Pengawal Merangkap Ajudan.

CURHAT

 

Cerita ini aku tulis berdasar curhat [mencurahkan isi hati] dari seorang sahabat-ku yang namanya harus aku rahasiakan. Sahabatku itu adalah seorang jenius dengan IQ entah seratus berapa atau berapa ratus.Berkat kepakarannya dalam bidang ilmunya dia dipercaya oleh orang yang berkuasa untuk memimpin suatu instansi yang strategis.Tetapi memang tidak ada manusia yang sempurna dan sahabatku ini adalah seorang yang suka-sejenis. Situasi jadi sulit bagi sahabat- ku, karena dia jatuh cinta pada pengawalnya yang merangkap sebagai ajudan-nya.Dibawah ini adalah kisah nyatanya.

 

[1. AJUDANKU

 

Sebagai seorang pejabat penting di suatu instansi pemerintah [ di suatu negara yang tak perlu kusebut namanya ] aku dilayani oleh seorang ajudan. Sebetulnya pengawal dan ajudan tidak sama.Biasanya seorang pejabat dilayani oleh ajudan [ADC=Aide de Camps] dan dikawal oleh seorang pengawal [Security].Tapi entah apa yang terjadi,aku dilayani dan dikawal oleh orang yang sama.Namanya unik : Triumvirat, panggilannya Afri. Aku tak mengerti,mengapa orang-tuanya memberi-nya nama itu. Nama Triumvirat sama uniknya dengan nama Prabu Revolusi atau Pangeran Punce.Triumvirat artinya “tiga lelaki” dan pengertiannya adalah suatu lembaga atau kelompok yang terdiri dari tiga orang lelaki yang bertugas untuk mengurus sesuatu – biasanya suatu pemerintahan atau suatu organisasi.

 

Usiaku masih muda.Bahkan mungkin terlalu muda untuk menduduki jabatan yang penting itu.Tapi,apa mau dikata,orang yang berkuasa yang menunjuk aku pada jabatan itu dan aku tak bisa menolaknya.Sebab aku memang punya kemampuan untuk menyelesaikan tugas-penting itu.Aku memang punya IQ tinggi dan mampu belajar cepat. Dalam usia di bawah 25 tahun aku sudah menyelesaikan program S-3 di luar-negeri dan menulis beberapa buku di bidang yang tak perlu aku sebut di sini. Sebab,cerita ini adalah cerita cabul,bukan cerita ilmiah,karena itu biarlah kita fokus pada masalah kecabulan saja.Itu lebih indah dan lebih nikmat, bukan?

 

Afri adalah anggota aparat berseragam yang terlatih dan berdisiplin.Usia Afri tak jauh dari umurku.Jika aku jalan bareng Afri berpakaian biasa,orang bisa mengira kami berdua adalah teman sejawat yang seumur atau teman kuliah yang sedang jalan-bareng.Tubuh kami juga hampir sama tinggi dan sama besar dan kami ber-dua sama-sama atletis.Kami berdua juga suka,bahkan gila olah-raga,dan pemuja tubuh indah. Karena itu, kami berdua selalu rajin dan intens melakukan latihan fisik dan latihan beban.Sekali-sekali, jika tugas ke luar kota aku juga latihan fisik dan latihan beban bareng Afri. Lari pagi [jogging] lima kilometer, push up dan sit up 1000 kali, dan latihan beban satu jam.

 

Meskipun kata orang aku punya IQ lebih dari rata-rata dan katanya aku termasuk berotak jenius – tapi aku dikarunai “kelebihan lain” [atau “kekurangan lain”],yaitu aku punya orientasi suka sejenis [gay,homosex] . Aku tak tahu ada berapa jenius yang homosex atau ada berapa homosex yang jenius.Yang pasti sejak aku kenal Afri aku sudah-jatuh hati pada pandangan pertama.Aku tak tahu apa yang begitu istimewa pada Afri.Tapi akhirnya aku harus mengakui bahwa Afri memang ber-wajah tampan,berkepribadian menarik,dan berpembawaan correct!Maklumlah dia berpendidikan militer dan seorang militer sejati! Afri juga pemuda yang cerdas ! Diam-diam aku sering ingin duduk-bareng atau makan-bareng Afri di cafe atau restoran.Tetapi waktu aku ajak Afri makan atau minum bareng dia mengatakan bahwa aturan kesatuannya tak mengizinkan dia berbuat begitu. Kata Afri :

 

“Maaf Pak. Saya bisa mengawal Bapak ke cafe atau restoran. Tapi saya harus duduk terpisah dari Bapak”.

 

Seperti yang lazim terjadi dengan orang yang sedang jatuh-cinta, makin hari aku makin “ngebet” saja pada Afri.Apalagi aku selalu berada dekat-dekat dengan Afri. Bahkan Afri sebetulnya berada dalam kekuasaanku. Makin hari juga terasa Afri makin tampan saja. Setiap berangkat atau pulang kantor, Afri [sebagai ajudan] duduk di mobil di kursi depan dan aku di kursi belakang[kiri].Hanya sedikit bagian tubuh Afri yang terlihat olehku dari kursi belakang mobil. Karena itu,diam-diam aku pindah duduk agak ke tengah kursi belakang mobil itu.Agar aku bisa mencuri pandang lengannya yang kekar atau wajah tampannya dari samping.Setiap kali Afri masuk keruang kerjaku buat menyerahkan atau mengambil surat atau berkas lain, diam-diam aku selalu mencuri pandang wajahnya yang tampan, tubuhnya yang atletis atau lengannya yang kekar!

 

“Agh! Afri memang tampan”, begitu aku berbisik dalam hati.

 

Kebetulan aku punya beberapa pasfoto Afri yang aku dapatkan sewaktu dia akan diusulkan jadi ajudanku. Pasfoto itu sengaja aku simpan di dompetku – bagaikan foto pacarku.Semua foto-fotoku bersama Afri pada beberapa kesempatan resmi aku minta pada sekretarisku.Alasanku “untuk dokumentasi”.Padahal aku hanya ingin menikmati foto Afri secara diam-diam dalam berbagai pose.

 

2. AKHIRNYA TERJADI JUGA

 

Pada suatu kali, mendadak aku harus berkunjung ke daerah. Semuanya terjadi mendadak.Sesuai perintah orang yang berkuasa,kami harus berangkat langsung siang itu juga dari kantor,sehingga aku hanya bisa membawa persediaan pakaian ganti yang ada di kopor kecil yang biasa disimpan di bagasi mobil dinasku.Entah, apakah Afri sempat bawa baju ganti. Kami harus naik pesawat dulu selama dua jam untuk sampai ke ibu-kota propinsi.Lalu jalan darat naik mobil selama dua jam untuk menjangkau lokasi yang akan ditinjau.

 

Setibanya kami di lokasi, hari sudah larut malam. Aku bermalam di sebuah hotel kecil, satu-satunya hotel di situ. Dalam rombongan ada beberapa pejabat tinggi dan semua ditempatkan di hotel kecil itu. Malam harinya aku lihat para ajudan pejabat tidur berpencaran.Ada yang di mobil, ada yang di lobby.Oleh sebab itu aku panggil Afri masuk kekamarku. Dengan nada tegas aku memerintah Afri :

 

“Afri. Kamu tidur disini”, aku sengaja bersikap tegas agar Afri tidak punya alasan menolak. Aku tahu, karena taat aturan, Afri memang selalu tidak mau bergabung denganku.Ketika itu aku tak punya niat-jahat pada Afri! Aku hanya ingin supaya Afri bisa mandi, tidur, dan istirahat dengan nyaman.Sebab, perjalanan kali itu memang amat melelahkan.

 

“Siap !’, kata Afri. Afri pun masuk ke kamarku dan dia tampak agak ragu. Diam- diam aku mengunci pintu kamar dan mencabut kuncinya. Aku tidak mau kalau malamnya – setelah aku tidur – Afri kabur keluar. Kunci aku masukkan ke dalam saku piyamaku. Piyamaku dirancang sedemikian rupa, sehingga nyaman dipakai tidur tapi tetap pantas dipakai keluar kamar atau makan pagi.Hotel itu hotel tua, pintu-pintunya masih menggunakan kunci konvensional – belum otomatis – karena itu kunci pintu itu bisa aku cabut.

 

“Afri kamu tidur disini saja”,aku menunjuk tempat disampingku,di tempat aku tidur. Afri aku lihat mau menolak. Lalu katanya :

 

“Tapi Pak…”, aku memotong kata-katanya. Kataku :

 

“Sudah disini saja !”, sambil aku menunjuk tempat di samping lokasi tidurku di tempat tidur king-size itu.Akhirnya Afri menurut.Dia meletakkan tas tangan yang biasa dibawa untuk menyimpan berkas dan barang-barangku di atas meja. Afri berpakaian dinas .Ternyata dia tidak sempat bawa baju ganti. Aku memerintah lagi. Kataku :

 

“Buka pakaian luarmu. Kamu tidur dengan pakaian dalam saja.Nanti baju dinas-mu kusut”, aku lihat Afri ragu. Karena itu aku mendekatinya dan membantu dia untuk membuka bajunya. Afri tersenyum. Katanya :

 

“Biar Pak,saya buka sendiri”, Afri melepaskan baju dan celana luarnya.Ternyata di bagian dalamnya Afri mengenakan celana boxer warna hitam dan singlet yang juga warna hitam.Kontras sekali dengan kulitnya yang putih-bersih.Aku bergidik terangsang! Afri tampak sexy sekali. Apalagi lengannya tampak besar dan kekar. Otot dadanya menonjol ke depan dan perutnya rata dan kencang. Diam-diam kontolku jadi menegang akibat melihat penampilan Afri yang jantan dan sexy.Aku mencium bau parfum dan deodoran! Tapi tak sedikit pun tercium olehku nuansa bau badan atau bau keringat Afri. Lalu kataku:

 

“Kamu mandi dan gosok gigi dulu.Di kamar mandi ada sikat gigi dua. Kamu pakai satu”, aku tahu bahwa sore itu pasti Afri merasa gerah karena belum mandi.

 

“Siap!”, jawab Afri. Afri pun masuk kamar mandi. Aku dengar suara kricik air dan suara orang gosok gigi dari dalam kamar mandi itu.

 

Ketika Afri keluar kamar mandi aku mencium bau harum sabun mandi dari tubuh Afri.Afri aku suruh berbaring di sampingku dan dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur disampingku.Jiwaku bergejolak dan berahiku naik ke otak.Jantungku berdebar keras.Aliran darahku seakan berdesir-desir,suaranya seperti terdengar di dalam telingaku.Aku mencoba bertahan dan bertahan terus agar imanku tidak runtuh.Tetapi ……..baru saja Afri membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur di sampingku……..syetan sudah menguasai aku! Aku tak tahan lagi!Aku tak mampu menahan gejolak berahiku lagi ! Aku “menyergap” Afri dan “merejengnya” untuk melampiaskan nafsu-berahi pada ajudan yang merangkap pengawalku itu. Samar -samar aku masih dapat mendengar bisikan Afri yang ragu. Sepertinya dia mau menyadarkan aku dari “rasukan syetan nafsu berahi itu”. Katanya :

 

“Pak..Pak…”,tapi aku antara mendengar dan tidak.Yang pasti aku maju-terus tak menghentikan tindakan cabulku itu! Aku bisa merasakan keraguan Afri. Apakah dia mau menurut atau melawan aku – untuk mempertahankan “kehormatan”nya !

 

Tapi …terlambat ! Aku sudah memeluk, melumat bibirnya dan menelanjanginya – memplorotkan celana boxernya yang ternyata masih dilapis dengan kancut minim di bawahnya.Lalu boxer beserta kancutnya terjela-jela di bagian paha Afri !!!.Aku masih “sadar” ketika aku menampak kontol Afri yang besar dan disunat ketat.Ah! Indah sekali!Aku suka itu!Kontol Afri dalam posisi setengah tegang dan mencuat dari hamparan jembutnya – bagai rudal Scud atau Patriot di padang pasir Perang Irak – Kuwait!

 

Akupun menyingkap singletnya, terlihat otot dadanya yang ketat dan menonjol ke depan berhiaskan sepasang puting susu yang tegang dan melenting.Puting susu Afri aku raba,aku remas, dan aku jilat dengan lidahku.Agh! Nikmat! Lalu mulutku menjilati dada dan perut Afri terus ke bawah sampai ke jembut dan kontol Afri dan ………!!! Antara sadar dan tiada aku melihat Afri yang terpana seperti orang yang kena sihir! Dia membiarkan saja aku berbuat seperti itu ! Aku nanar! Aku khilaf ! Aku panik ! Aku lupa bahwa aku pejabat tinggi, orang terhormat, dan aku lupa bahwa Afri itu adalah ajudanku – yang seharusnya aku justru menjadi panutan-nya.Seperti orang-orang besar yang dikagumi ajudannya.Seharusnya aku bukan menjadi pencabulnya – seperti mantan Presiden Israel yang diadili karena pernah mencabuli dua orang sekretaris perempuannya ! Dan aku….mencabuli ajudanku yang laki-laki….Agh…….!!!

 

Ketika aku sadar lagi ……..Ternyata aku sedang mengisap kontol Afri yang besar dan disunat ketat ! Lalu aku rasakan denyutan-denyutan di kontol Afri yang saat itu berada dalam mulut dan genggaman tanganku.Kemudian,olehku terpandang jembut Afri yang hitam, tebal, dan tumbuh luass,di pangkal kontolnya. Kemudian aku rasakan asin-manis rasa lendir kental yang semerbak bau pejuh ! Rupanya pejuh Afri muncrat di dalam mulutku! Agh! Jadi, rupanya aku sedang mengisap kontol Afri ! Yah! Kontol Afri,ajudan dan pengawalku,yang aku gandrungi sejak enam-bulan sebelum kejadian itu! Meski kejadian itu adalah “suatu kecelakaan”, tapi aku bangga dan bahagia,bahwa akhirnya aku berhasil menikmati kontol dan pejuh Afri – benar-benar dengan mulutku sendiri – with my very mouth!

 

3. MERENUNGKAN PERBUATAN

 

Sambil menjilati sisa-sisa pejuh Ari yang masih meleleh dari lobang kencingnya, aku berpikir keras. Setelah itu aku harus bilang apa pada Afri?Apakah aku harus minta maaf?Atau bersikap seperti tidak terjadi apa-apa? Agh!Biarlah diendapkan dulu, Nikmati dulu kontol dan pejuh Afri.Pasti nanti akan ada solusinya ! Apalagi aku jenius, bukan ? Demikian aku berpikir sendiri !

 

Sementara itu Afri berada dalam ketelanjangannya dan keterlentangannya – aku mendengar suara nafas Afri yang teratur. Afri sudah tertidur. Agaknya kegiatan-nya sepanjang hari itu dan kemuncratan pejuhnya membuat dia mengantuk dan tertidur – dalam keadaan terlentang dan bertelanjang-bulat ! Agh! Indah sekali ! Afri memang seorang pemuda yang indah !!! Apalagi jika dia sedang berbaring terlentang dan telanjang-bulat ! Aku suka itu !

 

Setelah puas mencabuli Afri,dengan handuk basah,aku bersihkan sisa-sisa pejuh yang berceceran di jembut,perut,dan paha Afri.Lalu dengan hati-hati aku pakai-kan lagi kancut dan celana boxer Afri yang terjela di pahanya. Aku memutuskan untuk tidak membicarakan insiden itu dengan Afri dan aku akan bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa!Esok paginya,aku bangun duluan,mandi,sholat dan berpakaian dinas.Ketika Afri bangun dia tergopoh-gopoh dan berkata :

 

“Maaf Pak! Saya terlambat bangun”, tapi aku menimpali.Kataku :

 

“Sudah tenang saja. Masih ada satu jam lagi. Mandi dan sholat saja dulu”

“Siap !”, jawab Afri ].

 

EPILOGUE ATAU AFTERMATH

 

Menurut cerita sahabatku,setelah kejadian itu Afri tak berubah sikap kepadanya. Afri tetap besikap hormat dan correct.Tetapi seminggu kemudian Afri melaporkan bahwa dia ditarik kembali ke kesatuannya dan penggantinya dua orang: seorang ajudan dan seorang pengawal.

 

Sahabatku pura-pura bersikap biasa-biasa saja. Meskipun sebetulnya nyawanya terasa dicabut.Tapi dia gengsi dan tak jujur pada dirinya sendiri. Seharusnya dia mengakui pada Afri bahwa dia sangat kehilangan Afri dan bahwa dia tak ingin ber -pisah dengan Afri. Tetapi agaknya sahabatku itu sudah jadi birokrat arogan dan tidak bisa lagi bersikap manusiawi. Apakah Afri ditarik karena dia melapor telah dicabuli ? Wallahu’alam bissawab.Tapi sahabatku yakin,bahwa sebagai seorang militer sejati – Afri pasti pandai menyimpan rahasia! Rahasia jabatan !

 

About sobatabc

I'm just an imperfect man.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s