dan pendendam. Jadi aku agak hati-hati menghadapi Fasi, terlebih baru pertama kali ini ia datang menginap di rumahku. Aku menyuruh Fasi cuci kaki dan tangan, lantas menyuguhkan sedikit kue-kue “cobain dulu, kue-kue dari Jakarta” tawarku, tapi Fasi rupanya kurang berselera, ia menyuruh aku duduk di sampingnya. “Duduk sini saja Bang, aku mau yang seperti tadi, tidak mau kue-kue” katanya sambil menggosok-gosok pangkal celananya. “Kamar tidur Abang di atas atau di bawah ?” sambungnya lagi sambil celingukan. “Aku tidur di atas, di sini khan hanya untuk duduk-duduk dan masak” jawabku. Lantai bawah rumahku hanya 5×5 meter, begitu juga di atas, kamar mandiku terletak terpisah, ini tempat tinggal yang menyenangkan bagiku. Fasi minta ijin melihat lantai atas, untung barang-barang yang aku anggap berharga sudah aku sembunyikan, jadi aku biarkan ia naik ke atas. Lebih dari 30 menit Fasi tidak turun-turun, aku segera menutup pintu dan jendela lalu naik ke atas. Anak nakal itu rupanya sudah pasang aksi, ia rebahan di ranjangku telanjang bulat. “Heh ngapain kamu ?” tegurku kaget “Ah sudahlah Bang, jangan buang-buang waktu, aku sudah nggak tahan minta pengalaman” katanya, lantas ia memain-mainkan alat vitalnya supaya bangun. Aku naik ke pembaringan dan memeluk badannya :”kamu itu anak nakal ya, sabar donk, khan ada waktu sampai pagi” bujukku sambil menciumi kuduknya, tanganku asyiik menggosok-gosok rudalnya yang mulai hidup. “Nah gitu donk Bang, aku pengen tau aku kuat main berapa kali hari ini, aku suka sekali main sama Abang, enak sekali.” Katanya sembari melepaskan kaosku dan memain-mainkan susuku. Kami bertelanjang bulat di ranjang sambil berpelukan ngobrol kian kemari, kadang aku menjilati lehernya sengaja membuat ia terangsang. Ia juga menggelitik-gelitik ketiakku, mendorong-dorong kepalaku ke arah burungnya. “Bang ayolah, sudah tegak kian burungku, ndak sabar dia minta dicium !” Tapi aku sudah punya strategi baru untuknya, jadi aku pura-pura melengos sehingga burungnya lewat dari mulutku. “Bang ayolah…..macam apa ini Abang mau” ia memprotes karena aku tidak memasukkan kontolnya ke mulutku, ia makin penasaran, sementara aku hanya menjilati bijinya dan selangkangan. Fasi mungkin sudah nafsu ke ubun-ubun dan ingin cepat-cepat ngesex, jadi dia mendorong-dorong kepalaku lagi supaya aku jilat dan isap alat vitalnya yang tegak mengeras sehingga uratnya muncul seperti varises. Aku meludahi kontolnya sedikit setelah itu baru aku masukkan mulut dan kutarik perlahan berulang-ulang. “shhhhh….ssshhhh nakh gitu Bang…..enak kali….” Ujarnya sambil melebarkan senyum, kelihatan sekali kalau Fasi kegirangan. “terus Bang…….terus saja…..jangan dilepas…..enaaaak” katanya sambil mengelus-ngelus tubuhku. Aku merayap ke atas, sambil mengocok kontolnya mulutku menjilati bulu jembutnya yang belum lebat, perutnya aku ciumi dan jilati, naik lagi ke pentilnya dan lehernya. “Abang……bang………geli bang…….enaaak kali bang !……isap lagi bang biar cepat keluar” pintanya sambil kegelian dan menghentak-hentakkan badannya. Aku tahu dia mulai mencapai tingkat birahi yang tinggi, aku langsung duduk di atas badannya, alat vitalnya yang basah oleh ludah terasa sudah super keras aku arahkan ke duburku. Fasi sempat terkejut dan mau protes tapi…..bleep…… …jebret….. kepala kontolnya keburu masuk menembus otot cincin duburku. Sesaat mulut Fasi membentuk huruf O yang sangat besar matanya terbelalak, nyalang tapi kemudian bibirnya menyungging senyum merekah…….”hhhhhsssssss……woooooowww……..Abang memang hebat…….oooh Abang memang hebat…….” Fasi keenakan tangannya mencari-cari kontolku, dikocok-kocoknya burungku yang juga minta dienakin, tanpa dikomando Fasi menggerak-gerakan pantatnya naik turun, aku memutar-mutar pinggul. Komposisi gerakan sex maha sempurna membuat kami berdua terasa melayang, angin laut dan gemeresik nyiur menambah keindahan malam. Fasi menggigit bibirnya menahan rasa nikmat yang luar biasa, tiada kata-kata yang terucap, ia menggoyangkan pantatnya perlahan penuh perasaan : “Baaaaang……..enak kaliiiiiiii” hanya itu yang dikatakannya, aku sendiri merasa keenakan dengan kontol yang mengganjal di rongga pantatku, ada rasa sakit, tapi hanya sedikit dibanding rasa nikmat yang tak dapat kugambarkan duduk di atas tubuh remaja ini. Aku merasa seolah-olah seperti anak kecil yang sedang duduk di atas kuda-kudaan di Taman Hiburan, bahagia menikmati kesenangan tak terlukiskan, misalnya aku di suruh turun dari kuda-kudaan ini tentu saja aku tidak akan mau. Begitu juga Fasi, wajahnya menampakkan kebahagiaan, kesenangan dan kenikmatan sekaligus. Akhirnya capek juga aku ngongkong seperti itu, aku mengganti posisi, berbaring dan mengangkat kakiku, Fasi segera mengerti apa yang harus dilakukan, ia langsung mengangkat kakiku ke bahunya dan mengarahkan alat kelaminnya ke lubang anusku yang sudah basah dengan pelicin alam. Meski demikian sekali tekan tidak cukup membenamkan kontol besar itu, Fasi perlu menekan sekali lagi supaya alat vitalnya benar-benar ambles ke dalam anusku. Sebelum menggoyangkan kontolnya, ia masih sempat mencium bibirku :”I love you Bang…..betul Bang…..aku sayang sama Abang” bisiknya, lantas ia mulai bergerak maju mundur melanjutkan persetubuhan kami. Gerakannya makin lama makin cepat, makin cepat lagi sampai suara ranjangku berderak-derak seperti kurang minyak…..kkkrrrik…kkrrrikk …kkrriik. Fasi sudah semakin nafsu, ia tidak memperdulikan sekelilingnya, jepitan pantatku rupanya benar-benar sesuai dengan seleranya. Ia mulai mendengus-dengus : “uuuukh…..uuukkh…….mmmmm” matanya terkatup, mulutnya kadang ternganga, liurnya menetes-netes. Betul-betul dia sudah keenakan gerakannya semakin gila, seperti jarum mesin jahit menembus kain sutra……..aku jadi kelojotan digarap seperti ini. Tanganku menjambak-jambak sprei sampai kusut, tapi Fasi tidak peduli, ia semakin menekan tubuhnya ke badanku, ia menekan melonggarkan dan menekan lagi berulang-ulang dengan irama cepat, kontol Fasi menggesek liang anusku dengan suara ribut….clepaaak….clepppak…..clepppak, bijinya kadang tabrakan dengan bijiku sehingga rasa geli dan nikmat itu semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba Fasi menunduk dan menekan dadaku , tangannya merangkul leherku, bibirnya melumat leher, telinga dan mencari-cari mulutku, aku dicipoknya dengan ganas bersamaan dengan….cccccrrrrrroooooooooot……. crrrroooooooot………cccrreeeeeeeeeeeeeeeeeet………creeeeeeeet !!!!!!!! Air maninya menyembur di dalam lubang anusku. “Baaaaaaaaaaaaaaang…………..aku…muuuntaaaaah………” serunya sambil menekan kontolnya lebih dalam, dengan spontan aku memainkan otot cincinku kendor rapat kendor rapat berulang-ulang sehingga Fasi menjerit-jerit kecil :”iiiiiiikh……iiikhhhhh…….oooooohh” Fasi terus saja mendekapku lama. Alat vitalnya aku jepit di lubang dubur, ia mencoba melepasnya, tapi akibatnya ia merasa geli dan nyeri…….”aaaaaaakh……..bang………aaaakh” setelah beberapa menit burungnya melemas dan lepas dari cengkeraman lubang anusku. Fasi tergolek kecapean, penuh keringat dan nafasnya tersengal-sengal, ia menoleh kepadaku sambil tertawa :”Bang…..sumpah enak kali….puas kali aku bang.” Aku mengambil tissue basah, mengusap dan membersihkan kontolnya, membersihkan anusku, merapihkan ranjangku. Dengan rasa agak ngilu aku lantas berbaring di sampingnya, Fasi memelukku, tanganku diraihnya dan dicium-cium mesra :”Pokoknya aku puas, Abang memang hebat, top ! sebentar kita main lagi ya Bang, khan susu Abang belum muntah” Aku memiringkan badan sehingga kami tidur berhadap-hadapan, berpelukan sambil berciuman, saling menggigit, saling merangkul, mencubit dengan mesra. Beberapa menit demikian, akhirnya kami saling menggesekkan badan, kontolku yang belum terlayani dengan cepat naik dan mengeras, aku naik ke badan Fasi, melipat kaki kirinya ke atas dan menyelipkan kontolku di tengahnya, mulailah aku menggoyang-goyangkan badan naik turun-naik turun. Rasa enak segera datang……..paha Fasi membasah oleh keringat, aku menciumi ketiaknya, memain-mainkan lidahku di situ sampai ia mengelijang dan membuat gerakan yang semakin membikin kontolku nikmat dan……….ccccccrrrreeeeet…..cccccreeeeeeeet……ssseeeeeer…ccrreeeeet….!! aku ejakulasi dengan penuh perasaan. Sungguh nikmat !! Malam itu betul-betul indah, kami dibuai kenikmatan berkali-kali, main isap-isapan, 69 dan jepit-jepitan dipaha, anusku dihajar lagi 2 kali. Bulan penuh, suara ombak dan nyanyian pohon nyiur adalah saksi persetubuhan kami. Besoknya kami bangun jam 10 lebih, kami mandi berdua, sudah tentu sambil bersebody. Tengah hari Fasi pulang bersepeda, ia melambai dari jauh dan aku memberinya senyum manis. Fasi masih datang berkali-kali bahkan ia menjadi Public Relations yang baik, ia sering mengajak teman-temannya minta pengalaman denganku. Suatu kali ia mengajak 6 orang temannya sekaligus menginap di rumahku. bersambung

About sobatabc

I'm just an imperfect man.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s