Arabian Story

Selama sebulan lebih aku harus bolak-balik Mecca-Medinah, tamu-tamuku bertebaran di kedua kota tersebut. Ada 36 orang di Mecca dan 54 orang di Medinah. Terus terang lebih banyak tamu-tamu menghabiskan waktu di Medinah, karena suasananya lebih damai dan sejuk. Begitu juga orang di sana jauh lebih ramah. Kotanyapun lebih rapih dan menyenangkan. Jarak Mecca -Medinah kutempuh dengan bis malam selama 8 jam, lebih dari 10 kali di dalam bis aku mendapat suguhan ++, kontol-kontol bermacam bangsa. India, Pakistan, Bangladesh, Afghanistan, Syria, Lebanon, Maroko dan……orang-orang Arab Saudi. Tentu saja aku tidak pernah bosan naik bis malam, selalu dapat mainan yang gede-gede ! daripada bengong sepanjang malam. Aku tidak pernah mencari, selalu saja yang duduk disebelahku mencari-cari alasan supaya tanganku diletakkan di atas anu mereka. Ada yang alasannya pusing kepala, minta dipijat, dari kepala turun ke paha dan digosok ke itunya …. Nggak masuk akal banget ! terus ada yang pura-pura menunjukan gambar atau peta di pangkuannya, ujung-ujungnya dia mengarahkan tangan ke anunya ! Pokoknya ada 1001 macam alasan dan mereka selalu berhasil dengan sukses ! Aku diam saja, senang koq ! Perjalanan bis malam itu aku duduk di sebelah seorang lelaki yang masih belia, matanya indah, tajam, kulitnya bersih seperti orang Arya, kelihatan sekali ini bukan jenis orang pinggiran. Ia mengenakan Gamish gaya Oman, dengan tassel tergantung di dadanya. Bicaranya juga halus dan sopan, baunya super harum, hawa mulutnya seperti permen, setiap mengakhiri bicara ia memejamkan mata……..gila ! aku suka sekali melihatnya. Delapan jam perjalanan kami berhenti 2 kali, isi bensin, makan dan buang air. Lelaki muda itu namanya Quraish, ia membayari aku makan dan minum, setalam nasi kuning dan ayam panggang, makanan khas hari-hari penduduk di sana, kami lahap berdua. Quraish membelah ayam dengan tangannya, mencopoti kulit-kulitnya dan mengangsurkan ke piringku, sebab aku cerita aku senang kulit ayam, lantas dengan tangannya sendiri, ia menyuwir dada ayam dan memindahkannya ke piringku. Quraish sangat perhatian dan telaten, aku rasanya melayang-layang bahagia. Sehabis makan Quraish memberi kode supaya aku pergi ke kamar mandi. Belum 3 menit ada di dalam Quraish menyusul, ia merentangkan tangan memelukku, pipinya ditempelkan ke pipiku, kakinya menendang pintu sampai tertutup. Gamishnya langsung diangkat dan …tuing ! alat vitalnya sudah ngaceng dibalik celana panjang katun yang tipis. Kami segera bertelanjang ria dan mengadu titit, menggesek dan sekuat tenaga membuat enak kontol masing-masing, wuih jadi semakin tegang…….saling menggesek memang rasanya syuuuuuurrr……banget ! Quraish tidak sabar jantungnya sudah deg-degan, matanya sudah merem-merem, aku apalagi, jatuh cinta dengan toolnya yang posisi jam 9 ! ngaceng edan, tegak miring ke kanan nyaris horizontal. Sambil jongkok kulalap kontol itu sampai yang punya megap-megap keenakan, kujilat dan kuklomot, lidahku tidak lepas dari kepala kontol Arab yang sungguh mendebarkan dan mempesonaku. Batang kemaluan Quraish kujejalkan dalam mulut, busyet ! besar banget, aku sampai harus mengangakan mulut sebesar-besarnya. Semakin dalam kumasukkan semakin pegal rahangku, mengoral tool demikian besar memerlukan tenaga kuat, dan aku tidak siap. Untung saja biasanya Arab-arab tidak tahan lama, pengalamanku membuktikan pria-pria Timur Tengah cepat ejakulasi. Tapi…….mereka kuat main berkali-kali, pernah aku digarap oleh anak pemilik toko emas dari Syria, 11 kali main dalam waktu 5 jam. Begitu juga dengan Quraish, sebentar saja dikulum kontolnya sudah berdenyut-denyut mau nembak, ia menarik kontolnya dan menyisakan kepalanya saja dimulutku, batangnya dia kocok-kocok cepat dan creeeeeeeeeet !!!! ia memuntahkan sperma ke dalam mulutku. Batang dan kepala kontolnya lantas digeser-geser di mulut dan pipiku, ia tersenyum puas. Ia mencuci kontolnya dan dilap pakai tissue. Aku kumur-kumur dan mencuci tangan, berpakaian dan langsung keluar kamar mandi. Baru berjalan beberapa meter, Quraish bersiul dari kamar mandi, aku menoleh, ia memanggilku balik. Aku masuk lagi ke dalam kamar mandi, Quraish memelukku lagi, kontolnya sudah ngaceng lagi, ia minta aku mengoralnya sekali lagi, rahangku masih pegal, jadi alat vital besar itu aku jilat-jilat dan remas-remas saja. Quraish melepas lagi Gamish dan seluruh pakaiannya, ia menyuruhku membalikkan badan, Gamishku diangkat setengah, celanaku diturunkan lantas kontolnya yang sudah kembali ngaceng dan keras itu diselipkan diantara pahaku, dilumuri busa sabun supaya licin dan digesek-gesek dengan cepat. Rasanya nikmat, apalagi Quraish ! pasti merasa lebih enak, tangannya mencubit-cubit pentilku, gerakan kaki dan pahanya semakin cepat sebentar saja tidak sampai 5 menit Quraish menyemburkan airmani kedua kalinya, pahaku belepetan sperma. Ini betul-betul malam jahanam, di tengah padang pasir aku menyempatkan berhubungan sex ! Bahkan dua kali ! Quraish memang jago memikat hatiku, kami kembali naik bis, kembali duduk berdampingan. Sepanjang jalan, Quraish meletakkan tanganku di selangkangannya, kontol Arab itu hidup terus tidak turun-turun, aku saja sampai bosan menggaruk-garuk kontol itu. Tiba di Medinah, Quraish dijemput sejumlah orang naik mobil, ia melambaikan tangan, kami berpisah. Beberapa hari kemudian, aku sedang ngopi di coffee shop hotel, Quraish tiba-tiba saja muncul mengulurkan tangan dan tersenyum, seperti kebiasaan di sana, kami berpelukan dan mendekatkan pipi. Ia bergabung dengan tamu-tamuku, ia juga memperkenalkan beberapa temannya yang sama ganteng dan sama menggairahkan. Ada yang brewokan, berjambang, berjenggot dan sebagainya. Tetapi mereka masih muda-muda dan bukan potongan orang kampung. Seorang teman Quraish memperkenalkan diri dengan cara yang tidak lazim, ia menyalami tanganku dan sambil berbicara, ia membimbing tanganku ke perutnya dengan takzim, lantas pelan-pelan diarahkan ke alat vitalnya, terasa gundukan daging yang lembut dan besar dibalik Gamishnya. Aku terperanjat dan merah padam, untung orang sekelilingku tidak ada yang memperhatikan hal tersebut. Malamnya kira-kira jam 12 tengah malam, kamarku diketuk, Quraish tanpa pemberitahuan datang ke kamarku bersama 3 orang temannya, salah satunya yang menempelkan alat vitalnya ke tanganku tadi. Aku sangat gembira mendapat tamu ganteng-ganteng, sopan dan keren, kami duduk di living room, kamarku jenis suite room yang dilengkapi dengan ruang tidur, kamar duduk, kamar makan dan mini pantry terpisah. Aku mempersilahkan mereka duduk dan minum, Quraish duduk lantas menjentik-jentikan jarinya, seorang temannya mengeluarkan rokok dan korek api, Quraish menghembuskan asap dan menunjuk pintu kamar tidur, aku mengerti maksudnya dan masuk ke kamar tidur, tak lama ia menyusul. Ia langsung mencumbuku, tangannya mengelus-ngelus selangkanganku, pakaiannya dilepas dan ia menyuruhku melepas pakaian di depan matanya. Alat vitalnya sudah membengkak dan naik semakin tinggi hingga posisi penuh jam 9, kemaluannya terlalu berat hingga tak kuat nanjak. Aku langsung jongkok dan mengemut kemaluan Quraish penuh semangat, kugenggam dan kujilat-jilat kukulum sampai Quraish menyeringai dan mendesis keenakan. Quraish duduk di atas ranjang ia meminta aku duduk dipangkuannya, lantas ia mengarahkan kemaluannya ke lubang anusku, betapa susah kepala kemaluan itu masuk, aku duduk menekan berkali-kali tapi kepala kemaluan Quraish terlalu bulat dan besar, dengan minyak pelicinpun tidak masuk juga. Quraish yang nafsunya sudah diubun-ubun menyuruhku menungging, ia memeluk pinggangku dan menikam lubang anusku dengan kejam…….bleeeeeeeeeeeeeees….sreeeeeeeeeeeeeeeep, kepala burungnya langsung silam dan menimbulkan rasa nyeri tak terkatakan. Lantas dengan sekali tekan ia membenamkan seluruh batang kontol Arab yang gede itu ke dalam lubang anusku yang mpot-mpot ayam. Mungkin ia baru menggesek 8 atau 9 kali dan ejakulasinya tiba dengan cepat, ia mendorong batangnya kuat-kuat dan berhenti bergoyang. Quraish menikmati ejakulasi tanpa gerakan dan mendiamkan seluruh alat vitalnya terbenam dalam lubangku, aku mengempot kemaluan Quraish kuat-kuat, memainkannya sekuat tenaga, hingga Quraish merasa toolnya geli dan nikmat seperti di sedot-sedot, ia keenakan dan melayang di langit ke tujuh. Setelah berbersih kami berdua keluar kamar, ketiga teman Quraish masih berada di living room, ada yang berbaring menutup mata, ada yang nonton TV ada yang sibuk dengan hpnya. Teman Quraish yang menggesek tanganku ke kontolnya tersenyum dan memberi kode supaya aku meladeninya, tangannya mengangkat Gamish dan memperlihatkan alat vitalnya yang sudah hidup. Ampuuuuunnnn……barangnya lebih besar lagi dari milik Quraish, ia berdiri dan memelukku, badannya harum sekali seperti habis kecemplung dalam gentong parfum mahal. Dihadapan teman-temannya ia mencium dan meremas-remas badanku, Gamishku diangkat dan ia menjejalkan kontol itu ke selangkanganku. Woow rasa hangat berdenyut -denyut diantara pahaku, aku jadi bernafsu…masa bodoh dengan yang lain, aku menarik lelaki itu dan masuk kamar. Kemaluan pemuda itu sangat menggairahkan, aku mencium-cium penuh nafsu dan menjilatinya, baru sebentar saja kontol sebesar pentungan itu sudah nyemprot dan membasahi dadaku, airmani yang ditumpahkan banyak sekali, mungkin segelas kecil. Kental lengket dan berwarna susu kekuningan. Aku langsung masuk kamar mandi membersihkan badanku yang belepotan peju, tak disangka masuklah seorang teman Quraish yang lain, tanpa permisi ia langsung melepas baju dan bergabung di bawah shower. Nah ! inilah yang paling gila…lelaki muda ini mengocok-ngocok kontolnya sehingga ngaceng, kontolnya kurus tapi panjaaaaang, kepalanya mancung, lancip berwarna merah maroon. Ia menunggingkan badanku dan langsung menancapkan toolnya……….bleeeeeeesss !!! seperti mesin jahit ia langsung menggarap pantatku dengan cepat. Jreep jreep jreep jreep jreep terus menerus. Aku sempat terkaing-kaing karena belum siap menerima sodokannya, baru saja aku mau menggerakkan pinggul lelaki muda itu sudah ejakulasi………….preeeeeeeeeeeeeeet !! preeeet !! peet ! pejunya nyembur berkali-kali sampai berleleran keluar lubang anusku. Ia tersenyum dan mencium pipiku sambil mandi bersama ia masih menggeser-geser bagian belakang tubuhku dengan kontolnya. Seandainya saja aku mau meremas atau mencium alat vital itu pasti dia minta dilayani lagi. Sehabis mandi aku kecapean, badanku pegal, lelaki muda tadi keluar kamar. Buru-buru aku menutup pintu kamar tidur dan menguncinya. Aku takut pasien berikutnya masuk dan menggagahi tubuhku yang sudah penat. Aku dengar Quraish mengetuk-ngetuk pintu, aku menolaknya “Aku cape Quraish, besok saja datang lagi” ia menyahut “Baiklah, besok aku datang lagi !” kudengar pintu ditutup, aku berbaring-baring sebentar lalu membuka pintu kamar tidur mau minum. Ternyata memang Quraish dan 2 temannya sudah pulang tetapi yang seorang lagi masih berbaring di living room, entah dia pura-pura tidur atau memang menungguku keluar. Aku mengambil minum dan menegurnya :”kamu ngapain masih di sini ?” ia menoleh dan tersenyum “aku mau tidur di sini sampai pagi datang” jawabnya “boleh khan hanya tidur ?” lanjutnya lagi. Aku menghela nafas dan menjawab :”Hanya numpang tidur khan ?” lalu aku duduk di seberangnya, badanku terasa pegal dan nyeri habis digarap Arab-arab yang haus seks. Lelaki muda itu memperkenalkan diri namanya Amir, dia bercerita Quraish dan teman-temannya berasal dari Doha. Ia sekilas menceritakan Quraish anak orang kaya raya, mereka semua, teman-teman sekolahnya di Inggris. Quraish meski kayaraya tapi ia senang menikmati hal-hal seperti orang biasa, naik kereta api, mendaki gunung atau makan ditempat-tempat murah. Amir orang yang simpatik, ia ramah, gaya ceritanya juga singkat padat, sepadat tubuhnya dan….. ganteng ! aku berpikir sudah tanggung kalau tidak ngeseks sekalian dengan dia. Aku pindah duduk di sebelahnya, seolah-olah aku mengeluh aku berkata :”teman-temanmu gila ya ! haus seks dan onderdil mereka besar-besar nggak ketulungan” Amir tertawa, menarik bahuku dan merangkulku “kami kuat ngeseks 5 atau 6 kali, yang penting dapat lawan mulus seperti ini” katanya sambil memeluk tubuhku, lantas ia melanjutkan :”aku masih dapat kesempatan nggak ?” Ia menunjukkan alat kelaminnya yang sudah bergerak mulai hidup, sama besar dengan Arab-arab lain, bedanya punya Amir langsat dan bersih seperti punya Quraish. Aku hanya meremas-remas kontol itu, aku sudah capek. Amir, memegang dadaku, merasakan denyutan jantungku, lantas jarinya memain-mainkan pentilku, caranya sangat istimewa sebentar saja darahku menggelegak dan aku meremas kontolnya semakin bernafsu. Amir menindihku dan menjepitkan alat kelaminnya dipahaku, ia mendorong dan menarik kontolnya seolah-olah pahaku memek perempuan. Kontol itu hangat dan keras, seperti sepotong kayu diselipkan diselangkangan. Beberapa menit kemudian Amir hampir mencapai titik klimax, ia mencabut kontolnya dan membalik badanku cepat-cepat. Tanpa bilang-bilang Amir langsung mencoblos pantatku, kepala kontolnya menembus lubang anus dan sedetik kemudian kuda Arab itu menyemprotkan airmaninya ………………..preeeeeeeeeeeeeeeettt preeeeeeeeeeet peeet peeet….!!! Ia terpekik keenakan, tubuhnya melonjak-lonjak dan setengah batangnya masuk lubangku tanpa sengaja. Aku tidak kuasa menahan nyeri, kontolnya langsung kucabut dan aku lari ke kamar mandi. Sambil duduk dicloset kuperhatikan getah yang mengalir dari lubang anusku, bukan main banyaknya sperma yang keluar. Rasa perih dan lecet membuat duburku senut-senut. Aku lega sudah mentuntaskan kontol Arab terakhir, aku kecapean, sungguh gila……!! Memang benar kata orang-orang kemaluan orang Arab gede-gede !! Kalau diladeni terus kita bisa teller, pegang sedikit, kemaluan mereka langsung tegang dan minta dilayani terus, minta terus tiada hentinya, sampai mulut atau lubang kita dower ! Seminggu setelah itu aku istirahat tidak melayani seorangpun ! Capek ! Quraish beberapa kali datang mau setoran sperma, aku bilang nanti dulu. Tapi bukan berarti aku kapok, masih banyak waktu dan masih banyak pemuda Arab lain yang menanti. Kemaluan orang Arab memang seperti dongeng, begitu besar, keras dan kuat main berkali-kali. Makanya tool Arab jadi terkenal dan aku sudah membuktikannya.

About sobatabc

I'm just an imperfect man.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s