Istruktur Fitnes

Seperti biasa, setelah selesai fitness aku bersiap-siap untuk mandi. Segera saja kubuka kaos dan celana trainingku. Dengan hanya memakai celana dalam aku mencuci muka terlebih dahulu kemudian minum dari botol Aqua yang kubawa..

Oke, saatnya mandi, pikirku. Kuambil handuk dan perlengkapan shower dari locker. Dan karena sudah sepi aku langsung saja melepas celana dalamku itu, sehingga kini aku benar-benar telanjang bulat. Suasana remang dan agak dingin membuat kontolku agak bangun. Rasanya malam itu aku betul-betul terangsang sejak latihan beban bersama Chad, instruktut baru di gym ini. Saat dia membantuku mengangkat beban, aku dapat mencium bau aroma keringat tubuhnya yang begitu maskulin. Bulu-bulu keteknya yang lebat tersembul keluar diantara lengan u can see nya.

Wajahnya yang kotak dengan alis mata yang tebal serta hidung yang mancung, sungguh membuatku jadi teringat akan Tom Cruise di film Top Gun. Dengan kaos ketatnya, Chad tak dapat menyembunyikan betapa besar dan bidang otot dadanya. Bahkan puting susunyapun terjiplak dengan tegas pada kaosnya yang sudah agak basah dengan keringat. Rasanya saat itu aku ingin sekali ngemut puting susunya, ingin sekali bisa kuremas dadanya. Bahkan saat dia membantuku mengangkat barbel, aku bisa melihat tonjolan burung jantan dibalik celana tipisnya. Seandainya saja..

Aku berusaha keras melupakan semua itu. Namun semakin keras usahaku, semakin ngaceng pula kontolku. Seperti tak mau berkompromi, kontolku seakan menagih untuk dikocok. Kepala burungku yang besar langsung saja menyembul dari balik kulup tipis yang menutupinya. Hal ini membuatku semakin terangsang. Segera saja burungku langsung tegang sekali, begitu tegak menghadap keatas. Dengan panjang batang sekitar 17,5 cm dan urat-urat yang begitu menonjol, membuatku sulit untuk menutupi keterangsangan diriku. Aku takut dan malu kalau nanti tiba-tiba ada orang yang masuk dan ingin mandi juga. Maklum saja, ruangan shower itu dipakai secara bersama-sama dan tanpa penyekat sama sekali.

Dengan semburan air hangat dan bermodalkan sabun cair aku mulai menggosok tubuhku dan berusaha membuat tubuhku serileks mungkin. Dalam hatiku berharap, semoga saja burungku dapat segera jinak sebelum ada yang masuk. Namun kenyataannya justru sebaliknya, tanpa sadar aku sudah mulai mengelus-elus kepala kontolku. Begitu ngaceng sekali dan akhirnya dengan gerakan naik turun, aku mulai ngocok dan berfantasi. Aghh.. rasanya sudah lama aku tidak pernah merasakan gejolak yang begitu menggebu seperti malam ini. Aku semakin meremas kepala kontolku, sampai benar-benar ngaceng luar biasa. Begitu panjang, besar dan keras sekali. Dibawah keremangan cahaya lampu tempat shower, aku bisa melihat kepala kontolku berkilauan akibat gel shower yang kupakai.

Sedang asyik-asyiknya aku berfantasi dan ngocok, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara yang ada dibelakangku.
“Wow, that must be nice body..”.
Aku menengok dengan kaget dan sambil menutupi burungku aku menjawab sekenanya saja.
“Oh kamu, Chad”.
“Baru mau mandi juga” tanyaku sambil menutupi kontolku yang lagi ngaceng berat.
“Iya, kamu sendiri?” dengan sorotan mata yang tajam dia bertanya dan sambil mencuri lihat kearah kontol yang kututupi dengan tangan dan busa sabun sekenanya.

Kuperhatikan secara sembunyi-sembunyi, Chad mulai melepaskan lilitan handuk putih dari pinggangnya. Bodynya sangat bagus. Kulitnya putih kecoklatan dengan lekuk tubuh yang sempurna. Otot-otonya kekar, dada bidang, bahu besar, biseps dan triseps yang sudah terbentuk, dan yang membuatnya semakin sexy adalah otot perutnya yang kekar dengan lekuk pantat yang mmh.. sangat menggoda. Aku tak berani melihat lebih jauh lagi, tepatnya aku tak berani melihat benda berbulu diantara selangkangannya. Pikirku, bagaimana kalau sampai dia tahu, aku melihat dirinya telanjang bulat dan kontolku ngaceng. Wah, pasti dia akan berpikir yang tidak-tidak, bisa-bisa dia nggak mau lagi berteman denganku.

Sedang susah payahnya aku berkonsentrasi membuang semua fantasi dari dalam kepalaku, tiba-tiba Chad bicara, “Kontol kamu lumayan juga”.
Sambil tersenyum dan mengambil posisi shower disebelahku, kukatakan, “Ah, bisa aja kamu Chad.”
“Eh, bener loh. Apa gue yang salah lihat, abis remang-remang dan kamu tutupin pake tangan sih..”, ledeknya.
Aku hanya nyengir dan berharap malam ini bisa menjadi the best night that I ever had.
“O ya? Kontol kamu juga panjang”, kataku sambil melirik kearah selangkangannya.
“Mmh.., kamu suka?”

Aku nyengir lagi sambil manggut-manggut kecil. Dari balik bulu-bulu lebat disekitar selangkangannya, aku dapat melihat dengan jelas bahwa Chadpun sedang ngaceng berat. Kepala kontolnya besar seperti topi baja, ujungnya agak bulat dan garisan sunat dileher kepalanya begitu tegas. Kuperkirakan panjangnya sama denganku, mungkin sekitar 17 sampai 19 cm. Batangnya yang agak gemuk dengan urat-urat yang besar membuat kontolnya semakin terlihat panjang dan besar. Entah bagaimana, tiba-tiba aku merasakan tangan Chad mulai meraba kedua pantatku.
Aku begitu menikmatinya, sampai kemudian dia berkata “Come on, get down on your knees and show me how much you like it.., suck it please!”
Kutatap matanya sebentar untuk memastikan perkataan yang baru saja kudengar. Kemudian Chad meletakan tangannya dipundakku dan menekanku, sehingga membuatku untuk segera berlutut menghadap kearah selangkangannya.
“Ayo dong Ric.., masak sih cuma dilihatin aja. Kamu mau kan isep punya gue, please..”, katanya sambil menyodorkan kontolnya kearah mulutku.

Tanpa berpikir panjang aku mulai memasukan kontolnya yang begitu panjang dan besar kedalam mulutku. Kurasakan Chad mulai memompa kontolnya, dengan menggerakan pantatnya maju mundur didepan mulutku. Tangannya yang begitu kekar memegang tengkuk kepalaku dan ia berusaha memasukan seluruh batangnya kedalam mulutku. Kepalanya yang besar membuat mulutku menjadi sesak, ditambah batangnya yang panjang dimasukannya sampai ke kerongkonganku. Hidungku sampai bersentuhan dengan bulu-bulu disekitar selngkangannya, begitu lebat dan kasar. Bulu-bulu disekitar biji dan pangkal batang kontolnya menggelitik hidungku, sehingga dapat kucium bau aroma maskulinnya.
“Come on Rico, take it all.. yeah.. argh.. argh..”.

Kepala kontolnya aku jilati dengan gerakan lidah memutar dan terkadang aku gesekan gigiku dikepalanya. Lubang kencingnya, aku mainkan dengan ujung lidahku. Dan semakin lama aku rasakan Chad semakin menggelora, kontolnya semakin ngaceng dan urat-urat disekitar kontolnya semakin mengembang dan membuatnya terlihat semakin besar.
“Oke Rico, sekarang giliran gue. Gue mau isep kontol lu!”, katanya sambil mengangkat pinggangku.

Langsung saja kontolku dipegangnya dan kepala kontolku langsung diemutnya. Bibirnya menjepit batangku dengan begitu kuat. Lidahnya memain-mainkan kepala kontolku. Bahkan sedotannyapun begitu kuat. Kakiku sampai lemas dan rasanya aku benar-benar tidak kuat untuk berdiri lebih lama. Sambil memegang kedua pahaku, Chad bergerilya dengan kontolku didalam mulutnya. Mulutnya digerakan maju mundur dengan hisapannya yang kuat, seolah dia mengocok burungku dengan gerakan mulutnya. Lidahnya begitu terlatih saat kurasakan dia menjilati seluruh bagian kepala dan leher kepala kontolku. Namun tidak cukup disitu saja, Chad tiba-tiba meraba dengan kuat selangkanganku. Dipegangnya bijiku kemudian dijilatinya dan disedotnya. Awalnya aku merasakan sakit, namun setelah itu aku merasakan nikmat.

Setelah dia mengetahui bahwa aku tengah menikmati permainannya, Chadpun menyelipkan jari-jarinya diantara pantatku. Selangkanganku menjadi begitu licin saat Chad mulai melumuri tangannya dengan sabun. Digosok-gosokannya mendekati lubang pantatku. Sampai akhirnya aku merasakan jari-jarinya berusaha merangsang sekitar anusku.
“You like it?”, tanyanya sambil berusaha memasukan jarinya ke dalam anusku yang sempit itu.
“Mmh.. yea.. argh..”, jawabku.

Kurasakan satu diantara jarinya telah memasuki anusku. Ditekannya begitu rupa dengan gerakan agak memutar untuk melebarkan lubang anusku. Dikeluarkannya jari yang sudah masuk, kemudian dimasukannya kembali, ditekan, masuk keluar dan direnggangkannya. Sepertinya aku telah salah menilai Chad. Kalau selama ini aku hanya berfantasi, ternyata Chad sudah jauh berpengalaman dengan jam terbang yang sudah tak diragukan lagi

“Oke Rico, gue rasa sudah waktunya buat elu..”.
Dengan was was kubertanya “Maksud lu..?”
“Gue mau rasain asshole elu yang kecil itu.., gue mau ngefuck lu!”
“Tapi.., gue belum pernah, dan.. Chad, punya lu kan gede..”
“Rilex aja.., ke bangku yang disana yuk!”, Chad mengarahkan mataku ke bangku panjang yang ada didekat ruang ganti.
Disuruhnya aku berbaring, dan diangkatnya kedua kakiku. Sambil berlutut, dia menjilati anusku. Lidahnya dimain-mainkan diatas lubang pantatku. Tiba-tiba dia berdiri dan ngangkang membelakangiku.
“Gue paling suka posisi 69 kayak gini, soalnya gue bisa bebas ngisep dan diisep. Enak kan Ric..,?’

Baru mau kujawab, tapi kontolnya sudah disiapkannya untuk memasuki mulutku. Jadilah posisiku kini ditindih oleh badannya yang gagah itu. Pahaku diganjalnya dibelakang sikunya yang kekar, sehingga ia dengan leluasa menhisap kontolku dan juga memainkan jari-jarinya dilubang anusku. Sesekali dilepaskannya kontolku dari mulutnya dan dia langsung menjilati anusku. Makin lama Chad makin berkonsentrasi di daerah lubang pantatku itu. Secara bergiliran, Chad memasukan jarinya dan menjilati anusku. Kurasakan kembali jari-jarinya memasuki anusku dan dengan kedua tangannya, dimasukannya jarinya. Jari telunjuk kanan kirinya dimasukan ke anusku dan ditariknya kearah yang berlawanan untuk melonggarkan anusku yang sempit itu, sambil meludahi anusku dimasukannya lidahnya kedalam rongga pantatku. Lidahnya diputar-putar menggelitik anusku dan kurasakan ada beberapa jari lain ikut masuk juga, masuk keluar, masuk keluar dengan dijilati, begitu terus.

“Kamu bener-bener masih virgin yah.., oke sekarang saatnya gue akan memberi elu latihan yang lain, mau kan?”, Chad langsung berdiri dan mengambil posisi berdiri menghadapi bokongku.
Kontolnya begitu tegang, panjang dengan kepala kontol yang begitu besar.
“Tapi Chad, gue belum pernah..”
“Tenang aja Ric, aku pelan-pelan kok. Kamu tarik nafas panjang dan rasain nikmatnya.. oke.”, katanya menenangkan diriku.

Sambil ngocok sendiri, Chad mulai mengeraskan batangnya yang memang sudah tegang itu. Ditekannya kontolnya keanusku, sesekali digesek-gesekannya. Dan, bless.. Dia memasukan kepalanya yang begitu besar dan batang yang ngaceng banget ke dalam anusku. Anusku langsung meregang, dan kontolku pun ikut menegang.
“Rilex Rico, fill it. Tarik nafas dan rasain kontol yang ada di anus lu.”
“Arghh.. rasanya.. panass.. Chad, arghh..”, kataku sambil tersengal-sengal.
“Sebentar lagi, pasti kamu akan merasakan kenikmatannya..”

Chad memaju mundurkan kontolnya, dengan gerakan memompa dia mulai ngefuck anusku. Dalam beberapa gerakan maju mundur, aku berusaha rilex dan menikmatinya. Ternyata benar, rasanya begitu menakjubkan. Aku benar-benar menikmatinya. Sambil memegang pergelangan kakiku, Chad mengangkat kakiku lurus keatas, dirapatkannya kedua kakiku.

“Mmrghh.. your ass.. really tight, sempurna sekali.. arghh.. arghh..”
“Arghh.., terus Chad, masukin yang dalam..”, pintaku.
“I will honey.. arghh.. arghh. I’m fucking your beautiful ass..”
“Aghh.. aghh..” nafasku tersengal sengal tatkala batang nya bergerak keluar masuk memompa anusku.
“Mmhh yes.. You have a real virgin tight ass.. mmh.. yeahh..”, sambil ngefuck dia terus bergumam memuji bokongku yang sexi dan anusku yang begitu kecil menjepit kontolnya.
“Fuck it hard.. aghh.. come on.. give me more.. aghh..”, kataku.

Tanganku memgang erat pinggiran bench tempatku berbaring. Dan sambil memegang pahaku Chad memompa anusku dengan begitu bersemangat, sesekali dia memukul pantatku.
“Relax.. fill it..”, katanya.

Aku sangat menikmati saat-saat kontolnya digenjot keluar masuk ke dalam anusku. Batangnya yang panjang membuatnya leluasa memainkan ritme keluar masuk kedalam anusku. Sesekali dia sengaja megeluarkan kepala kontolnya kemudian memasukannya kembali, solah-olah memulai kembali dari awal. Hal ini membuatku semakin ngaceng dan benar-benar horny banget. Saat kepalanya yang besar itu dimasukan berulang-ulang aku mulai merasakan lubang anusku mulai memanas dan itu membuatku bertambah horny lagi.

“Aghh.. gue mau keluar”, kataku sambil ngocok kontolku.
“Yeah..?”
“Fuck it, please.. harder.. harder..”, pintaku.
Chad semakin menambah kecepatannya, kontolnya yang panjang semakin dipercepat keluar masuk ke anusku. Kini pahaku dibiarkannya melayang, dia menunduk dan menghisap puting susuku. Dijilati dan digigitnya. Diciuminya dada serta leherku. Akupun dapat mendengar deru nafas Chad yang semakin memburu.

Dan akhirnya, “Arghh.., I’m cum in.. gue keluar.. arghh..”, kataku sambil ngocok dan menyemburkan air mani yang begitu banyak kearah dada Chad.
Dan tiba-tiba, “Oughh, me either Rico.. agrhh.. AGRHH..!”.
Aku merasakan semprotan sperma Chad yang begitu kuat dan hangat di sekujur tubuhku. Dengan tetesan yang kurasakan mengalir turun dari anusku ke bijiku kemudian ke selangkanganku aku melihat air mani Chad keluar begitu banyaknya. Putih, kental dengan aroma yang begitu masculine.

“Mhh.. Rico, I think your ass gonna kill my glans!”, katanya sambil bercanda dan mengerlingkan mata nakal kearahku.
“Well Chad, malam ini sepertinya gue nggak pengen berakhir.. gue pengen selalu ada didekat lu.”
“I’ll be yours, Rico”, katanya sambil memeluku dan mencium bibirku.
“And I think, I’m in love with you. Lu mau jadi boyfriend gue?”, tanyanya.
“Tentu Chad.., tentu gue mau!”, kataku sambil melingkarkan tangan di pinggangnya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Air Susu dibalas Air Mani

Cukup lama aku mengenal Pak Irwan. Laki-laki yang sangat baik dan dermawan. Karena beliaulah aku dapat meneruskan sekolah ke Lanjutan Pertama. Laki-laki tersebut membiayai sekolahku dari kelas 4 SD sampai sekarang. Dan bukan itu saja ketiga adikku juga. Laki-laki tersebut sangat budiman, aku banyak berhutang budi padanya. Inang tak bisa menahan harunya saat Pak Irwan mengulurkan bantuan pada keluargaku dan memberikan modal kepada Inang untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah.

Sejak meninggalnya Amang, kehidupan kami sangat memprihatinkan. Inang harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keempat anaknya. Sebagai anak laki-laki yang paling besar, aku sedikitnya terpanggil untuk membantu meringankan beban Inang, walau usiaku masih sangat-sangat muda untuk bekerja. Umurku 11 tahun dan sudah setahun yang lalu sudah meninggalkan bangku sekolah karena faktor biaya.

Dari hasil barang-barang bekas yang aku dapatkan, sedikitnya membantu Inang untuk memenuhi kebutuhan dasar kami. Dan seperti biasa aku berkeliling mencari barang-barang bekas dari tempat-tempat sampah orang kaya dengan karung goni yang selalu setia di atas pundakku, sementara sebuah gancu mengaduk-aduk tempat-tempat sampah tersebut, mencari barang bekas yang laku untuk dijual.

Setelah mengambil beberapa botol bekas yang berada di dalam bak sampah dan memasukkannya ke dalam karung goni, mataku yang begitu awas dengan barang-barang bekas melihat ember besar yang terletak begitu saja dalam posisi terbalik, kelihatan pecah pada sisi pantatnya.

Dengan sangat hati-hati, mengecek keadaan sekeliling dan merasa aman aku rasa bahwa tidak akan ada yang melihat akan aksi yang akan aku lakukan nantinya dan ditambah dengan dorongan oleh bisikan-bisikan nafsu untuk mengambil barang tersebut, aku langsung membuka kunci grendel pagar rumah tersebut dan memasukinya. Begitu beraninya diriku mengambil ember tersebut dan memasukannya ke dalam karung goni. Keberanianku langsung menciut tatkala mendengar suara keras membentakku dari arah belakang.

“He! Berani sekali kau mencuri di siang bolong begini”.

Tubuhku langsung lemas dan sedikit gemetar, berbalik melihat laki-laki di belakangku yang memandangku dengan tidak bersahabat, melototkan matanya.

“Maaf, Bang” ucapku dengan sura terbata-bata.
“Aku pikir emer ini tidak dipakai lagi” dengan suara gagap ketakutan.
“Letakkan lagi di tempatnya semula, kalau tidak saya panggil polisi”
“Maaf, Bang, jangan.. Jangan panggil polisi Bang” ucapku lagi memohon dan hampir menangis dan meletakkan ember bekas tersebut ke tempatnya semula.
“Sini kau!” bentak laki-laki tersebut dan saat aku mendekatinya, laki-laki tersebut langsung menarik kupingku, menjewernya dengan kuat.
“Kecil-kecil sudah jadi maling, besarnya mau jadi apa, ah?”
“Ampun Bang, aku pikir ember itu tidak dipakai lagi, aku baru kali ini melakukannya”.
“Sudah mencuri, bohong lagi” bentak laki-laki tersebut dan semakin kuat tangannya menjewer kupingku.
“Ampun Bang, ampun” ucapku memohon menahan sakit sehingga aku menangis.
“Kurang ajar, apa tidak pernah diajarkan orang taua kau, ah”

Aku hanya diam menunduk, laki-laki tersebut melepaskan tangannya pada kupingku dan memeriksa karung goniku.

“Apa kau tidak sekolah, ah” bentak laki-laki itu lagi dan aku mengangguk menjawabnya.
“Malas, ah?, mau jadi apa kau ini, sudah tidak sekolah, maling dan sudah besarnya mau jadi rampok yah?”
“Tidak Bang” jawabku.
“Lalu apa?”
“Inang tidak punya uang untuk menyekolahkan kami”

Laki-laki tersebut menatapku tajam, menyimak perkataanku, memastikan apa aku berbohong atau berkata benar padanya. Perasaan lega saat aku di suruh pergi juga akhirnya dan memenuhi janjinya untuk tidak akan menampakkan mulalu di sekitar rumahnya lagi. Berbagai sumpah serapah aku ucapkan dengan pelan pada laki-laki tersebut sambil meninggalkan pekarangan belakang rumahnya.

Sebulan kemudian tanpa sengaja aku bertemu dengan laki-laki galak tersebut dan sedikit terkejut saat laki-laki tersebut mengajakku ke rumahnya dan memberikan ember yang pernah aku incar beserta barang-barang bekas lainnya. Mimpi apa aku semalam, begitu banyak barang-barang bekas yang aku dapatkan hari ini, gumamku.

“Satu karung saja kau bawa dulu, yang satu tinggalkan dulu, nanti kau jeput”

Aku mengikuti saran laki-laki tersebut. Dan hari-hari berikutnya, laki-laki tersebut memberikan barang-barang bekas yang tidak dipakainya lagi kepadaku. Dugaanku ternyata salah, laki-laki tersebut ternyata sangat baik dan selalu menasehatiku. Aku jadi malu mengingat kejadian pertama kali itu dan beberapa kali meminta maaf padanya atas kekeliruanku. Karena ember bocor aku jadi berniat mencuri, karena ember bocor aku jadi malu dan karena ember bocor itu juga aku mengenal Pak Irwan.

Suatu hari, Pak Irwan melihat sendir keadaan keluargaku.

“Hanya rumah berdinding tepas inilah peninggalan Amang anak-anak” ucap Inang.
“Ido sangat membantu saya, penghasilannya dari barang-barang bekas itu bisa menambah untuk membeli beras dan lainnya, sementara sya bekerja di pasar jadi kuli angkat barang atau membantu pedagang menjual barangnya kalau dminta”.

Singkat cerita, aku beserta adikku diangkat Pak Irwan sebagai anak angkatnya, dan aku tidak perlu mencari barang-barang bekas lagi.

“Kau harus sekolah dan juga Adik-Adik mu, sekolah yang rajin biar pintar dan suatu saat kalau sudah kerja kan bisa bantu Inang” pesan Pak Irwan.

Walau aku bukanlah tergolong anak yang pintar, namun aku selalu menurut, mengikuti nasehat Bapak angkatku itu, dan juga Bapak angkat bagi ke tiga adikku, tapi bagimana dengan Inang? Apa Pak Irwan mengangkatnya sebagai anak? Padahal Inang jauh lebih tua dari Pak Irwan, atau Ibu angkat?, ah.. Mana mungkin, tapi jika Pak Irwan mau mengawini Inang, pasti kami akan tinggal di rumahnya yang besar, kami jadi orang kaya, tapi mana mungkin, Pak Irwan khan sudah punya isteri yang cantik dan baik hati, yang pasti kalau Pak Irwan kawin dengan Inang ceritanya akan berubah pastinya yah.

Karena usiaku yang sudah 11 tahun, aku dimasukkan Pak Irwan ke kelas 4 SD, padahal kelas 3 pun aku belum tamat, tapi karena dia seorang guru dan banyak kenalan, akhirnya aku diterima di kelas 4 SD walau harus dalam masa percobaan terlebih dahulu. Kami hanya disuruh belajar dan belajar, semua kebutuhan kami di subsidi Pak Irwan. Laki-laki tersebut pun memberi modal kepada Inang untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah, sehingga lebih membantu kami lagi.

Kata-kata yang mengandung makna berupa nasehat selalu disampaikan kepadaku sehingga memacuku untuk belajar lebih giat lagi agar cita-citaku tercapai dan akan menunjukkan kepadanya bahwa pertolongannya tidak sia-sia.

Setahun kemudian

Seperti biasa, sepulang sekolah aku mampir ke rumah Pak Irwan, masuk dari belakang rumah, seperti layaknya seperti rumahku sendiri, mencari keberadaan Pak Irwan, memberi kejutan kepadanya. Melihat laki-laki tersebut yang sedang duduk santai di sofa sambil menonton TV, akupun mendekatinya dengan perlahan.

“Kena” ucapku sambil menutup kedua matanya.

Pak Irwan menangkap kedua tanganku dan menariknya sehingga tubuhku terangkat ke depan, tangan laki-laki tersebut memegang celanaku, menariknya sehingga badanku terjatuh ke sofa. Pak Irwan ternyata tidak memberikan ampun kepadaku lagi, badanku digelitikinya.

“Akhh.. Ampun.. Ampun Pak” ucapku tertawa, kegelian, meliuk-liukkan badanku.

Keakraban begitu memang sering kami lakukan. Pak Irwan seperti Bapak kandungku, selayaknya keceriaan antara Bapak dan anak, dan hanya dengan Pak Irwan baru aku dapatkan. Laki-laki tersebut terus menggelitiki badanku, tidak menghiraukan aku yang memohon meminta ampun untuk menghentikan permainannya, aku sampai mengeluarkan air mata karena bahagia.

Laki-laki tersebut tersenyum, menghentikan permainannya, menatapku sejenak dan dengan tiba-tiba tangannya langsung mencaplok kontolku, meremas-remasnya.

“Geli.. Geli.. Pak..” ucapku lagi sambil tertawa.

Pak Irwan menarik tubuhku ke depan, meletakkan kepalaku di bantal kursi yang berada di bawah pusarnya dan kembali tangannya menjangkau kontolku, meremas-remasnya.

“Akhh.. Bapak gete (genit)” ucapku.

Laki-laki tersebut hanya tersenyum dan terus meremas-remas kontolku yang berada di balik celana. Mendengar sura desahan-desahan, mataku tertuju ke depan TV dan melihat permainan asyik laki-laki dan perempuan di atas ranjang, dan dalam keadaan telanjang bulat.

Bapak angkatku ternyata sedang menonton film porno dan usiaku yang baru 12 tahun, belum faham betul permainan tersebut. Aku menjadi tertarik dengan tontonan di TV tersebut. Pak Irwan tersenyum melihatku yang begitu serius menonton adegan ngentot.

“Seius sekali kau” ucap Pak Irwan memegang daguku.

Aku tersenyum, tersipu malu dan saat itu pula Bapak angkatku mengangkat bantal kursi dari selangkangannya, kontolnya naik ke atas, tegang dengan bulu-bulu yang lebat dan ikal. Pak Irwan tersenyum menatapku, aku baru sadar, ternyata Bapak angkatku telanjang bulat.

“Bapak, tidak malu” ucapku mengejeknya sambil tersenyum.
“Kenapa malu?, khan hanya ada anak Bapak di sini” ucapnya sambil tertawa, tangannya merangkul pundakku, kepalanya dirapatkan ke kepalaku dan Pak Irwan mencium pipiku.
“Akhh, bapah tambah gete saja” ucapku dan menghapus pipiku yang habis diciumnya.

Pak Irwan tertawa lagi, meraih tanganku dan meletakkan ke kontolnya.

“Pegang kontol Bapak, kontol Arido Bapak pegang juga” bisiknya

Tanganku merasakan batang keras tersebut, sementara Pak Irwan meremas-remas kontolku juga, merasa tak puas, laki-laki tersebut membuka retsleting celanaku dan mengeluarkan batang kontolku yang lemas.

“Wah, kontolmu ternyata panjang juga” ucapnya melihat kontolku yang menjulur dari lubang retsleting.

Tangan Pak Irwan menarik-narik ujung kontolku yang terkatup, kuncup. Aku termasuk orang yang tidak sunat. Gerakkan-gerakkan tangan Bapak angkatku yang meremas-remas dan mengocok-ngocok batang kontolku, membuat kontolku semakin bereaksi, hidup, membesar pada diameter batangnya dan semakin panjang dari bentuk semula dan kulit pada ujungnya melebar, seiring kepala kontolku yang membengkak, membesar.

“Wah, kalau Bapak tahu lebih dulu kau punya batang kontol yang besar dan panjang, Bapak langsung menggarap Ido” ucapnya sambil tersenyum.

Pak Irwan mencium pipiku lagi sebelum pergi meninggalkanku dan kembali tak lama kemudian dengan membawa boneka perempuan telanjang bulat tinggi dan ramping. Laki-laki tersebut tersenyum dan kembali duduk di sampingku.

“Bapak kenalkan dengan Madonna” ucapnya padaku memperkenalkan boneka tersebut dan memberitahukan setiap organ tubuh boneka tersebut.

Aku menolak saat Pak Irwan menyuruh untuk menghisap-isap puting payudara boneka tersebut, Bapak angkatku memberi contoh, dia langsung mengisap-isap puting payudara boneka tersebut, menjilatinya dan menarik-narik puting payudara boneka tersebut bergantian. Aku tertawa melihatnya. Bapak angkatku seperti bayi yang sedang menyusu pada boneka tersebut.

Beberapa lama kemudian, Pak Irwan memasukkan kontolnya ke dalam mulut boneka karet tersebut yang menganga lebar, tersenyum melihatku, tangannya terus menekan-nekan kepala boneka karet tersebut.

“Madonna mau merasakan kontol Arido, dia mau mengisap-isap kontol Arido” ucap Bapak Angkatku.
“Enak Pak?” tanyaku.
“Geli dan enak” jawab Pak Irwan sambil tersenyum dan membuka baju dan celana seragamku.

Aku merasakan kegelian saat mulut boneka tersebut keluar masuk memakan batang kontolku.

“Geli.. Geli.. Pak” ucapku.
Pak Irwan tersenyum sambil terus menggerak-gerakan kepala boneka tersebut.
“Pak.. Gelii” ucapku lagi.
“Akhh..” desahku pelan dan pendek.
Bapak angkatku mengangkat boneka karet tersebut, “Wah.. Air manimu, tertinggal di dalam mulut Madonna” ucapnya menunjukkan cairan kental seperti ludah namun lebih kental lagi.
“Anak Bapak, kecil-kecil sudah menghasilkan” ucap Pak Irwan lagi, menambah kebingunganku lagi. Laki-laki tersebut memelukku sambil mengelus-elus rambutku.

Pak Irwan mengajakku ke kamar mandi, mendudukkanku di sisi bak, sementara Bapak angkatku tersebut jongkok, tangannya meraih kontolku dan.. Dan.. Bapak angkatku tersebut menelan batang kontolku, menarik-nariknya dengan mulutnya, dengan gerakan cepat sehingga kontolku bertambah besar kembali dan memanjang. Pak Irwan mengocok-ngocok batang kontolku, merapatkan kedua bibirnya sehingga batang kontolku terjepit, hingga batang kontolku tenggelam samapai pangkalnya. Tanpa pengetahuan dan tidak tahuanku, aku membiarkan Bapak angkatku melakukannya. Kocokan-kocokan mulutnya pada batang kontolku semakin enak saja, geli rasanya.

Pak Irwan mengeluarkan batang kontolku dari mulutnya, dan lidahnya menari-nari, menjilati seluruh batang kontolku dari ujung, kepala kontolku sampai pangkalnya dan yang lebih enak lagi, saat Bapak angkatku menjilati biji kontolku, mengulumnya satu persatu sambil menarik-nariknya dengan mulutnya dan kedua biji kontolku ditelannya sekaligus dan menarik-nariknya untuk beberapa lama laki-laki tersebut melakukannya dan kemudian menelan batang kontolku berikut kedua biji kontolku secara bersamaan, kembali menariknya dengan pelan.

Akkhh.. Geli dan enak aku rasakan, hangatt..

Untuk beberapa lama Bapak angkatku melakukannya, mengisap-isap kontolku dan terus.. Terus dia lakukan hingga hal yang sama aku dapatkan seperti saat boneka karet tersebut menelan kontolku, aku merasakan gelii.. Gelii yang mengenakkan dan Bapak angkatku mengeluarkan batang kontolku dari mulutnya dan menunjukkan cairan kental dalam mulutnya. Cairan mani kata Bapakku dan langsung ditelannya.

Permainan berikutnya aku dapatkan, dengan waktu yang di atur oleh Bapak angkatku sendiri, sementara aku merasa ketagihan dengan permainan tersebut.

Hari yang telah ditentukan, rasanya aku ingin pelajaran sekolah cepat selesai, supaya aku dapat menemui Pak Irwan dan memintanya untuk mengajarkan permainan berikutnya. Seperti yang sudah di jadwalkan, kembali aku merasakan permaianan Madonna dengan asuhan Bapak angkatku, aku memperkosa lubang kemaluannya, akhh.. Sangat enak.. Enakk.. Enakk, Pak Irwan menyuruhku mendesah jika aku merasakan nikmat.. Dan aku melakukannya, sementara aku mengentot Madonna, Bapak angkatku menciumiku, mencumbu, bibirku, melumat bibirku. Dengan tekhnik-teknik dan ajarannya aku pun mulai membalas setiap cumbuannya. Hangat, nikmat aku rasakan saat bibir Bapak angkatku menyentuh bibirku dan melumat mulutku. Setelah selesai dengan Madonna, kembali Bapak angkatku mengambil alih posisinya, seperti biasa menelan batang kontolku, mengocok-ngocoknya dengan mulutnya, dan kembali air maniku muncrat di dalam mulutnya, dan ditelan langsung oleh Bapak angkatku tersebut.

Malam itu, Pak Irwan menyuruhku untuk ke rumahnya dan saat yang aku nantikan akhirnya tiba, kebetulan satu minggu itu aku tidak berjumpa dengannya, Pak Irwan mengantar istrinya pulang karena ada urusan keluarga katanya. Kami akan melakukannya malam itu sepuasnya, yah sepuasnya. Aku juga sudah sangat merindukannya terutama kerinduan mulutnya yang akan mengocok-ngocok kontolku yang membuatku kegelian, keenakan, kenikmatan, hingga tubuhku mengejang seiring dengan air maniku yang kental muncrat ke dalam mulutnya.

Pak Irwan langsung mengajakku masuk dan tanpa basa-basi lagi aku menelanjangi pakaianku, sementara Pak Irwan yang sudah bertelanjang dada dan hanya memakai sarung saja saat itu, langsung membuka sarungnya dan Bapak angkatku sudah tidak memakai apa-apa lagi. Tubuhnya yang bulat, padat berisi tanpa dibalut sehelai benangpun. Pak Irwan menarik tanganku dan kami berbaring di atas air bad yang sudah terbentang di depan TV. Bpak angkatku mengusap seluruh badanku dengan baby oil, mengocok-ngocok kontolku dengan minyak tersebut hingga kontolku bertambah besar dan panjang, berdiri tegak 90 derajat.

“Madonnanya mana Pak?” tanyaku.
“Kau tidak butuh lagi” jawab Bapak angkatku sambil tersenyum.

Bapak angkatku membaringkan badannya ke air bad, terlungkup dan menyuruhku untuk mengoleskan Baby oil ke punggungnya, ke pantatnya, kedua paha, betis dan kakinya, kemudian laki-laki tersebut menumpahkan sisa baby oil pada belahan pantatnya, meraba-raba lubang pantatnya, hingga terbuka lebar, dan aku pun menaiki tubuhnya sesuai permintaannya, keadaan licin tubuhnya membuat tubuhku meliuk-liuk di atas punggungnya.

“Enak Pak, enak sekali” ucapku memberi komentar, Pak Irwan tersenyum, dan memintaku untuk memasukkan kontolku ke dalam lubang pantatnya. Tanpa banyak tanya lagi aku melakukkannya dan menekan pantatku hingga batang kontolku amblas di dalam lubang pantatnya.

“Aakkhh..” desahku, betul-betul enak.. Nikmat.. Enakk.. Gelii..

Aku mulai menggerakkan pantatku perlahan, namun dasar nafsuku yang besar namun tenaga yang kurang, aku cepat mencapai puncak orgasme..

“Yah, istirahat dulu” saran Bapak dan akan aku lanjutkan kembali.

Aku tidak ingin berlama-lama beristirahat dan mengajak Bapak angkatku kembali untuk menyodomi lubang pantatnya dan aku berhasil melakukannya beberapa kali, sampai Bapak angkatku khawatir dengan fisikku yang tidak akan mampu lagi untuk melanjutkan permainan.

“Jangan dipaksakan, kita masih banyak waktu” ucapnya.

Aku yang sudah merasakan enak, geli dengan permainan yang barusan aku lakukan, meminta Bapak kembali untuk meyodomi lubang pantatnya dan Bapak angkatku tersebut kembali melayaniku.

“Permainan ini, betul-betul enak, gelii, gelii, Pak” ucapku lagi.

Bapak angkatku hanya tersenyum. Dan hari-hari berikutnya aku meminta Bapak untuk menyodominya, memuaskan nafsuku yang sangat besar, dan Bapak dengan setia melayaniku, kami saling bercumbu, berciuman, memacu nafsu kami yang tak habis-habisnya. Aku menyukai Bapak angkatku, sama halnya dengan beliau lebih menyukaiku daripada istrinya, dia lebih terpuaskan dengan laki-laki muda dengan kontol yang besar dan panjang.

Permainan kami terus berlanjut hingga sekarang, sepertinya terjalin perasaan cinta di antara kami, rasa sayang dan saling menyukai bukan antara anak dan Bapak lagi, tetapi mungkin seperti kekasih, kekasih sejenis, tidak ada sang istri. Adakalanya Bapak bertindak sebagai istri atau sebaliknya dengan diriku sendiri, kami saling memuaskan, memacu gairah kami yang lagi panas, apalagi aku mulai tumbuh sebagai laki-laki remaja, dengan perubahan diriku yang nyata, suara, tubuhku, dan organ-organ tubuhku yang lainnya.

Kontolku semakin besar dan dengan panjangnya bertambah beberapa senti, dengan bulu-bulu yang tumbuh subur di sekita kontolku dan selalu di cukur Bapak angkatku, sehingga botak. Dia sangat menyukainya. Apa yang dia sukai otomatis aku menyukainya, aku memberikan semuanya untuk kesenangannya karena dia begitu banyak menolongku dan keluargaku. Atau apa karena aku menyukai laki-laki tersebut sejak awal, atau mungkin karena aku mencintainyakah?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MMN 2

Adi menciumiku dan meremas-remas kontolku. Saya sedikit frustrasi, kenapa dia tak membiarkanku melepas celana dalamku saja? Sambil menepuk pantatku yang padat, Adi berkata, “Tunggingin pantatmu.”

Saya bingung tapi menurut saja. Saya yakin mereka takkan menyakitiku. Mereka itu hanya ingin ngentot denganku saja. Lalu saya merasakan benda tajam menggores celana dalamku, tepat di bagian pantat. SRET! Angin dingin berhembus masuk, menggeletik anusku. Rupanya, Adi sengaja melubangi celana dalamku agar dia bisa ngentotin saya tanpa melepas celana dalamku. Saya kecewa sekali karena saya masih juga tak diizinkan untuk bertelanjang bulat.

“Kamu akan menjadi piala bergilir kami, sayang,” bisiknya sambil mencubit putingku. AARGGH!! Tumben, Adi tidak lagi mmemanggilku ‘Anda’.

Rudi cepat-cepat merentangkan sehelai selimut usang di atas lantai yang kotor dan buru-buru berbaring dia atasnya. Kontolnya yang ngaceng sengaja dikocok-kocoknya agar ereksinya terjaga. Saya kemudian didorong ke arahnya. Saya mengerti bagaimana Rudi ingin mengentotinku. Maka saya merayap ke arahnya dan memposisikan lubang duburku tepat di atas kontolnya, wajahku menghadap wajahnya. Lalu pelan-pelan kontol itu pun amblas masuk.

“AARRGGHH!!” eran Rudi saat kepala kontolnya dicekik oleh otot anusku. Saya sendiri juga mengerang kesakitan saat kontol Rudi memaksa masuk.
“UUGGHH!!” Adi dan Parjo mengelilingi kami dan menyaksikan pertunjukkan kami sambil mengocok batang kontol mereka. Suara becek kocokan kontol mereka bergema dalam ruangan itu.
“AARRGGHH!!” erangku ketika kontol Rudi akhirnya PLOP! masuk. Baru kali ini anusku dientotin kontol. Tak pernah terpikir bahwa saya bakal merasakan nikmatnya dingentotin kontol.
“AARRGGHH..” erangku lagi, memutar-mutar kepalaku.

Rasa sakit mendera anusku, Rudi sementara itu mendorong-dorong kontolnya masuk, menginvasi anusku. Saya hanya meringis kesakitan sambil berusaha untuk mengangkat tubuhku sedikit. Namun terasa sulit sekali.

“AARRGGHH..!! UUGGHH!! Sakit, Mas.. AAHH..!!”
“.. Hhhooh.. Hhohh.. Tahan saja..” Erang Rudi.
“Nanti juga.. Hhhoohh enak kok.. Aaahh.. Uuugghh..” Rudi meraih dadaku dan meremas-remasnya.
“.. Hhhohh.. Saya paling suka.. Uuugghh.. Dada cowok.. Hhhososhh.. Putingnya kecil.. Hhhooh.. Merangsang sekali.. Hhhoosshh..”

Keringat mulai membasahi tubuh kami. Gaya negntot seperti itu sungguh menguras tenaga. Sambil sibuk mengentotin pantat perjakaku, Rudi menggenggam kontolku yang terbalut celana dalamku dan mulai mengocoknya dengan kasar. Berdua kami saling mengerang dan menggeliat-geliat.

“AARRGGHH..!!”

Saya membiarkan diriku dikuasai nafsu jahanam, nafsu antara sesama lelaki. Namun sungguh nikmat sekali rasanya, tenggelam dalam nafsu sejenis. Sayaa ingin Rudi menghabisi anusku, menghujamkan kontolnya sedalam mungkin.

“.. Hhhoohh.. Hhhoosshh.. Aaahh..”
“AARRGGHH..!!” erangku ketika tiba-tiba kontolku berkedut-kedut dan mulai berkontraksi.

Nafsuku yang kutahan sejak tadi akan meledak sekarang! Kepala kontolku membesar dan memuntahkan pejuh. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROTT!! Saya mengejang-ngejang dan menyebabkan kontol Rudi di dalam pantatku ikut mengejang.

“AARRGGHH!! UUGGH!! OOHH!! AAHH..!!” erangku sat orgasme menguasai seluruh inderaku.

Saya hanya merasakan kenikmatan yang luar biasa sementara kontol Rudi terus menyodomiku. Celana dalamku kontan basah semua dengan sperma. Terpicu orgasmeku, Rudi pun akhirnya keluar lagi, untuk yang kedua kalinya. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOT!! Tubuhnya terguncang-guncang dan sodokan kontolnya menghajar duburku tanpa ampun.

“AARRGGHH!! UUGGHH!! HHOOHH!! AAHH!!” Kami berdua benar-benar menikmati orgasme kami, sampai pada tetes terakhir.
“AARRGGhh.. ”

Dengan lemas, saya mencoba untuk bangkit berdiri. Kontolku mulai melemas dan bergelantungan, mengeluarkan sisa pejuh. Rudi berguling ke samping lalu bangkit, masih terengah-engah. Kukira semuanya telah selesai, namun tiba-tiba Parjo memelukku dari belakang, kontolnya yang ngaceng terasa sekali bergesekkan dengan pantatku.

“Gantian gue ngentotin loe,” serunya.

Tanpa membrikanku kesempatan untuk protes, Parjo langsung menancapkan kontolnya sedalam-dalamnya dalam lubang duburku. Saya hanya bisa berteriak, “AARRGGHH!!”

Bagaikan binatang buas, Parjo menguasai tubuhku. Gerakan ngentotnya mula-mula cepat, lalu lambat. Kemudian dia kembali mempercepat sodokannya, lalu melambat, begitu seterusnya. Saya hanya menjerit-jerit saat tiba pada ritme cepat, sedangkan ketika measuki ritme lambat, saya hanya mendesah saja. Parjo mmemang ahli mengendalikan ejakulasinya. Gaya ngentotnya yang unik terbukti ampuh untuk menahan laju orgasmenya. Dingentotin Parjo, membuat kontolku bangkit kembali.

“.. Hhhoohh.. Aaahh.. Hhhoosshh..” desahku ketika Parjo melingkarkan tangannya di sekitar batang kontolku dan mengocok-ngocoknya. Benar-benar nikmat sekali dikocok sambil dientotin.
Kata-kata kasar keluar dari mulutnya, “.. Aaahh.. Ooohh.. Bangsat! Ooohh fuck you! Hhohh.. Ngentot loe! Hhhohh.. Kontol! Aahh.. Pejuh! Aaahh.. Enak banget.. Hhhoohh.. Gue suka ngentotin.. Aaahh.. Cowok Cina kayak loe.. Hhhoohh.. Sudah putih, mulus lagi.. Hhohh.. Homo lagi.. Aahh..”

Selama bermenit-menit, dia terus meracau seperti itu. Suara yang hampir mirip suara tamparan dihasilkan dari tertumbuknya pantatku dengan tubuhnya, tiap kali Parjo menyodokkan kontolnya.

“AARRGGHH!!” teriaknya, dan tiba-tiba CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Pejuhnya muncrat tak terkendali, membasahi anusku. Rasanya di bagian dalam tubuhku sudah terlalu becek dengan pejuh Rudi dan Parjo. Pejuh mereka saling bercampur di dalam sana.
“AARRGGHH..!! UUGGHH!! OOHH!! AARRGGHH!!” Parjo terus menggenjot pantatku hingga kontolnya berhenti muncrat.

Sementara itu, tangannya tak henti-hentinya mengocok dan meremas kontolku dari balik celana dalamku yang basah itu. Meskipun saya baru saja ‘keluar’, nampaknya pejuhku akan kembali dimuncratkan.

“AARRGGHH!!” erangku sambil mencengkeram pinggangnya.

CCRROOT!! CCRROOTT!! CRROOTT!! Saat pejuhku tertumpah, tubuhku kejang-kejang dan bertumpu pada tubuh Parjo di belakangku. Dialah yang dengan sabar memegangiku dan menahan gejolak orgasmeku.

“AAHH.. UUHH.. OOHH.. HHOOSSHH.. AAHH..” CRROTT! Dan usailah semuanya.

Celana dalamku berbau tajam dengan sperma, dan tentunya lebih basah lagi. Begitu Parjo mencabut kontolnya, pejuhnya mengalir keluar dan turun ke pahaku. Saya masih tersengal-sengal dan bahkan tak mampu berbicara.

Tiba-tiba Adi mendekatiku dan mulai menciumiku dari belakang. Saya tahu apa yang diinginkannya. Dia pun ingin menyodomiku. Meksipun agak ogah berhubung saya sudah dua kali ngecret, namun saya kasihan juga padanya sebab sorot matanya nampak memohon sekali. Mau tak mau, saya biarkan Adi menyisipkan kontolnya masuk ke dalam anusku yang becek. Mudah sekali baginya untuk masuk. Dan terus terang, saya hampir tak merasakan rasa sakit apa-apa. Mungkin karena anusku sudah terbiasa, dan mungkin juga karena banyaknya pejuh yang melumasi lubangku.

Kembali, saya mendaki sebuah perjalanan menuju puncak orgasme. Adi pun ingin mengocok kontolku. Dia memaksa kontolku yang lemas itu untuk bangun sekali lagi. Saya hanya memejamkan mataku sambil menggeliat-geliat. Rasanya nikmat sekali merasakan tangannya meremas-remas kontolku. Kembali saya memasrahkan diriku dan membiarkan Adi mempermainkan kontolku. Sementara itu, pinggulnya sibuk bergerak-gerak seperti piston kereta api, memompa kontol ke dalam tubuhku. Kontol Adi merupakan kontol yang terbesar di antara mereka semua. Berhubung pantatku sudah banjir pejuh, Adi merasa hangat dan basah sekali menusukkan kontolnya di dalam tubuhku.

“.. Hhhoohh.. Aaahh.. Aaahh.. Hhhoosshh..”

Waktu terus berlalu sampai akhirnya saya merasakan gejala ejakulasi Adi. Tanpa dapat dicegah, Adi menggeram seperti hewan buas dan kepala kontolnya mengembang. Sedetik kemudian CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!

“AARRGGHH!! UUHH!! HHOOSSHH!! AARRGGHH..!!” Adi menumpahkan seluruh pejuh yang dimilikinya, napasnya berat dan terengah-engah. Kurasakan lubang anusku kaku dan menganga. Aliran pejuh masih terus saja mengalir keluar. Tiba-tiba, tiba giliranku untuk ngecret. Astaga, mereka benar-benar ingin menguras persediaan spermaku.

“AAGGHH!!”

Dan seperti biasa pejuh tersembur keluar dari lubang kontolku, meskipun tidak sebanyak yang tadi. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOT!! Namun orgasme yang kurasakan tetap nikmat.

“AAHH!! OOHH1!! UUHH!!” celana dalamku sudah tak sanggup lagi menampung spermaku. Sperma itu pun akhirnya menyerap keluar dan jatuh ke atas lantai, menciptakan genangan pejuh di sana-sini.

Setelah itu, tubuhku melemas dan Adi harus memapahku. Tak terkatakan betapa letihnya saya. Anusku menganga lebar, dan menumpahkan semua pejuh yang tersimpan di dalamnya. Tak ayal lagi, lantai bengkel itu hampir banjir dengan sperma. Bau seks begitu terasa dan menusuk. Kami semua berbaring di atas handuk saling berpelukkan. Saya menjadi pusat perhatian dan berbaring diapit di antara Adi dan Parjo.

Adi nampaknya suka sekali padaku. Tak henti-hentinya dia menciumiku dan meraba-raba sekujur tubuhku. Selama itu, celana dalamku masih juga belum dilepaskan padahal celana dalam itu sudah basah sekali berlumuran sperma. Tanpa perlu dijelaskan, kalian pasti sudah tahu bahwa tubuh kami semua masih dipenuhi keringat dan pejuh. Namun, kami tak peduli dna tetap saling berpelukkan. Adi menciumiku dan berbisik,

“Tahu enggak, sebenarnya Papamulah yang mengatur semua ini. ”
“Apa?” tanyaku tak percaya. Namun saya masih lemas sekali.
“Benar. Papamu itu langganan setia kami dan kami sering berhomoseks bareng-bareng. Dia hanya ingin kamu pun merasakannya agar kalain berdua nanti bisa saling negntot,” jelas Adi, tetap memelukku mesra.

Ternyata Papaku cabul sekali. Dia bahkan tega meminta 3montir seksi ini untuk mengambil keperjakaanku. Tapi tak apa. Saya sendiri kini sudah yakin akan homoseksualitasku. Nanti, setibanya saya di rumah, Papaku akan merasakan akibatnya. Saya akan mengentotin pantatnya sampai dia minta ampun. Aaahh.. Tunggu saja, Pa.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Proyek Biologi

Selama hampir setengah jam, Eddy menjelaskan panjang lebar tentang penelitian kami. Ketika sesi tanya-jawab dimulai, kami baru menyadari kenapa tidak ada perempuan yang hadir dalam acara itu. Seorang pria berusia 40-an berdiri dan mengajukan pertanyaan.

“Bagaimana cara kalian mengambil sperma? Apakah kalian saling mencoli kontol atau saling fellatio?” Tanpa malu, pria itu menggunakan kata ‘kontol’ dan ‘coli’.

Eddy dan saya langsung terkejut dengan pertanyaan itu. Tapi dengan tenangnya, Eddy berkata.

“Kami saling bermasturbasi. Kami menemukan cara itu sangat santai dan menyenangkan. Ada pertanyaan lain?”

Seorang pria yang lain berdiri.

“Kalau kalian menganggap penelitian itu menyenangkan, itu berarti kalian berdua terangsang?”
“Ya, kami terangsang. Kalau tidak, kami takkan bisa menyemprotkan sperma kami,” jawab Eddy, berusaha nampak tenang menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh tersebut.

Diam-diam, kontolnya mulai ngaceng berat. Saya dapat melihat tonjolan di balik celananya dengan jelas dari tempatku berdiri.

“Kami menginginkan peragaan langsung saat kalian mengambil sampel sperma kalian,” minta seorang pria.
“Peragakan bagaimana cara kalian saling bermasturbasi.”

Mendadak, seluruh penonton menjadi antusias, memaksa kami untuk memperagakannya. Eddy dan saya akhirnya menuruti permintaan mereka, lagipula kami memang diharuskan untuk memperagakan sesuatu. Kami berdua sangat gugup. Dengan agak gemetaran, kami bergerak ke tengah panggung. Eddy mulai membuka celana panjangku. Saat celana panjangku merosot turun ke lantai, para hadirin bersorak ramai.

Acara yang tadinya formal kini mulai berubah seperti acara strip-tease homoseksual. Giliranku untuk melepas celana panjang Eddy, juga diiringi sorak meriah penonton. Demikianlah, pelan-pelan, kami menelanjangi tubuh kami. Entah kenapa, kami mulai berani dan percaya diri. Saat itu, Eddy dan saya sudah benar-benar telanjang bulat dengan kontol ngaceng. Kontol kami tertangkap kamera dan ditayangkan di dalam monitor raksasa di belakang kami. Penonton berdecak kagum sambil berbisik-bisik.

Beberapa di antara mereka mulai membuka pakaian mereka. Ada yang bertelanjang dada, ada yang merosotkan celana panjangnya, ada yang mengeluarkan kontol mereka, bahkan ada juga yang benar-benar bugil seperti kami. Eddy dan saya kini yakin bahwa kami telah diundang hadir dalam sebuah acara homoseksual berkedok penghargaan untuk penelitian ilmiah. Kami sama sekali tidak merasa tertipu. Bahkan kami merasa bangga sekali, dan sekaligus terangsang! 😉 Beberapa pria mulai menyemangati kami.

Rasa malu mulai meninggalkan kami. Saya sengaja meliuk-liukkan tubuhku agar para pria yang menonton kami terangsang. Kubungkukkan tubuhku dan memperlihatkan lubang anusku pada mereka. Serentak mereka bersorak sambil berdecak kagum. Di layar monitor raksasa terpampang jelas anusku yang berkedut-kedut. Eddy mendekatiku dan langsung menciumiku dengan bernafsu. Kusambut ciumannya dan penonton pun bersorak. Eddy sengaja memutar tubuhnya agar kamera dapat menangkap gerakan liar lidah kami. Eddy menciumku dengan penuh hasrat dan nafsu. Bibirku disedot-sedot dn lidahku dijilat-jilat. Air liur kami bercampur dan kami tidak merasa jijik sekalipun.

Beberapa menit kemudian, adegan ciuman panas berakhir dan saya mulai bergerak turun. Bagaikan penari erotis homoseksual, saya meliuk-liukkan badanku seraya berjongkok. Pantatku menghadap ke arah penonton, menggoda mereka untuk menyodomiku. Lidahku menjilat turun, menyapu tubuh Eddy yang hangat. Eddy mendesah-desah nikmat dan suaranya bergema keras di ruangan besar itu berkat mikropon besar yang bergantung di atas kami. Penonton juga ikut mendesah-desah seraya merangsang tubuh mereka sendiri. Bagi yang mempunyai partner, mereka tidak segan-segan ‘make love’ di tempat itu. Ada yang berciuman dan ada pula yang saling meraba-raba.

“Aahh.. Oohh.. Hhoohh.. Aahh..” desah Eddy.

Kembali suaranya dipantulkan ke setiap sudut ruangan oleh mikropon itu. Para penonton mendesah mengikutinya. Kepala kontol Eddy sudah telanjur basah dengan cairan precum. Beberapa tetes precum telah berjatuhan ke atas lantai berkarpet. Buru-buru saya memposisikan lidahku di bawah kepala kontol itu agar sisa precum dapat terselamatkan. Mm.. Enak sekali. Lidahku menyapunyapu bagian bawah kepala kontolnya, membuat Eddy kembali mendesahkan kenikmatan yang dirasakannya.

“Oohh.. Hhoosshh.. Aahh..”

Saya terus saja menjilati kepala kontol itu dan kuperas cairan kelelakiannya itu. Eddy mengerang-ngerang sambil menggenggam pundakku. SLURP! SLURP! SLURP! Ah, nikmat sekali kontol Eddy. Precum-nya mengalir masuk ke dalam mulutku seiring dengan hisapanku. SLURP! SLURP.

“Aahh.. Aahh..” erangnya, kontolnya semakin menegang.
“Aahh.. Oohh..” Eddy mulai giat menggenjot mulutku.

Dengan pasif, saya hanya berjongkok di hadapannya dan membiarkannya memakai mulutku sebagai pelampiasan hasrat homoseksualnya. Precum yang membanjiri mulutku terasa semakin banyak seiring dengan berjalannya waktu.

Perubahan drastis pada tubuh Eddy mulai kurasakan. Napas yang semakin memburu dan kepala kontolnya yang membengkak adalah gejala-gejala dari orgasme. Eddy akan segera berejakulasi dan takkan dapat dihentikan.

“Aahh.. Oohh.. Endy.. Aahh.. Gue mau.. Ngecret.. Aahh.. Bersiaplah.. Aahh.. Oohh..”

Dan CCRROOTT!! CRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!

“AARRGGHH!! AARRGGHH!! OOHH!! UUGGHH!! AARRGGHH!!”

Sperma Eddy ditembakkan bertubi-tubi tepat ke dalam kerongkonganku. Saya tak perlu bersusah-susah untuk menelannya sebab pejuh hangat itu langsung meluncur ke dalam perutku. Penonton bersorak-sorak ramai dan menyemangati Eddy. Mereka senang sekali melihat Eddy ngecret di dalam mulutku. Kepuasan mereka dapat disamakan dengan kepuasan para penonton melihat bola ditendang masuk gawang dan gol. Eddy terus saja mengerang dan mengejang-ngejang. Tubuhnya berkilat-kilat dengan keringat dan dadanya bergerak naik-turun.

“Aahh..” Lalu Eddy menarik kontolnya keluar.

Saya merasa seperti pelacur dengan pejuh di mulut saya, tapi saya suka. Tanpa malu, saya berbalik dan membiarkan kamera menyorot mulutku yang belepotan pejuh. Para penonton berdecak-decak seraya berbisik-bisik.

Untuk acara berikutnya, pihak panitia menyediakan sebuah meja panjang yang kokoh. Sebuah kaemra tambahan juga di pasang di bagian atas panggung. Saya tidak pernha bermimpi bakal menjadi bintang porno homoseksual dan disaksikan banyak orang. Ketenaran itu memang mengasyikkan. Dan tibalah untuk acara berikutnya. Eddy dan saya kembali naik ke atas panggung.

Saya berjalan agak mengangkang sebab di dalam anusku telah dipasang sebuah kamera mini. Kamera itu tersambung dengan monitor raksasa yang dikendalikan jarak jauh. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran close-up dari kontol Eddy yang akan sibuk menghajar lubang anusku. Tubuhku agak menggigil. Bukan karena gugup, tapi karena AC ruangan itu yang terasa semakin dingin. Apalagi saya ‘kan telanjang bulat. Para penonton menatap tubuhku dan Eddy dengan sorot bernafsu.

Kini hampir sebagian besar dari para penonton sudah bertelanjang bulat. Sebagian mendapat partner kilat, sebagian lagi threesome atau orgy, dan sisanya lebih memilih untuk solo. Beberapa pria telanjang terlihat di antara bangku penonton sedang sibuk menghisap kontol partner mereka masing-masing. Desahan-desahan cabul pun terdengar, padahal acara utamanya masih belum dimulai.

Lampu di ruangan itu mulai diredupkan sementara lampu di panggung utama dinyalakan. Semua mata tertuju pada Eddy dan saya. Eddy telah membaringkan tubuh telanjangku di atas meja panjang yang telah disediakan. Kedua kakiku direntangkan lebar-lebar. Monitor raksasa langsung menayangkan posisis kami dari atas. Tampak wajahku tersenyum mesum dengan penuh antusiasme. Eddy berbisik padaku bahwa dia akan segera membor lubangku. Saya mengangguk dan bersiap untuk menerima kontolnya. Dan acara pun dimulai.

Kontol Eddy yang menempel di lubang anusku mulai memaksa masuk. Rasanya agak sakit saat kepala kontol itu bergerak masuk. Anusku dipaksa untuk menelan kepala kontol itu. Rasa sakitku bertambah sebab kami tidak memakai pelicin. Bibir anusku bergesekkan dengan kontol Eddy dan saya pun mengerang.

“AARRGGHH..” Selama bermenit-menit, Eddy berjuang untuk mendorong kontolnya masuk. Saya berusaha sekuatku untuk membuka anusku namun tetap saja susah.
“AARRGGHH!!” Entah kenapa, kali ini terasa agak susah.

Eddy yang mulai frustrasi langsung saja menyodomiku kuat-kuat, walaupun kontolnya belum masuk sepenuhnya. Jadi dia menyodomiku dengan kepala kontolnya saja. Rasanya tetap saja sakit dan nikmat.

“AARRGGHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!!” Saya menjerit-jerit sekuat-kuat, meronta-ronta. Kudengar para penonton mulai berkasak-kusuk dan berkomnetar.
“Oohh.. Hhoohh.. Aahh..” desah Eddy, terus memaksakan kontolnya.

Sambil menyodomiku, kontol itu terus bergerak maju. Lubang anusku ebrkedut-kedut, menahan sakit. Terasa sekali bahwa bibir anusku mulai lecet. Meskipun tidak berdarah, sakitnya sangat terasa. Tapi saya malah sangat menikmatinya. Bukannya saya sado-masochist, tapi saya merasa nikmat sebab sakit itu ditimbulkan dari ngentotan kontol. Jadi tentu saja saya terangsang:.

“AARRGGHH!!” Eddy berteriak saat lubangku akhirnya jebol. PLOP.
“Hhoohh.. Hhoohh.. Hhoohh..” Eddy terus mendesah-desah, menahan kenikmatan yang tak terkira saat anusku menjepit batang kontolnya. Cairan precum mulai membanjiri anusku untuk melumasi jalan kontolnya.

Di monitor raksasa, kini ditayangkan kontol Eddy yang sedang asyik menyodomiku. Kamera mini did alam anusku telah dihidupkan dan menangkap setiap gerakan kontol Eddy. Saya, terengah-engah, menyaksikan monitor itu dan menjadi semakin terangsang.

“Aahh.. Aahh.. Fuck me! oohh.. Ngentot.. Aahh.. Kontol.. Aahh.. Ngentotin gue.. Aahh..” Saya melontarkan kata-kata jorok seperti cowok murahan.
“Aahh.. Oohh..” Para penonton mendesah-desah melihat kontol Eddy menghajar anusku. Cipratan precum menempel di lensa kamera mini itu sehingga gambar di monitor menjadi agak kurang jelas.

Saat kutolehkan kepalaku ke arah penonton, saya disuguhkan adegan-adegan panas yang membuat kontolku semakin ngaceng. Semua penonton kini asyik terlibat dalam adgan seks mereka masing-masing. Ada yang sibuk mengentot, ada yang dingentot, ada yang menghisap kontol, ada yang dihisap kontol, ada yang coli, ada yang asyik meraba-raba badannya. Semuanya sedang berhomoseks. Sungguh sangat erotis.

“Aahh.. Oohh.. Aahh..” Suara desahan mereka bergema di ruangan itu dan dikencangkan lewat speaker.
“Aahh.. Aahh.. Aahh..”

Suasananya terlalu ‘panas’. Saya tidak tahan lagi. Rasa nikmatku akibat disodomi kini bertambah berlipat ganda. Kurasakan anusku licin dengan precum Eddy. Kontolku yang ngaceng bergesekkan dengan perut Eddy yang rata. Kontolku berdenyut-denyut sambil melelehkan precum. Aahh.. Saya tak tahan lagi. Anusku sedang disodokin kontol, kontolku dicoli’in perut Eddy, dan suasana di sekitarku penuh dengan kebejatan dan kecabulan. Siapa yang tahan.

“Aahh.. Oohh.. Eddy.. Aahh.. Gue.. Ngecret.. Aahh..”

Dan kontolku pun menembakkan pejuhnya. CCRROTT!! CRROOTT!! CRROOTT!! CCRROOTT!! Badanku mengejang-ngejang dan menggeliat-geliat. Kontraksi otot anusku mencekik kontol Eddy dan membuatnya memuntahkan pejuhnya.

“AARRGGHH!! OOHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!!” erangku, terengah-engah.

CCROOTT!! CRROOTT!! Pejuhku menyembur ke atas dan mendarat kembali di atas wajah dan tubuhku. Tubuh Eddy juga terkena cipratan pejuh saya. Oh, pokoknya merangsang kontol, deh. Aahh.. CCRROOTT!! CRROOTT CRROOTT!!

“AARRGGHH!!” Eddy mengerang keras sekali dengan kontolnya jauh di dalam badanku.

CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Dan Eddy-ku pun ngecret.

“AARRGGHH!! OOHH!! AARRGGHH OOHH!!”

Monitor raksasa menayangkan kontol Eddy yang memuncratkan pejuhnya di dalam anusku. Namun, gambarnya langsung berubah putih sebab kamera mini itu sudah dibanjiri pejuh Eddy yang putih dan hangat. Tayangannya pun segera diubah untuk menangkap ekspresi wajah Eddy yang kesakitan bercampur kenikmatan saat kontolnya berorgasme di dalam diriku.

“AARRGGHH!!” CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!

Hampir pada saat yang bersamaan, dari barisan penonton terdengar erangan-erangan orgasme.
“AARRGGHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!!” Satu demi satu menggeliat-geliat. Bahkan muncratan pejuh sesekali terlihat dengan jelas. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!
“UUGGHH!! OOHH!! AARRGGHH!!” CCRROOTT!! CCRROOTT!! Para penonton berorgasme dan berejakulasi. Tanpa segan-segan, mereka menyuarakan kenikmatan mereka dan memuncratkan pejuh mereka. Ah, sungguh tak terbayangkan.
Pelan-pelan, suasana mulai menjadi tenang kembali. Eddy membantuku bangun. Pejuhnya langsung meleleh keluar dari anusku yang menganga seperti angka 0. Aahh.. Suasana di ruangan mewah itu masih berbau pejuh dan keringat. Butuh hampir setengah jam sampai semua dari kami kembali berpakaian rapi. Sisa-sisa pejuh pun sudah dibersihkan oleh tim kebersihan yang sengaja diewa oleh tim panitia. Eddy mengakhiri acara itu dengan berkata.

“Dan demikianlah penelitian kami tentang sperma. Saya harap Anda sekalian menikmatinya.”
Dan para penonton menyambutmnya dengan tepuk tangan yang riuh. Satu jam kemudian diisi dengan foto bersama dan salam-salaman. Eddy dan saya capek sekali saat semua hadirin telah meninggalkan ruangan itu.
Tim panitia pun mendatangi kami. Kami diberitahu bahwa semua rekaman yang mereka ambil pada hari itu akan dikompilasikan menjadi sebuah video porno homoseksual dan akan dijual ke luar negeri. Kebayang gak sih? Jadi bintang gay porn dalam semalam? Mimpi apa kami semalam? 😉 Sayangnya video porno itu tak bisa dipasarkan di dalam negeri dikarenakan KUHP anti homoseksual yang baru dan norma-norma kesusilaan dalam masyarakat kita.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Om Usman

Om usman itu adik tiri ibuku, dia tinggal di rumah sejak dia mulai SPG (Sekolah pendidikan guru). Waktu itu aku masih kecil, masih kelas 5 SD. Salah satu kebiasaan om usman yang tanpa sengaja aku ketahui adalah dia Om usman itu adik tiri ibuku, dia tinggal di rumah sejak dia mulai SPG (Sekolah pendidikan guru). Waktu itu aku masih kecil, masih kelas 5 SD. Salah satu kebiasaan om usman yang tanpa sengaja aku ketahui adalah dia selalu tidur dengan telanjang bulat. Waktu itu malam hari, di rumah kedatangan saudara papa, jadi aku dan papa pindah tidur ke kamar atas tempat om usman tidur.

Mungkin dia lelah sehingga dia sama sekali tidak tahu saat aku dan papa masuk ke kamarnya. Papa menghidupkan lampu kamar dan saat itulah aku pertama kalinya melihat laki-laki dewasa telanjang. Sejak saat itu aku selalu terbayang kejadian itu, dan suatu malam memutuskan untuk pindah tidurnya ke kamar om usman yang memang adem kalau malam hari karena terletak di lantai 2 yang setengah terbuka.
Aku berjalan pelan menaiki tangga, dan kemudian membuka pintu kamarnya. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan saat itu, tapi dia sangat terkejut saat melihatku masuk membawa guling. Lampu meja belajarnya masih menyala sehingga masih terlihat tubuh telanjangnya dan saat itu aku sangat ingat kontolnya sedang ngaceng penuh. “Adi mau tidur sini ya om,” ujarku tanpa memberi kesempatan Om Usman untuk bangun dari tempat tidurnya dengan langsung merebahkan diriku di kasur. Om Usman tampak bingung, tapi akhirnya dia tetap di kasurnya. “Adi, pintunya dikonci aja dulu. Nanti ada yang naek kayak malem-malem itu sama papa,” kata om usman. Aku kunci pintunya lalu kembali ke tempat tidur, dan menghadap dirinya yang sepertinya agak canggung.

Lalu aku memegang batang kontolnya yang masih ngaceng dan om usman sama sekali tidak menyuruhku melepaskannya. “Ini apa om?” tanyaku sambil mengusap-usap jembutnya, saat itu aku sudah tau kalau itu jembut tapi aku kan hanya pura-pura. “Jembut,” ujarnya dengan suara yang sangat pelan. Jembut om usman aku usap-usap, kadang aku tarik-tarik biar lurus. Jembut om usman memang sangat lebat, mungkin pengalaman pertama ini yang membuatku selalu bernafsu kalau melihat cowok yang berjembut sangat lebat. “Kok jembutnya tumbuh juga ya om di titit,” kataku sambil mendekatkan wajahku ke batang kontolnya terutama di bagian pangkal yang ditumbuhi jembut. Lalu aku memegang buah pelernya dan juga dipenuhi bulu-bulu jembut.

Lalu aku memegang-megang batang kontolnya dan tanpa sengaja aku membuat gerakan mengocok yang sama sekali tidak aku sadari kalau itu adalah cara orang mengocok. Kadang batang kontol aku putar-putar sambil aku rebahan di kasur. “Di, di lepasin dulu,” ujar om usman. “Kenapa om?” tanyaku tanpa mau melepas. Nampaknya om usman tak bisa menunggu berlama-lama lagi dan muncratlah spermanya berkali-kali dari lobang kencingnya, sebagian kecil ada yang mengenai jari-jariku yang masih melingkar di batang kontolnya yang berwarna ungu tua dan berurat kekar. “Kok om usman kencing sih?” tanyaku penuh dengan keheranan. Om usman masih belum menjawab, nampaknya dia masih mengatur nafasnya. Setelah itu dia berkata “Kalo sudah besar, nanti kencingnya kayak gini di,” “Oh gitu, tapi kok lengket ya,” “Eh jangan dipegang, tunggu..” Om usman lalu bangkit dari tempat tidur, dan dia mengambil sebuah kain dari balik kasur. Dia mengelap tanganku dan juga spermanya yang berhamburan di perut dan dadanya. “Adi jangan bilang siapa-siapa ya?” ujarnya. Aku mengangguk mengiyakan.selalu tidur dengan telanjang bulat. Waktu itu malam hari, di rumah kedatangan saudara papa, jadi aku dan papa pindah tidur ke kamar atas tempat om usman tidur.

Mungkin dia lelah sehingga dia sama sekali tidak tahu saat aku dan papa masuk ke kamarnya. Papa menghidupkan lampu kamar dan saat itulah aku pertama kalinya melihat laki-laki dewasa telanjang. Sejak saat itu aku selalu terbayang kejadian itu, dan suatu malam memutuskan untuk pindah tidurnya ke kamar om usman yang memang adem kalau malam hari karena terletak di lantai 2 yang setengah terbuka.
Aku berjalan pelan menaiki tangga, dan kemudian membuka pintu kamarnya. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan saat itu, tapi dia sangat terkejut saat melihatku masuk membawa guling. Lampu meja belajarnya masih menyala sehingga masih terlihat tubuh telanjangnya dan saat itu aku sangat ingat kontolnya sedang ngaceng penuh. “Adi mau tidur sini ya om,” ujarku tanpa memberi kesempatan Om Usman untuk bangun dari tempat tidurnya dengan langsung merebahkan diriku di kasur. Om Usman tampak bingung, tapi akhirnya dia tetap di kasurnya. “Adi, pintunya dikonci aja dulu. Nanti ada yang naek kayak malem-malem itu sama papa,” kata om usman. Aku kunci pintunya lalu kembali ke tempat tidur, dan menghadap dirinya yang sepertinya agak canggung.

Lalu aku memegang batang kontolnya yang masih ngaceng dan om usman sama sekali tidak menyuruhku melepaskannya. “Ini apa om?” tanyaku sambil mengusap-usap jembutnya, saat itu aku sudah tau kalau itu jembut tapi aku kan hanya pura-pura. “Jembut,” ujarnya dengan suara yang sangat pelan. Jembut om usman aku usap-usap, kadang aku tarik-tarik biar lurus. Jembut om usman memang sangat lebat, mungkin pengalaman pertama ini yang membuatku selalu bernafsu kalau melihat cowok yang berjembut sangat lebat. “Kok jembutnya tumbuh juga ya om di titit,” kataku sambil mendekatkan wajahku ke batang kontolnya terutama di bagian pangkal yang ditumbuhi jembut. Lalu aku memegang buah pelernya dan juga dipenuhi bulu-bulu jembut.

Lalu aku memegang-megang batang kontolnya dan tanpa sengaja aku membuat gerakan mengocok yang sama sekali tidak aku sadari kalau itu adalah cara orang mengocok. Kadang batang kontol aku putar-putar sambil aku rebahan di kasur. “Di, di lepasin dulu,” ujar om usman. “Kenapa om?” tanyaku tanpa mau melepas. Nampaknya om usman tak bisa menunggu berlama-lama lagi dan muncratlah spermanya berkali-kali dari lobang kencingnya, sebagian kecil ada yang mengenai jari-jariku yang masih melingkar di batang kontolnya yang berwarna ungu tua dan berurat kekar. “Kok om usman kencing sih?” tanyaku penuh dengan keheranan. Om usman masih belum menjawab, nampaknya dia masih mengatur nafasnya. Setelah itu dia berkata “Kalo sudah besar, nanti kencingnya kayak gini di,” “Oh gitu, tapi kok lengket ya,” “Eh jangan dipegang, tunggu..” Om usman lalu bangkit dari tempat tidur, dan dia mengambil sebuah kain dari balik kasur. Dia mengelap tanganku dan juga spermanya yang berhamburan di perut dan dadanya. “Adi jangan bilang siapa-siapa ya?” ujarnya. Aku mengangguk mengiyakan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Satpam Bank

Namanya Jon Hutabarat, nama depannya kayak nama dari orang dari daerah barat. Tapi itu nama aslinya dan nempel di name tag seragam satpamnya yang ketat. Sebagai satpam bank, dia sedikit beda. Kalau satpam-satpam lain biasanya tinggi besar sedangkan dia sedikit pendek, aku rasa tingginya kurang dari 170 cm. Kulitnya putih banget dengan tangan yang berbulu tidak terlalu lebat.

Wajahnya ganteng dan cute tapi terlihat banget muka bataknya yang keras dengan bibir yang tidak terlalu tebal berwarna kemerahan. Cambangnya dibiarkan tumbuh dengan rambut yang cepak, kesannya dia laki-laki banget. Kalau dari belakang dia sangat menyenangkan untuk dilihat. Badannya terlihat tegap dan pantatnya seksi banget, keras dan agak menonjol apalagi dia pakai celana satpam yang ketat sehingga cetakan celana dalamnya terlihat. Belum lagi kalau di lihat dari depan, tonjolan kontolnya terlihat besar.
Pernah suatu siang aku kesana, aku melihat dia sedang berdiri dekat pintu. Entah apa yang membuat dia begitu, tapi aku melihat batang kontolnya sedang ngaceng tercetak jelas di celananya dengan posisi miring dan aku semakin yakin dia nggak pakai celana dalam saat itu karena kepala kontolnya juga tercetak. Tapi nggak lama dia masuk dan kemudian keluar lagi dengan keadaan normal.

Aku melihat dia sekitar 2 minggu saat aku harus ke bank BRI untuk transfer. Kesan pertama melihat dia yang saat itu sedang berada di depan box ATM bener-bener ngebuat aku gak kuat. Aku terus putar otak, bagaimana caranya agar aku bisa mendekati dia. Sampai akhirnya aku nekat untuk menelponnya di Bank. “Kamu siapa?” tanyanya saat menerima telepon dariku. “Yudi.” jawabku singkat. “Ok, kamu ada perlu apa?” Ditanya seperti itu aku jadi bingung dan gugup. Aku terdiam nggak tahu apa yang harus aku ucapin. “Kalau kamu nggak jawab saya tutup teleponnya ya, soalnya saya lagi banyak kerjaan.”

Entah darimana timbul keberanian itu dan langsung saja terucap, “Boleh nggak aku ngisep kontol kamu?” tanyaku yang kemudian kaget sendiri dengan keberanian itu. Nggak ada jawaban apapun dari ujung sana. “Halo…” kataku kemudian. Aku pikir dia pasti menutup teleponnya, tapi kemudian … “Kamu jangan bercanda, saya lagi tugas.” “Nggak kok, saya serius. Kalo kamu mau, saya rela kamu ngelakuin apa aja sama aku di tempat tidur.” Kembali nggak ada suara apapun dari ujung sana untuk beberapa lama, dan aku dengan perasaan deg-degan menunggu. “Aku nggak pernah ngelakuin itu sama laki-laki, tapi kalo kamu mau kita bisa besok.” “Bener..??” teriakku kaget banget. “Iya.” “kenapa nggak malam ini?” “Malam ini aku mau ngentot pacarku, besok giliran kamu, gimana?” Akhirnya kami sepakat untuk bertemu besok sore di kos dia dan aku meminta dia menunggu dengan pakaian satpamnya.

Sore yang aku tunggu akhirnya datang juga. Dengan perasaan yang campur aduk, aku datang ke alamat yang dia berikan. Setelah aku ketuk, pintu terbuka dan dia menyambutku dengan tersenyum lalu mempersilahkanku masuk. “Oh jadi kamu yang nelpon itu. Aku sering liat kamu di bank.” Aku mengangguk dan tersenyum malu. “Bagaimana, mau langsung?” tawarnya. Aku nggak perlu menjawabnya dan langsung mendekatinya, kemudian mengelus-elus tonjolan di celana bagian depannya. “Aku tahunya enak ya dan aku nggak mau ngapa-ngapain kontol kamu.” katanya. Aku menjawab hanya dengan anggukan dan tanganku terus mengusap-usap tonjolan kontolnya.

Kemudian aku buka bajunya, aku sangat suka sekali melihat badannya yang tegap apalagi saat dia mengangkat tangannya saat aku membuka kaus dalamnya, kedua tangannya itu terlihat kekar dan keras sekali dan ketiaknya penuh dengan bulu, aku nggak terlalu suka bulu ketiak yang lebat dan biasanya membuatku agak sebal, tapi wajah ganteng dan dada kekarnya membuat semua itu nggak penting. Dadanya terbentuk meski bukan sepeti binaragawan. Dadanya bidang dan bersih dari rambut dengan kedua pentil yang kecil tapi menonjol dan sekeliling pentilnya tumbuh rambut-rambut. Lalu aku melihat ke pusarnya dan disana banyak di tumbuhi rambut yang aku yakin tumbuh menyemak di pangkal kontolnya.

Aku langsung memegang kedua pentilnya dan pelan-pelan memilin-milinnya, lalu tiba-tiba aku mendengar dia mendengus agak keras. Nampak dia sangat suka kalau kedua pentilnya dimainkan dan itu membuatku semakin semangat. Dia kusuruh duduk dipinggir tempat tidur dan aku mulai menjalankan aksiku. Aku menghisap-hisap pentilnya seperti bayi yang sedang menyusu, dan pentilnya semakin menonjol serta kian keras. Dia mulai meracau pelan saat aku menyesapi pentilnya dan semakin keras gumamnya saat ujung pentilnya aku jilati juga dengan ujung lidahku sementara tanganku mengusap-usap dada kekarnya yang sudah terbentuk.

Pentilnya kugigit-gigit pelan sambil aku tarik-tarik kemudian aku hisap dengan kuat. Dia terus mendesah dan bergumam keenakan. Lalu tanganku mulai bergerak ke bawah dan mengusap bulu-bulu yang tumbuh disekitar perutnya dan pelan-pelan membuka ikat pinggangnya sambil mulutku terus mengeyot pentilnya. Nampaknya sensasi kenyotanku di pentil dan gerakan tanganku yang membuka celana panjangnya pelan-pelan sampai dia hanya memakai celana dalam saja membuat dia semakin bergairah. Beberapa kali dia dengan sengaja menumbur-numburkan kontolnya yang masih di dalam kolor ke badanku.

Aku berdiri dan melepas semua pakaianku sampai telanjang bulat. Kontolku sudah ngaceng berat dan dia tersenyum melihat keadaanku itu. “Gede juga kontolnya.” katanya kemudian. “Tapi kontol kamu pasti lebih besar kan?” tanyaku. “Liat aja sendiri.” Aku perhatikan dia yang sekarang tidur terlentang dengan celana dalam putihnya sebentar. Badannya benar-benar luar biasa, sepertinya dia diberi waktu lebih banyak saat dibuat dulu sehingga dia lebih mempesona dari laki-laki kebanyakan.

Kakinya berbulu lebat dan pahanya meski tidak terlalu besar tapi kekar sekali dengan aksen bulu-bulu yang membuat bagian bawah perutnya ini menjadi seksi sekali. Aku berjongkok di lantai, lalu membuka kedua kakinya pelan-pelan hingga terbuka lebar. Seksi sekali melihat pemandangan itu dari sudutku berada. Aku merapatkan kedua kakinya sementara wajahku berada ditengah-tengah kedua pahanya dan menjilat-jilat mulai dari dengkul kirinya dan bergerak pelan ke selangkangannya. Lalu lidahku memutar-mutar di paha bagian dalamnya dan tangan kiriku mengusap-usap paha atasnya yang berbulu itu.

Sampailah ujung lidahku tepat di celana dalamnya bagian bawah. Aroma laki-laki segera tercium olehku. Aku cium-cium pelernya yang masih terbungkus dengan bibirku, entah apa bahasa tepatnya tapi aku biasa mengatakan “menguwel-uwel” bibirku nggak keruan di pelernya. Aku tarik keatas pinggiran celana dalamnya dan menarik satu biji pelernya keluar. Biji pelernya besar dan berbulu lebat, pasti banyak pejuh yang tersimpan disana. Aku membayangkan semprotan pejuhnya pasti banyak kalau pelernya seperti ini, pasti enak dan banyak sekali kalau aku telan pejuhnya.

Dia masih tidur terlentang saat aku mulai mengemoti biji pelernya yang aku keluarkan satu itu. Aku kemot pelan sekali dan bagian bawahnya aku jilati. Kadang aku kesulitan juga karena bulu yang tumbuh di biji pelernya suka rontok dan mengganggu lidahku. Setelah puas aku masukkan lagi biji pelernya itu dan aku melihat dia sedang menggigit ujung bantal, aku yakin dia pasti ngerasa enak sekali.

Dia menatapku saat kedua tanganku memegang pinggiran karet celana dalamnya dan pelan-pelan mulai kuturunkan. Ternyata tidak seperti dugaanku, bulu jembutnya tidak terlalu banyak sepertinya dia mencukurnya beberapa hari yang lalu. Tapi kontolnya membuatku sangat surprise. Dia ternyata masih punya kulup dan kepala kontolnya yang berwarna merah keunguan sudah menyembul keluar dari kulit kulupnya dan sudah basah!

Aku paling suka kulup dan aku menjadi begitu bergairah. “Gila masih ada kulupnya,” kataku. “Kenapa, nggak suka kulup ya?” tanyanya “Aku suka banget kulup.” Dan tanpa membuang-buang waktu segera aku menjamah kontolnya yang sudah super ngaceng itu. Kontolnya tidak terlalu besar diameternya tapi panjang banget dan kepala kontolnya lebih gede dari batangnya sehingga menambah seksi dirinya.

Kulit kulupnya kemudian aku tarik-tarik sampai menutup kepala kontolnya dan rupanya kulupnya panjang sehingga masih tersisa. Aku gigit-gigit pelan lalu kuturunkan lagi kulupnya sampai kepala kontolnya terlihat jelas dan dia rupanya sangat suka juga dibegitukan. Dia menggigit lagi ujung bantalnya. Lalu giliran batang kontolnya menjadi sasaranku berikut. Aku pegang batang kontolnya dan aku tempelkan diperutnya, lalu lidahku menjalari di seluruh batang kontol bagian bawah sampai aku berhenti di lubang kencingnya dan lidahku kuputar-putar disekitar pinggiran kepala kontol bagian bawahnya itu.

Dia menyentak-nyentaknya kedua kakinya saat aku melakukan jilatan di pinggir kepala kontolnya itu dan sentakannya semakin keras saat ujung lidahku bermain-main menggeliti lobang kencingnya yang terus menerus ngeluarin cairan bening. Wajahnya terlihat merah dan terlihat berkerut seperti menahan sesuatu yang luar biasa. Dia bangun dan gerakan tangannya menyuruhku berhenti. Badannya yang putih kini terlihat memerah dibagian atas dan dia tersengal-sengal mengatur nafas sambil sesekali menggelengkan kepalanya.

“Kenapa, kamu nggak suka ya?” Dia menatapku, “Aku hampir keluar tadi. Kamu lihai banget, semua yang aku suka tadi kamu lakuin” ujarnya. Aku tersenyum senang. “Aku entot kamu sekarang aja ya.” “Tapi kontol kamu kan belum aku isap.” “Nggak usahlah, aku nggak kuat. Nanti aku keburu muncrat, aku mau ngerasain ngentot laki-laki.” Aku setuju dan tadinya dia mau cari-cari sesuatu buat ngebasahin batang kontolnya. “Nggak usah, aku jilat aja. Aku suka dientot kering aja, soalnya gesekan batang kontolnya berasa banget.” “Nanti sakit lagi” kata dia. “Nggak kok, malahan enak banget.” ujarku menyakinkannya. Dia mengangkat kedua bahunya tanda terserah aku. “Mau posisi bagaimana?” tanyaku. “enaknya gimana?” dia balik bertanya. “Kamu pernah ngentot pacar kamu posisi kamu di bawah nggak?” Dia menggeleng. “Ya udah kita coba gaya itu aja.”

Dia merebahkan kepalanya di kasur dan aku mengangkangi kontolnya. Aku turun pelan-pelan dan saat ujung kepala kontolnya yang aku pegangin itu menyentuh lobang anusku aku berhenti sebentar untuk menarik nafas, ini sesuatu yang paling aku tunggu. Dia menatap ke arah kontolnya dan aku pelan-pelan memasukkan kepala kontolnya sedikit demi sedikit. Aku meringis dan menggigit bibir bawahku saat kepala kontolnya yang besar itu mulai masuk setengahnya. Lobangku mulai terbuka sangat lebar, karena kepala kontolnya salah satu yang paling besar yang pernah masuk ke lobang anusku.

Aku meringis dan mengeluarkan suara tanda aku sedikit kesakitan karena memang kontolnya masuk dalam keadaan kering tanpa pelumas. dan PLOPP…!!! masuklah semua kepala kontolnya dan aku mendesah lega. Saat aku membuka mata dia sedang menatapku dengan muka yang mengernyit seperti merasakan sesuatu yang aneh. “Sakit ya?” tanyanya. “Nggakk.. hhh … enakkkk.” Aku mulai menaik turunkan pantatku dan dia terlihat mulai menikmatinya, terbukti dia mulai semakin banyak menggeram. Bahkan setelah beberapa lama ketika aku menaikkan pantatku dia menghujamkan batang kontolnya ke atas pertanda dia ingin terus mengocok lobang pantatku.

Aku istirahat sejenak di atas perutnya dan menggeol-geolkan pantatku untuk memutar-mutar batang kontolnya dan dia menggeram keras lalu dengan sekuat tenaga menghujam-hujamkan kontolnya sampai aku hampir jatuh. Melihat dia semakin ganas, aku memutuskan berganti gaya yang biasa. Posisi aku dibawah dengan memberikan bantal tipis dipantat biar lobang pantatku agak naik dan memberikannya kesempatan mengentot lobangku sekuat yang dia bisa.

Kedua kakiku kutekuk dan dia membimbing batang kontolnya masuk kembali ke lobang pantatku lalu menekannya kuat. Aku mengeluarkan suara seperti hendak buang hajat saat dia memasukkan batang kontolnya, rasanya sakit sekali karena dia memasukkannya dengan paksa dan sekuat tenaga. Dia sepertinya kesetanan dan menjadi buas sekali. Tanpa memberiku kesempatan untuk mengatur nafas, dia mulai memompa lobang pantatku sekuat tenaga. Mukanya mengernyit menahan enak dengan suara geraman dia pompa lobang pantatku dengan batang kontolnya dalam tempo yang sangat cepat.

Posisi seperti ini membuatku sangat nyaman, batang kontolnya yang panjang membuat ujung kontolnya dengan mudah menyentuh sesuatu di dalam lobang pantatku yang membuatku merasa begitu keenakan. Wajahnya memerah serta keringat menetes banyak sekali dan dia menggeram keras sambil terus mengentotin pantatku tanpa henti. Sensasinya luar biasa dan dia sudah begitu kesetanan dengan liarnya ngentotku sampai tempat tidurnya berderit-derit.

Nggak banyak gaya yang bisa aku buat karena dia sudah begitu liar, tapi itu nggak penting karena aku sudah merasa enak. Semakin lama erangannya semakin keras dan mulutnya terbuka lebar serta tusukan kontolnya semakin kuat, pantatku dipukul-pukul oleh pelernya. Aku sudah nggak tahan lagi, apalagi saat melihat ekspresi muka gantengnya yang keras itu saat mengentotku liar dan menahan enak membuatku … CROTT … CROTTTTT… CROOTTTT… Pejuhku tumpah ruah keseluruh badanku dan ke kasur, banyak sekali. Ini pasti pejuh terbanyak yang pernah aku semprotkan.

“Keluarin dimukaku aja.” kataku saat melihat dia semakin terengah-engah. Dia menarik batang kontolnya dan mengarahkan dimukaku. “ARGHHHHHH … SETANNNNNN” geramnya sambil memukul-mukulkan batang kontolnya di wajahku, sakit tapi enak sekali. Lalu … kembali CROTTTTTTTT …CROTTT…CROTTT….CROTTTTTTTT Semburan panas keluar dari lobang kencingnya membasahi seluruh wajahku. Dia teriak keenakan meski suaranya ditahan biar tidak didengar orang. Seperti juga aku, pejuhnya bahkan beberapa kali lebih banyak menyemprot dari pada pejuhku.

Dia selesai menyemprotkan pejuhnya dan mengatur nafas. Aku memegang batang kontolnya dan menjilati sisa pejuh yang masih mengalir dari lobangnya. Kadang aku poleskan ke seluruh pipi dan bibirku jika masih ada sisa pejuhnya yang meleleh. Dia kemudian bangun dan duduk selonjor di kursi plastik, dan kedua kakinya terbentanglebar di atas kasur membuat pemandangan yang indah buatku.

“Gimana?” tanyaku. “Setan, enak banget.” Dia terdiam begitu juga denganku. “Besok kita ngentot lagi yah, malam ini aku mau nonton sama pacarku.” katanya. Aku tersenyum dan mengangguk senang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Proyek Jembatan

Setelah aku amati aku mulai paham, rumah itu tempat para pekerja menaruh bahan bangunan dan mungkin sebagai tempat mereka menginap saat malam hari.
Otak homoku segera berputar dan darahku berdesir saat aku membayangkan mereka mungkin menginap di rumah sementara itu. Masih aku melamun tiba-tiba seseorang datang dari arah samping, “Permisi mas,” ujarnya. Aku kaget karena tak siap akan kedatangan seseorang. Aku melihat seseorang yang tingginya kurang lebih 160cm dengan badan berkulit sawo matang dan badan yang kekar, rambutnya klimis dan tampangnya tidak terlalu tampan tapi sangat laki-laki. Ia tidak memakai baju dan hanya mengenakan celana jeans lusuh selutut sehingga dadanya yang kekar dan terbentuk serta perutnya yang berkotak-kotak seakan-akan melambai-lambai ke arahku. Belum lagi banyak bulu-bulu yang tumbuh di perut bawahnya. “Oh ya. Aduh jadi kaget, biasanya nggak ada orang,” kataku. “Iya, kenalkan saya Darno. Begini saya tadi sudah ijin sama pemilik tanah sebelah, karena kebetulan ada proyek perbaikan jembatan jadi kami minta ijin untuk tinggal sementara selama kurang lebih seminggu di tanah sebelah,” “Oh begitu. Ya sudah tinggal aja, yang punya tanah itu juga yang punya rumah ini,” kataku. “Ya terima kasih, sekalian nih mas. Kalau nggak keberatan kita bisa tidak mandi atau cuci baju di sumur belakang ini?” tanyanya.
HAHHHHHH…..!!!! “Apa aku nggak salah denger, MANDI…????!! di sini, disumur belakang rumahku!??!” kataku dalam hati. Ingin rasanya aku berlari dan mencium sumur itu untuk mengucapkan terima kasih, karena mandi disitu berarti semoga telanjang. “Oh ya nggak apa-apa mas, silahkan aja airnya kebetulan banyak dan bersih. Daripada mandi di kali nanti kena gatal-gatal,” kataku berpromosi. “Lagipula disini nggak ada siapa-siapa kecuali saya, jadi ya kalo mo mandi atau nyuci nggak usah risih segala.” Ia hanya tersenyum dan mengangguk, “kalau begitu saya permisi dulu ya mas, nggak enak masih ada kerjaan.” Dan aku masuk dengan hati berdegub-degub kencang menanti yang bakalan terjadi.
Benar saja, sekitar jam 4 sore aku mendengar tali sumurku berbunyi, dan aku cepat-cepat masuk ke kamar belakang yang aku jadikan gudang. Letak jendela kamar belakang tepat disamping sumur sehingga apapun yang terjadi disana pasti terlihat. Seperti sore itu aku melihat ada 4 orang pekerja yang sudah ada disana, mereka bergantian menarik tali sumur dan mandi, tapi aku sedikit kecewa karena tak ada satupun dari mereka yang telanjang, mereka mandi hanya memakai celana pendek.
Kemudian datang 2 orang lagi. Tubuh mereka berdua sama seperti lainnya dan aku mendengar mereka saling menyapa dengan ke 4 pekerja yang sudah ada disana terlebih dahulu dan tanpa basa-basi mereka menurunkan celana pendek mereka hingga kontol mereka terlihat jelas. Darahku mendidih melihat pemandangan itu, kontol 2 kuda jantan ada dihadapanku. Yang satu segera bergabung dengan mereka tanpa ada rasa risih sedikitpun, sementara satunya mencuci celana pendeknya. Aku melihat keempat orang itu sempat melirik ke arah mereka berdua, tapi mungkin ego mereka sesama lelaki membuat mereka akhirnya tidak perduli lagi.
Wah rasanya senang sekali, hari itu lebih dari 20 kontol dengan beragam ukuran bisa aku lihat. Terkadang mereka saling bercanda dengan menyentil batang kontol lainnya, atau ada yang diam-diam menarik jembut temannya yang cukup lebat. Ada yang bercanda dengan mempertontonkan gerakan ngocok kontol, ada juga yang memang ngocok kontolnya betulan, seneng banget melihatnya. Aku tak pernah bosan melihat mereka meski aku hanya jadi pengamat pasif saja.
Namun ada satu yang menarik perhatianku, ada seorang pekerja yang aku kenal bernama Widatmanto, teman-temannya biasanya memanggil dia Wiwit. umurnya sekitar 23 tahun, badannya tegap sekali dengan kulit sawo matang. Tingginya sekitar 160cm dan tidak terlihat terlalu tinggi, dan aku tahu setiap sore dia selalu ngocok diam-diam dan sudah 2 hari ini aku melihat dia sering ngocok kontolnya di pagi dan siang hari saat aku pulang untuk makan siang (terlalu dipaksakan karena aku sesungguhnya ingin ngintip aktifitas sumur siang mereka).
Kalau dia datang pasti kontolnya sudah tegang, ukurannya sekitar 16cm dan gemuk batangnya dengan kepala kontol yang besar. Dia sering menggesek-gesekkan batang kontolnya di tembok sumur yang licin, naik turun dan kadang diputar-putar, lalu biasanya dia mengerang kalau mau ngecrot. Sayangnya dia tidak tinggal disitu jadi aku tidak bisa banyak bicara dengannya.
Siang itu aku sudah mempersiapkan diri dan aku tahu dia pasti datang saat keadaan sepi. Dan tepat sekali, sekitar jam 1 siang dia datang padahal aku hampir saja akan pergi karena jam istirahat kantorku sudah habis. Tiba-tiba dia datang dan setelah tengok kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang dia segera mengeluarkan batang kontolnya. Pintu belakang sengaja tidak aku kunci agar saat aku membuka tiba-tiba dia tidak sempat memasukkan kontolnya kembali ke dalam celana.
Pintu belakang aku buka dengan cepat dan aku bergerak keluar. Dia terlihat kaget dan tak siap dengan kehadiranku, namun aku sudah mempersiapkan semuanya dan aku bersikap biasa saja. “Oh maaf ada orang ya.” ujarku. Dia tersenyum canggung dan kontolnya masih menempel di dinding sumur. “Sampean lagi onani ya mas?” tanyaku langsung. Dia tersenyum lagi dan menjawab, “iya mas, aku nggak tahan rasanya pengen ngocok terus.” “Ya udah, terusin aja.” Dia masih malu-malu dan batang kontolnya tetap menempel tanpa bergerak. “Malu ya aku liatin, biasa aja lah mas aku aja biasa ngocok tiap malem.” ujarku. “Apa sampean mau aku bantuin? kalo mau ya masuk, nanti tak kocokin?” kataku semakin berani. Dia terlihat ragu dan aku melihatnya. “Belum pernah dikocokin ya mas, udah nggak usah malu-malu aku nggak bakal bilang siapa-siapa kok.”
Dia akhirnya masuk ke dalam rumah. Baru saja satu kakinya masuk ke dalam rumah, aku sudah memegang batang kontolnya dan menariknya ke dalam. Dia terlihat kaget, tapi aku bergerak cepat dengan menggunakan kakiku aku menutup pintu dan aku segera berlutut lalu mulai mengocok batang kontolnya yang besar dan berurat. Dia masih terlihat malu-malu dan hanya memperhatikanku. Sementara tangan kiriku mengocok batangnya, tangan kananku bergerilya dengan mengelus-elus kedua biji pelernya. Dia mulai mendesah-desah keenakan dan dia mulai menggerak-gerakkan kontolnya yang masih dalam genggamanku.
Kocokanku pada kontolnya semakin kencang dan dia juga mulai semakin aktif gerakannya. Aku hentikan aktifitas tanganku pada kontolnya sejenak dan dia menatapku dengan pandangan tidak setuju. “Sebentar ya,” kataku pelan menjawab ketidaksetujuan matanya. Aku membuka pakaianku satu persatu sampai telanjang bulat, kemudian aku tatap tubuh berototnya yang masih berpakaian lengkap hanya bagian celana lusuhnya saja yang sudah melorot sampai lulut. “Mas buka dong bajunya,” pintaku. Dia terlihat ragu, “Mau diapain mas?” tanyanya kemudian. “Sudah buka aja, pokoknya sampean pasti ngerasa enak,” Tuntutan birahinya yang sedang tinggi membuat dia pasrah dan membuka seluruh pakaiannya sampai bugil. Tubuhnya sangat seksi, tahu sendiri bagaimana bentuk tubuh mereka yang bekerja sebagai tukang atau kuli itu.
Aku berlutut tepat dihadapan kontolnya, kemudian aku elus-elus batang kontolnya yang bener-bener sudah tegang. Aku berniat mempermainkan emosinya dulu baru kemudian aksiku. “Wah nih kontol pasti udah ada yang punya ya?” tanyaku sambil mengelus-elus batang kontolnya dari bawah sampai ke ujung kepala kontol. Dia terlihat geli dan menggeleng, “Belum ada, siapa sih yang naksir aku,” “Tapi kalo kontolnya segede gini pasti banyak yang mau,” ujarku sambil kemudian mengecup lobang kencing di kepala kontolnya dengan bibirku. Aku bisa merasakan gelinjangnya dan tak lama cairan precum keluar meleleh dari lobang kontolnya. Dia tak menjawab pertanyaanku matanya terpejam.
“sudah pernah ngentot belum mas?” tanyaku lagi. Dia membuka matanya dan menatapku, “sudah, hampir tiap hari,” “Wah sama siapa?” kali ini aku bertanya sambil meremas lembut kantong pelernya, dia kembali menggelinjang. Belum sempat dia menjawab, aku menjulurkan lidahku dan menjilati seluruh bagian pinggir topi kepala kontolnya. “Ayo dong mas dijawab,” pintaku sambil meletakkan batang kontolnya di hidungku dan menggesek-gesekkannya, aroma kontolnya sangat khas, dan cairan lengketnya menempel di hidungku membuat suasana semakin seksi.
Dia terengah-engah, mungkin selama ini belum pernah ada yang memperlakukan kontolnya seperti itu. “Sama … sama lonte,” jawab dia akhirnya setelah aku kembali mengecup ujung kepala kontolnya. “Wah sama lonte kan bayar, mendingan sama aku gratis.” kataku. “KAlau sama lonte pasti belum pernah diginiin,” lanjutku kemudian dan setelah berucap itu aku langsung memasukkan batang kontolnya ke mulutku. Dia terlihat kaget dan tubuhnya sedikit tersentak, tapi kedua tanganku memegang pinggangnya sehingga aku bisa konsentrasi pada hisapanku.
Kontolnya yang punya panjang sekitar 16cm dengan diameter sekitar 4,5 cm itu setengahnya masuk ke dalam mulutku. Aku keluarkan lagi kemudian aku masukkan lagi sampai sedikit lebih dalam dari kepala kontolnya dan saat itu aku langsung menghisapnya kuat-kuat. Dia mengerang-erang dan aku merasakan kontolnya berdenyut-denyut, aku tahu dia akan segera ejakulasi sehingga aku buru-buru melepas batang kontolnya dari mulutku. “Kok dilepas?” tanyanya dengan nada sedikit kecewa. “Nanti sampean keburu keluar, kan belum ngentot aku,” Dia menatapku lagi dan kali ini agak lama, “Memangnya mas ini mau aku entot?” “Sama kontol segede ini? mana mungkin aku tolak,” ujarku. Aku kemudian memposisikan diriku dan memintanya mendekat dan menempelkan batang kontolnya di belahan pantatku. “Sampean entot aku ya, sama seperti sampean ngentot lonte-lonte itu,”
Dia langsung mengerti apa yang aku maksud, dia meludah lalu membalurkannya di sekujur batang kontol dan kemudian menempelkan kepala kontolnya di lobang anusku. Dia pasti belum pernah ngentot laki-laki sebelumnya karena dia langsung menekan batang kontolnya sekuat tenaga sehingga aku merasakan bagai disuntik dengan jarum besar saat kepala kontolnya membelah lobang anusku. Dia sama sekali tidak berniat berhenti sebentar untuk memberi kesempatanku bernafas karena dia langsung memasukkan seluruh batang kontolnya yang gede sampai mentok ketika bulu-bulu jembutnya yang sangat tipis karena habis dicukur menempel dikulit pantatku.
Dasar birahinya sudah dipuncak dia langsung memompa anusku dengan kontol besarnya tanpa perduli dengan diriku. Hebatnya dia langsung memompa kontolnya sekuat tenaga, meski terasa sakit sensasi pompaan batang kontolnya membuat rasa nikmat cepat menggantikan rasa sakit sebelumnya. Apalagi saat batang kontolnya hampir amblas semua dia seolah-olah menumbuk diriku sehingga aku bergoyang hebat dan berusaha agar tetap ditempat. Kantong pelernya yang menggelantung panjang juga kerap kali mengenai dan memukul-mukul biji pelerku sehingga terasa sedikit ngilu.
Batang kontol itu terus memompa lobang anusku dan nafasnya semakin menderu kencang. Apalagi saat ujung kepala kontolnya menyentuh sesuatu di dalam lobangku, rasa nikmat semakin terasa. Tak terasa tubuhku diselimuti keringat dingin karena rasa enak yang luar biasa. Aku berusaha untuk bertahan tapi rasa nikmat yang diberikan pekerja dengan nafsu besar dan liar ini membuatku tidak lagi bisa menahannya. Akhirnya pertahananku bobol, tubuhku bergetar dan rasa nikmat yang luar biasa secepat kilat berkumpul dari segala arah dan menyatu diujung lobang kencingku. Aku merasakan denyutan yang cepat dan berkali-kali dalam waktu singkat membuatku mengerang, lalu ….. CROTTTT …CROTTT…CROTTTT Spermaku muncrat berkali-kali sampai membasahi karpet yang ada di bawahku dan sudah sampai berkali-kali denyutan itu berhenti. Lalu sisa spermaku mengucur pelan dari kepala kontolku yang menghadap ke bawah.
Belum sempat aku bernafas, tiba-tiba kedua tangannya memegang bahuku lalu dengan suara yang kuat dia menghujam-hujamkan batang kontolnya, ARGGHHHH … ARRGHHHH… ARGGGHHH kira-kira begitu bunyi erangannya. Aku merasakan sampai lututku seolah bergerak beberapa senti kedepan. Lalu dia membenamkan seluruh batang kontolnya kemudian memutar pinggulnya tak karuan dan mengerang keras … ARGGGGHHHHHHH…. CROTTTTT …CROTT.. CROTTTT Aku merasakan semburan sperma berkali-kali didalam lobang anusku dan aku bisa merasakan betapa banyak semprotan spermanya seolah-olah dia belum pernah mengeluarkannya bertahun-tahun. Sperma yang tak tertampung meleleh keluar dan menjalar pelan dipaha belakangku dan jatuh kelantai.
Dia menjatuhkan kepalanya dipunggungku dengan batang kontol yang masih di dalam lobang pantatku. Aku mendengar dengusan nafasnya yang cepat, aku tahu dia sedang mengatur kembali nafasnya. Aku tersenyum puas akan kenikmatan yang kurasakan dan yang dia berikan baru saja.
Hari itu tidak seperti biasa karena ada pekerjaan aku pulang sekitar jam 17.30. Masuk rumah dan hanya mengenakan kaus dalam serta celana panjang seragam kantor aku bergegas ke belakang untuk mengangkat jemuranku tadi pagi. Saat aku di dapur aku mendengar suara orang mandi. Biasanya jam segini sudah tidak ada yang mandi lagi, jadi aku intip dari jendela dan ternyata ada 3 orang yang sedang mandi dan mencuci pakaian termasuk Wiwit yang kemarin ngentot denganku.
Melihat Wiwit sedang mandi telanjang dan kontol gagahnya yang berhasil memberiku kepuasaan, kontolku segera bereaksi lagi. Aku segera melepas celana panjang serta kaus dalamku dan hanya mengenakan celana dalam usang yang agak longgar. Maksudnya ingin menggoda Wiwit agar mau ngentot lagi denganku malam ini. Jadi aku segera keluar dan mereka yang ada disitu menengok. “Oh masih ada yang disini ya,” kataku pura-pura kaget. Aku menatap Wiwit dan dia juga menatapku lalu penampilanku saat itu. “Iya mas,” kata Darno si kepala tukang yang berambut cepak banget ini yang sedang mengeringkan badannya yang tegap itu dengan handuk. Gila … dalam keadaan dingin seperti ini saja kontolnya gemuknya ngegelantung dan yang bikin aku semakin kesengsem Jembutnya ternyata lebetttt banget.
Aku segera menuju tempat jemuranku dan dari sudut mata aku bisa melihat sepertinya Wiwit mendekati teman-temannya dan seperti mengatakan sesuatu dengan cepat. Setelah selesai aku angkat jemuran aku berjalan balik ke pintu dan diluar dugaan Wiwit mengatakan sesuatu yang bener-bener ngebuatku shock berat. “Mas Yud, kapan aku bisa ngentot mas lagi?” Aku bagai disambar petir dan segera kutatap ke area sumur itu melihat reaksi semua yang ada disitu.
Mereka semua ternyata sedang menatapku, ada yang tersenyum ada yang diam saja dengan mata ke arahku. Kontol-kontol itu sungguh menggoda dan aku nggak mampu lagi mengendalikan diri. “Sekarang aja yuk?” kataku penuh nafsu. “Gue boleh ikut mas?” tanya Darno, kepala tukang yang perutnya penuh bulu dengan kontol yang sudah setengah ngaceng. Aku dekati dia dengan tangan kananku memegang cucian. Tangan kiriku segera menyambar batang kontolnya dan meremas lalu aku tarik dia ke dalam. “Yang laennya kalo mau ikutan aja ke dalam,” kataku.
Terdengar suara agak riuh. “Nanti aku nyusul lah, tanggung nih,” kata seorang lagi yang sedang nyuci. Jadinya aku berjalan masuk sambil menuntun kontol Darno yang sekarang sudah ngaceng abis di dalam genggamanku. Kontol Darno ternyata lebih gemuk lagi dari kontol Wiwit dan terasa sekali lebih keras. Aku segera letakkan jemuranku di kursi sesampainya di dalam rumah dan segera berlutut.
Enaknya membayangkan akan ngentot dengan tiga tukang. Nggak perlu romantis-romantisan segala, langsung tancap dan entot, bener-bener gayanya laki-laki.
Kulirik ke wajah Darno dan dia menanti apa yang akan aku lakukan. Aku mulai mengocok-ngocok batang kontolnya sambil kuciumi arona di bawah biji pelernya. Aroma yang begitu khas. Tangan kiriku menekan batang kontol Darno hingga bagian bawah batangnya terlihat dan kepala kontolnya menyentuh sekitar perut. Aku julurkan ujung lidahku untuk menjilati bagian antara pangkal batang kontol bagian bawah dengan biji pelernya. Nikmat sekali.
Aku gigit-gigit kecil daerah itu sambil dibarengi sedotan-sedotan berkekuatan lemah. Dia menggelinjang sambil mendesah pelan. Kuciumi lagi daerah itu dengan hidung dan perlahan ujung lidahku menjalar naik ke atas melewati bagian tengah dari batang kontol bagian bawahnya yang agak menonjol. Dia terus mendesah dan ketika hampir sampai lidahku di bagian lobang kencingnya, aku merasakan rasa dari cairan yang sangat aku kenal. Rupanya dia sudah mengeluarkan cairan bening pembuka dan cairan itu terus mengalir. Aku jilati cairan itu, menelannya dan segera menuju sumber cairan itu.
Kukecup sedikit lobang kontolnya untuk membuat sensasi geli dan dia menyukainya. Kembali ujung lidahku bermain dan kuputar-putar di daerah itu serta bagian bawah kepala kontolnya. Sesekali gigitan pelan kulakukan di pinggir-pinggir kepala kontolnya. Ku tatap batang kontol nan gagah itu sekali lagi. Aku tahu apakah mulutku sanggung melewati kepala kontol yang gede banget itu. Disaat itu aku mendengar pintu belakang terbuka dan ada langkah-langkah yang mendekati kami.
Aku menarik nafas dan kubuka mulutku lebih lebar dan berhasil. Aku berhasil melewati kepala kontol itu dan sekarang aku sudah menyedot-nyedotnya dengan jemariku memilin-milin batang kontol Darno. “Gila .. enak banget …Shhhh ahhhh…” erang Darno. “Aku belum pernah di kenyot seperti itu, biniku mana mau” kata suara lain yang ternyata tukang bertubuh tinggi yang tadi sedang mencuci baju. “Sedotan dia enak, kamu bakal ketagihan,” kata suara yang aku kenal, Wiwit. Dia sudah di belakangku dan menarik celana dalamku hingga terlepas.
Sungguh aku sudah tak perduli apapun yang akan mereka lakukan yang jelas aku menikmati ini. Tangan kananku memegang pantat tukang bertubuh tinggi itu dan mendorongnya ke arahku hingga kepala kontolnya menyentuh pipiku. Sementara Wiwit sudah menempelkan batang kontolnya yang juga sudah ngaceng penuh diselah-selah belahan pantatku dan ia menggesek-gesekkannya. “Ini lobang yang bikin aku ketagihan. Lebih enak dari memek manapun, kalian bakal percaya gak bakal ada memek manapun yang pernah kalian entot yang lebih enak dari lobang dia.” kata Wiwit setengah promosi sambil tertawa-tawa.
Darno terus mendesah, dia sungguh menikmati sedotanku. “Enak no?” tanya tukang bertubuh tinggi yang sekarang kontolnya aku kocok-kocok. “He-eh,” jawab Darno pendek dengan mata yang terpejam menahan enak. Aku melepaskan sedotanku pada kontol Darno. Aku beralih ke kontol tukang bertubuh tinggi itu. Kontolnya tidak segemuk Darno tapi panjang sekali, sekitar 19cm seperti Darno jembutnya juga sangat lebat. Tapi aku sangat menaruh perhatian pada kantung pelernya. Kantung pelernya itu tertutup habis oleh bulu-bulu jembutnya yang lebatnya kelewatan banget.
Aku dengan rakus langsung mengenyot-ngeyot satu persatu biji pelernya yang membuatku kelimpungan. “Argghhhh…” tukang itu berteriak kaget. “Mas Darno, gesekin kontol mas di rambutku yah,” pintaku ke Darno. Dia mengangguk, sementara aku merasa kepala kontol Wiwit menempel-nempel di lobang pantatku, aku yakin dia bakal mengentotku sebentar lagi. Sensasinya sungguh enak, gesekan batang kontol di rambutku dan terkadang bagian bawah batang kontolnya yang hangat juga menggesek pipiku. Tukang bertubuh tinggi itu juga sudah mulai banjir cairan bening yang aku sedot terus sampai habis.
Darno kemudian melihat Wiwit yang menonjok-nonjok pelan lobang anusku dengan kepala kontolnya. “Wit, lo kan udah ngentot dia kemaren. Gue ngentot dia dulu ya, gue pengen nyoba,” kata Darno. Aku semakin sumringah mendengar ucapannya. Darno yang berbodi keren dan berkontol sangar ini bakal ngentotku, lobangku menjadi empot-empotan karena bahagia. Lalu aku mendengar Darno berkata padaku, “Pasti enak nih ngentot sama elo, tunggu aja ya sampe nanti kontol gue ngebelah lobang pantat lo”
Tukang bertubuh tinggi itu mendekat ke arah dimana kontol Darno sudah bersiap-siap mengentotku, begitu juga Wiwit. Mereka ingin melihat secara jelas kontol Darno menerobos lobang pantatku. Aku melirik kearah kontol Darno dan astaga, kontol itu benar-benar terlihat keras dan aku akan merasakannya sebentar lagi. Dengan kontol seperti itu, aku siap dientot dia kapan aja, termasuk sekarang. Aku segera memposisikan diriku agar dia bisa mengentotku dengan mudah.
Sekarang saatnya, tanpa basa-basi Darno langsung menekan kontolnya ke dalam lobangku. Aku menarik nafas berusaha menahan sakit saat separuh batang kontolnya masuk. Tukang bertubuh tinggi itu terlihat antusias dengan masuknya kontol Darno. Dia berkali-kali menatapku saat Darno sedang menekan kontolnya masuk. “Seret no..” tanyanya. Darno mengangguk dengan ekpresi muka sedang berusaha keras memasukkan kontolnya. “Gila nih lobang sempit bener,” katanya. “Coba kamu pilin pelan-pelan batangmu, pasti bisa,” Wiwit memberi saran.
Bener-bener gila sensasi nikmatnya. Dua laki-laki jantan berbadan tegap dengan kontol ngaceng teracung-acung sedang membantu kontol temannya yang juga jantan dan besar masuk ke lobangku. Melihat Darno kesusahan, aku lebarkan kedua kakiku agar lobangku semakin terbuka dan dia bisa masuk dengan lebih mudah. Keringat mengucur dari wajah dan badan Darno sehingga dia terlihat jauh lebih seksi dari sebelumnya. Dia menggeol-geolkan kontolnya seperti mata bor dengan jempol diatas batang kontol dan telunjuknya di bawah batang kontol untuk menopang gerakan ngebornya dan … PLOP…!!!! Masuklah kepala kontolnya yang besar itu.
Aku merasa lebih lega dan mulai merasakan rasa sakit lagi, tapi aku nggak bisa berlama-lama merasa sakit karena tiba-tiba dia langsung menimpakan seluruh beratnya ke badanku dan dengan cepat seluruh kontolnya amblas dan ujung kontolnya langsung mengenai sesuatu di dalam lobangku. Aku menjerit antara rasa sakit yang tiba-tiba dan rasa enak di dalam lobangku.
Wajahnya penuh dengan peluh dan dia menatapku sambil tersenyum. “Gimana, enak gak kontol gue?” ujarnya sambil menggeol-geolkan lagi pantatnya, sehingga bulu jembutnya yang lebet dan menempel dikulit pantatku terasa menari-nari dan menggelitikku menimbulkan rasa geli dan sensasi nikmat. “Argghhh… shhh… enak…” desisku sambil melonjok-lonjakkan pantatku ke atas. “Udah No, cepetan entot. Dia sepertinya udah nggak sabar.” kata tukang bertubuh tinggi itu.
Darno kemudian menarik keluar batang kontolnya sampai sebatas kepala kontol lalu ditekan lagi masuk. Dia mulai memompaku dan kontolnya terus memompa lobangku dengan kecepatan penuh. Aku seperti merasakan dimasukin mesin bor, tapi rasa enak terus menerus menerpaku. Aku semakin gila-gilaan menggeliat dan berkali-kali menahan diri agar nggak cepat keluar karena entotannya bener-bener enak. Dia terus mendengus dan memompaku. Dia tersenyum saat melihat ekspresi wajahku yang keenakan. “Gimana enak kan entotan gue?” tanya sambil terus ngentotku. “Ahhh setan …!! enak banget kontol lo… entot gue lebih keras .. ayo…” aku semakin liar. “Nih lo rasain sendiri,” katanya. Dia sama sekali nggak main-main, kontolnya ditusukkan dengan sangat kuat ke lobangku karena tenaga kulinya yang luar biasa. Aku betul-betul terengah-engah… “Terus … terus … ahhh enak…” ujarku.
Tukang bertubuh tinggi itu memposisikan dirinya seperti sedang push-up dengan kedua biji pelernya yang menggantung itu menempel di bibirku dan batang pelernya menempel melebihi daguku, sementara kepalanya menghadap Darno yang sedang mengentotku. “Tenang aja kang, nanti juga dapet giliran …” kata Darno saat melihat tukang bertubuh tinggi itu memperhatikan entotannya. “Akhhh …. enak sekali … arhhhh” Aku menjilati kedua telur terbungkus jembut itu, rasanya enak sekali. Aroma khas laki-lakinya membuatku semakin bergairah, belum lagi entotan Darno, aku terus mengelinjang keenakan.
Kulihat Wiwit duduk dilantai sambil ngocok kontolnya yang gede itu dan dia tersenyum saat melihatku sedang menatapnya. Aku benar-benar ingin kontol dan entah apa yang mempengaruhi otakku, tiba-tiba aku berkata “Ngentot berdua aja..” ujarku dengan susah payah. “Ayo masukin satu kontol lagi ke lobang gue,” Darno menghentikan entotannya. “Gila lo, mana bisa… satu aja masuk susah apalagi dua.” katanya. “Bisa,” ujarku. “Ayo gue udah nggak sabar pengen kontol lagi.” “Ya udah biar aku coba aja,” ujar Wiwit yang sepertinya juga nggak sabar pengen ngentot aku lagi.
Darno menarikku dan menaikkan ku ke tubuhnya sehingga dia dalam posisi menggendongku, tapi kontolnya tetep masih di lobangku. Aku rebahkan kepalaku dibahunya. Enak sekali sensasi ini, digendong laki-laki jantan dan kontolnya menancap keras di lobangku. Wiwit merebahkan tubuhnya, lalu Darno menurunkan aku. Dia memutar aku sehingga posisiku berganti dan wajahku menghadap wajah Wiwit. Aku rendahkan tubuhku dan tukang bertubuh tinggi itu tiba-tiba membantu dengan memegangkan batang kontol Wiwit yang sudah ngaceng itu dan mengarahkannya ke lobangku.
“Arghhh…” Erang Wiwit saat tukang bertubuh tinggi itu memegang kontolnya dan mengarahkan ke lobangku. Lalu Wiwit mendesakkan batang kontolnya. Karena lobangku sudah terbuka oleh kontol Darno dengan mudah kontol Wiwit masuk. “Ah… enak … ayo mulai entot gue … ayo cepet…” aku membakar gairah mereka. Darno langsung tancap gas begitu juga Wiwit. Dua kontol laki-laki jantan itu beradu di dalam lobangku. Aku berniat mengisap kontol tukang bertubuh tinggi itu, tapi dia menolaknya. “Jangan, nanti aku ngencrot di mulut kamu lagi. Aku mau ngentot kamu dulu,”
Aku yakin mereka berdua yang sedang mengentotiku ini juga merasakan sensasi lain selain enaknya mengentotku, yaitu gesekan antara batang kontol mereka sendiri. Gerakan mereka semakin liar, terutama Darno sampai-sampai Wiwit bilang agar Darno jangan terlalu kuat ngentotku karena susah buat dia mengimbangi. Tapi Darno tak perduli dan aku merasakan batang kontolnya semakin mengembang… “Argghhhh… SETAN …!!!!!” teriak Darno. Dan … CROT … CROT …. CROT, semprotan demi semprotan pejuh Darno memenuhi lobangku dan karena lobangku juga ada kontol lainnya, pejuh Darno meleleh keluar dan turun lewat batang kontol Wiwit dan membasahi jembut Wiwit. “Arghh .. pejuh kamu anget bener no, sialan kena kontolku sama pejuhmu,” ujar Wiwit. Darno hanya tersenyum saja. Sementara tubuhku sudah penuh peluh dan aku dirasuki rasa enak yang amat sangat.
Tukang bertubuh tinggi itu segera ambil kesempatan, dia menarik Darno. “Cepet lah .. aku dah nggak tahan,” Lalu kontol Darno tercabut dari lobangku dan dengan kasar dia menggantikannya. Kontol itu dengan cepat masuk dan ia langsung memompaku. Bunyi kecipak-kecipok dalam lobang pantatku yang penuh dengan sisa-sisa pejuh Darno di rojok oleh dua kontol menimbulkan rasa nikmat yang tak bisa aku tahan.
Kontolku menggembung dan kemudian aku mengerang keras … aku nggak bisa menahan diri lagi. CROT…CROT .. CROT …CROT … Semprotan pejuhku sudah tak karuan arahnya, menyemprot kesana kemari aku sudah tak perduli. Badanku bergoyang-goyang dientot dua orang dan aku sendiri kelojotan karena rasa enak yang luar biasa. Sepertinya tadi berliter-liter pejuh menyembur dari lobang kencingku.
“Aku juga mau ngecrot…” ujar Wiwit dengan suara tersengal-sengal. “Jangan dikeluarin di dalam,” ujarku cepat. “Keluarin dimulutku, ayo cepat.” Wiwit bereaksi dengan langsung mencabut kontolnya dari lobangku dan berdiri menghampiri mulutku. Batang dan kepala kontolnya penuh dengan pejuh dari Darno dan tukang bertubuh tinggi itu, dan aku sangat senang karena ini yang kuinginkan. Pejuh dua orang yang tadi mengentotku sudah bersatu.
Aku segera menyambar batang kontol nan licin itu dan memasukkannya di mulutku dan kukenyot-kenyot. “Aw… Argghhh .. Arghhhh…” erang Wiwit tak karuan. Tak lama … Crottttttt satu, tiga, lima , tujuh … sembilan semprotan keluar dari lobang kencingnya dan semua aku telan. Ahhh bener-bener enak. Aku keluarkan batang kontol itu dari mulutku dan terus aku jilat-jilat untuk membersihkan sisa-sisa pejuh di sekujur batang kontolnya sampai kering tak bersisa.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bali

Jam 14.30 barulah pesawat Garuda keparat itu mendarat, saya sudah malas berdiri di depan pintu menunggu tamu yang saya jemput, saya duduk minum coca cola dan merokok di sekitar gerbang penjemputan, tapi papan nama dari karton sengaja saya geletakan dengan tulisan Alexandre Niarchos di samping saya. Kira-kira 40 menit kemudian ada seorang anak bule menghampiri saya. Aje gile…mukanya memang benar persis Richard Geere waktu muda, malah lebih ganteng ! hanya rambutnya hitam legam, badannya meski atletis hanya setinggi saya juga, paling-paling 1.67 cm. Anak itu menunjuk namanya di atas papan karton, wajahnya kelihatan lega. “Saya Alexandre !” kata si bule itu. Saya pura-pura acuh dan membalik papan karton itu : “Saya menjemput ini….. Gandhi !” kata saya. (semua percakapan dalam bahasa Inggris). Bule itu kelihatan heran dan kecewa :”Tapi itu nama saya, Alexandre Niarchos ! kamu dapat papan ini dari mana ?” tanya bule itu dengan nada sedih. Saya menjawab :” Dari situ, di atas kursi” tangan saya asal menunjuk. Anak bule itu lantas pergi mencari-cari wartel, sepertinya dia menelpon Tante saya di Jakarta. Tak lama ia keluar dari wartel dan melewati saya menuju pintu penjemputan, ia berdiri lama di sana. Kemudian ia balik lagi masuk wartel dan kemudian mendatangi saya lagi “Kamu lihat nggak orang yang bawa papan tadi ?” ia bertanya, saya memandangnya seolah tanpa dosa :”Nggak, nggak liat, memang ada apa ? penjemputmu nggak datang ya ?” Bule itu menarik nafas panjang, kemudian ia duduk di sebelah saya “Ya, seharusnya ada yang menjemput, tapi pesawat Garuda terlambat, pasti dia sudah pulang ! tai..tai…sialan !” gerutunya. Saya pura-pura baik hati dan bertanya : ”Memang yang menjemput kamu tinggal di mana ? mungkin bisa saya antarkan !” Anak bule itu memandang saya dengan curiga lantas ia menjawab agak ketus :”Penjemput saya tinggal di Ubud, saya ada alamatnya, kalau dia tidak muncul sampai jam 17.00 saya musti ke sana, yang jelas bukan dengan kamu, karena saya tidak kenal kamu siapa !”

Sejujurnya saya masih menyimpan rasa jengkel, jadwal kacau, nunggu kelamaan dan kelaparan, tapi melihat anak bule ini mukanya ganteng-lucu jadi timbul rasa ingin balas dendam kejengkelan saya sekaligus timbul rasa kasihan. Setelah mendengar kata-katanya saya bilang begini :”Saya rasa saat ini kamu hanya kenal saya, apa kamu sudah kenal sopir taxi di sini ? kebetulan orang yang saya jemput juga nggak datang dan saya harus ke Ubud, kalau mau saya antar gratis, daripada bayar 100 ribu !” lantas saya diam saja seolah-olah tidak perduli dengan dia.

Jam 17.00 tepat anak itu kembali ke wartel, lantas ia keluar dan menghampiri taxi Bandara, tak lama kemudian ia mendatangi saya “Musti bayar kamu berapa untuk antar saya ke Ubud ?” ia bertanya, saya hanya menatapnya “Mau bayar boleh, nggak bayar juga boleh, sudahlah saya mau pergi sekarang, mau ikut silahkan, nggak mau ya nggak apa-apa !” jawab saya sambil ngeloyor. Baru 5 langkah berjalan anak itu mengejar saya dengan bawaannya. “Ya, saya ikut, tolong antar ! saya kasih kamu isi bensin 10 liter, tapi belinya sama-sama !” ia berseru dari belakang. Sampai di mobil, ia memasukkan barangnya dan duduk di kursi belakang, dalam hati saya “kurang ajar betul anak ini, liat cara saya membalas dendam !” Saya duduk sendirian di depan sambil menyetir, bule muda itu memandang indahnya daerah Tuban dari jendela belakang. Saya tidak langsung ke Ubud, tapi saya pergi ke Warung Made di Seminyak, langsung parkir, si bule muda pikir sudah sampai di Ubud, jadi ia ikut turun, semua barangnya diangkut. Dengan tenang saya masuk dan duduk memesan makanan dan minuman, si bule kelihatan bicara dengan seseorang di kasir, tak lama ia mendatangi saya :”Eh, ini bukan Ubud, katanya masih jauh, ngapain kita di sini ?” katanya dengan nada marah, saya memandangnya “Saya kelaparan nunggu tamu saya berjam-jam nggak sempat makan, duduk saja kita makan dulu, setelah itu baru ke Ubud !” Tiada pilihan baginya selain ikut duduk dan ikut makan, suasana Warung Made yang nyaman dan menyenangkan terlebih dengan tamu-tamu yang wajahnya ramah dan baik-baik membuat bule muda ini ikut nyaman. Ia mulai memperkenalkan dirinya :”Eh…nama saya sudah tau khan ? yang di papan nama tadi, Alexandre Niarchos….panggil Alex, namamu siapa ? dan nanti yang bayar ini semua siapa ? saya bayar makanan saya sendiri ya !” katanya terus terang. Saya mengulurkan tangan :”Nama saya Herman, kamu asal dari mana ?” tanya saya. Alex memandang mata saya :”Kenapa muka saya aneh ? saya asalnya dari Denver tapi saya kuliah di Purdue !” jawabnya, saya balas memandangnya :”Wah, Purdue ! hebat donk, fakultas apa ? ada beberapa sepupu dan keponakan saya di sana !” saya meneruskan, Alex kelihatan bangga, ia lantas mengatakan :”Kamu tau Purdue ya ? saya tehnik kimia, nama sepupumu siapa ? pasti bisa saya cari !” Tanya jawab dan obrolan singkat mencairkan suasana diantara kami, selesai makan kami melanjutkan perjalanan ke Ubud, dia pindah duduk di depan. Saya menghindari lewat pantai, sore begitu, jalan sesak dan macet, lain waktu saya akan ajak Alex jalan-jalan ke pantai Kuta.

Hari sudah gelap ketika kami memasuki Ubud, Alex menunjukan alamat, yang sebetulnya alamat saya sendiri. Mobil saya hentikan di depan Ary’s Warung, Alex memberi saya uang, tapi saya menolaknya, ia menutup pintu dan mengatakan :”Herman, sorry ya mungkin tadi saya agak kasar, tapi terima kasih saya benar-benar tulus, semoga bisa bertemu lagi !” saya melambaikan tangan dan memarkir mobil kira-kira hanya 12 meter dari Ary’s Warung. Saya ingin tahu apa yang akan terjadi, tentunya Alex mencari dan menanyakan nama saya kepada pegawai di tempat ia berhenti tadi. Ary’s Warung adalah tempat makan yang elok, ditata penuh selera, makanannyapun bagus. Sebetulnya saya tidak tinggal di situ, tetapi hampir setiap sore saya nongkrong di situ, semua orang sudah mengenal saya dengan baik.

Langkah saya santai saja, masuk Ary’s Warung, serta merta pegawai-pegawai di situ memanggil saya, “Mas Herman, ini ada bule mencari !”……..pegawai yang lain menghampiri Alex yang duduk di bar sambil menunjuk saya dan berkata padanya “Itu dia si Herman yang kamu cari !” Tak disangka tak diduga Alex seketika berdiri dan langsung menampar muka saya dengan keras :”Nggak lucu…..nggak lucu sama sekali nggak lucu, becanda kamu keterlaluan…..tai…tai…!!!!” Alex menyumpah-nyumpah bahkan saking marah dan jengkelnya ia sampai terjongkok-jongkok, saya ditampar bukan marah tapi bahkan tertawa sekeras-kerasnya, semua orang pada bingung. Saya meminta maaf padanya sambil terus tertawa, tapi Alex diam saja, kelihatan sekali ia sangat marah dipermainkan, mukanya merah padam, tapi harus bagaimana lagi ? Saya menawarkan padanya, mau tidur di rumah saya atau nginap di hotel. “Saya mau tidur di hotel dan capek, sekarang lekas tunjukan hotel saya !” katanya pendek penuh kejengkelan.

Alex saya bawa pulang ke rumah, di daerah Payangan, sebuah pondok berlantai dua, lantai bawah untuk ruang duduk, 1 ruang tidur tamu lengkap kamar mandi, ruang makan dan dapur. Lantai atas terdiri dari balkon luas dengan kamar tidur besar dan kamar mandi. “Ini hotelnya, lebih tepat disebut villa, mudah-mudahan kamu senang di sini !” kata saya dan membukakan kamarnya di lantai bawah. Alex terkesan dengan keindahan penataan gaya Bali, ia memandang sekelilingnya dengan senyuman, lantas masuk kamar dan menutup pintunya. Saya naik ke kamar saya di lantai atas, mandi, lantas menelpon beberapa klien dan menjadwal ulang perjanjian. Juga saya menelpon Kelian, Kepala Desa tempat saya tinggal meminta tolong sesuatu. Sejam kemudian saya dengar langkah di tangga kayu, Alex muncul di kamar saya, mukanya terperanjat. “Lho koq kamu juga di sini ? ini hotel atau rumahmu ? celetuknya dengan heran, saya menjawab ringan :”Ya, ini hotel atau penginapan yang saya sudah sewa 2 tahun, jadi kamu sekarang tinggal di penginapan, di hotel dan kebetulan kita satu atap!” Alex menarik nafas, tangannya diangkat ke atas, katanya :”Huh ….kalau kamu bukan keponakan Tante Ida kamu sudah saya tampar bolak balik !”

Ia berkeliling dan memeriksa kamar saya, foto-foto dan lukisan di dinding diperhatikan satu persatu, ia membuka pintu balkon yang menghadap taman di tengah kompleks rumah adat Bali itu. Saya menyetel music dari Secret Garden, suaranya lembut bahkan menyayat hati, dari lemari es kecil saya keluarkan Brem Bali dan 2 gelas berkaki. Bersamaan dengan itu terdengar suara kentong bertalu-talu dari jauh di luar rumah saya, itu tanda dari Kepala Desa yang tadi saya telpon. Saya buru-buru memanggil Alex, ia kembali dari balkon dan bertanya galak :”Ada apa ?” saya hanya menunjuk jendela persis di atas kepala tempat tidur saya “Coba kamu buka !” perintah saya, sambil mematikan lampu. Alex naik ke atas tempat tidur dan membuka jendela lebar-lebar. Jendela saya menghadap ke lembah Kadewatan. Alex memekik …….jauh di seberang lembah terlihat rangkaian huruf dari nyala obor dengan tulisan “WELCOME ALEX”. Saya menuang Brem ke dalam gelas, mengangsurkannya kepada Alex dan mengajaknya ber-toast “Selamat datang ke Bali !” kata saya, Alex menyikut perut saya, ia meneguk Brem dan berkata : “Hebat ! hidupmu indah, luar biasa indah, beruntung kamu bisa hidup seperti ini……gila….sungguh kamu gila ngerjain saya kayak begini !” lantas ia tertawa karena tidak bisa berkutik dengan perbuatan saya. Kami duduk bersila, berdiam diri di atas ranjang memandang ke lembah seberang, kamar saya kini hanya diterangi lilin-lilin, nun di seberang sana kalimat “welcome alex” mulai meredup. Saya melamun, Alex melamun, music saya ganti dengan sebuah lagu yang dikarang oleh Yang Mulia Sri Baginda Bhumipol Adulyadey, Raja Thailand, judulnya Blue Days, iramanya Blues. Arti lagu itu adalah sebagai berikut : Apalah artinya hari yang cerah tanpa mentari, atau malam yang damai tanpa rembulan, tetapi tiada lagi hari yang sendu ketika engkau hadir dalam hidupku. Mendengar syair dalam lagu itu, seketika Alex mengambil sebuah bantal dan meletakkannya dikaki saya. Matanya memandang ke langit lepas, tiba-tiba ia berbisik :”Herman, kamu pernah seks dengan lelaki ? maksud saya dengan sesama lelaki ?” saya terkejut mendengarnya, saya menjawab hati-hati : “Saya kurang jelas maksudmu” Alex mencari-cari tangan saya, lantas katanya : ”Suasana ini luar biasa indah ! romantis, ini moment paling indah yang pernah saya alami, saya nggak mau kehilangan moment ini, kalau kamu keberatan nggak apa-apa, tapi tolong bantu saya,!” saya mengulurkan tangan, Alex langsung menangkap jemari saya dan meletakkan di pipinya, saya mengusap-usap wajahnya, dagunya saya elus-elus. Alex meremas telapak tangan saya dan diciumnya, katanya : ”Saya belum pernah merasa emosi saya hanyut dalam romantisme seperti ini…..saya bukan gay, seumur hidup belum pernah berbuat atau ingin dipeluk laki-laki, tapi ini kenyataan…..tapi ini logis bahkan rational….saya ingin menikmati suasana romantis ini selengkapnya !” ia duduk dan memeluk bahu saya, cukup lama ia mendekap, kemudian ia menarik badan saya berbaring. Alex sangat sentimentil, ia betul-betul hanyut dalam suasana Bali yang menghipnotis, ia memeluk saya, mengelus-ngelus punggung dan menciumi kening dan rambut saya. Kemaluan saya langsung tegak !

Udara bertiup dingin, tanpa sadar saya mendekapnya, Alex semakin erat memeluk dan tiba-tiba ia memegang dagu saya dan mencium bibir saya sangat halus dan sopan. Saya membalas mencium pipi dan matanya, mengelus rambutnya, Alex sekali lagi mengecup bibir saya dan kami berciuman lama sekali. Tangan saya ditarik ke celananya, alat vitalnya terasa menonjol, saya mengelus-elus kepala kemaluannya yang masih lemas di balik celana, tapi daging itu semakin keras. Alex membuka celana dan tinggalah celana dalamnya, ia menjawil pinggang saya katanya :”Jangan egois, kamu buka juga !” dengan agak segan saya membuka kaos, Alex menarik celana pendek saya dan menjatuhkannya ke bawah “Ayo donk ! jangan kecewakan saya, saya serius ingin memuaskan diri, sebelum gairah ini hilang !” katanya jujur, ia lantas melepas semua pakaian di tubuhnya. Gantian saya melotot, tubuh Alex mulus bagai porselin, kulitnya khas Jepang, kuning langsat, sebuah tahi lalatpun tak ada, dadanya berkotak-kotak atletis, pentilnya kecil dan berwarna terang, seperti belum atau jarang disentuh orang. Kemaluannya disunat, bagus ! kulupnya sudah agak basah dan lengket, jembutnya rimbun dan agak lurus. Ketiaknya berbulu halus, lehernya jenjang, saya pandang wajahnya, setype dengan Richard Geere, bahkan lebih ganteng 3 kalinya, rambutnya yang jigrak juga pas betul dengan wajahnya yang teduh, damai, bibirnya tipis warna merah jambu. Semakin lama dipandang, Alex semakin tampan, saya memeluk pinggangnya dan menaruh wajah saya diperutnya. Alex menindih saya sebentar, menempelkan kemaluannya di atas perut saya, bibirnya menciumi leher dan lidahnya menari-nari lembut ditengkuk.

Pemuda peranakan itu menggauli saya dengan cara yang sangat sopan dan romantis, jemarinya meremas, menjalar dan mengelus leher, punggung, pinggul dan paha saya perlahan. Bibirnya mengecup setiap jengkal tubuh saya. Permainan pendahuluan ini begitu lama, kemaluan saya sudah tegak sedari awal, saya meremas alat vital Alex, daging kenikmatan yang tadi belum terlalu keras sekarang menegang, menjelma seolah sosis raksasa, kenyal-kenyal membal. Gairah saya menjadi penuh semangat, saya meremas dan mengocok daging itu hati-hati, sangat ingin kucium dan kukulum, tetapi merasa malu-malu. Alex sendiri mungkin begitu juga, ia ingin tapi mungkin bingung musti bagaimana. Saya percaya ia sering ngeseks layaknya anak-anak muda di Amerika, tetapi dengan lelaki mungkin ia belum pernah. Ia hanya memeluk, mencium dan mengocok kemaluan saya, jadi saya memutuskan menjadi kapten perjalanan mengarungi lautan kenikmatan.

Saya kembali duduk di ranjang, kepala Alex saya tarik dan menyuruhnya menjilati pentil saya, tubuhnya yang bersandar miring menyebabkan burungnya mudah dijangkau, saya remas sampai ia merintih pelan, kukocok-kocok dan ia mempercepat jilatan dan gigitannya di dada saya. Melihat ia sudah spanning barulah saya ciumi dan saya jilati kemaluan blasteran Yunani dan Jepang itu. Selama ini banyak teman-teman bilang orang Yunani dan Yugoslavia punya perkakas sangat besar. Kenyataannya milik Alex biasa-biasa saja, memang sangat besar untuk ukuran Indonesia, tetapi tidak terlalu Yunani. Mungkin darah Jepangnya menetralisir ukuran extra king size jadi king size belaka. Yang jelas kemaluan Alex patut mendapat anugerah “the perfect phallus” warnanya bagus….sungguh bagus….terang ! mulus ! istilah Yunani “sincere” tiada cacat, daging kenyal idaman para homo itu seperti dari plastic….…sempurna ! Kepalanya juga sempurna membulat berwarna semu kemerah-merahan sampai leher….batang hingga pahanya seperti pualam, bijinyapun bersiiiiiiiih…..apalagi pantatnya…busyet ! semok mulus dan…tiada kata-kata menggambarkannya ! Kemaluan itu akhirnya saya sedot-sedot sruput-sruput keluar masuk mulut sampai Alex hanya bisa melolong dan menggeram. Saya tarik kepalanya kuarahkan supaya ia mengemot kontol saya yang sudah tegang. Alex ragu-ragu, ia hanya mengocoknya, tapi saya mendorong lagi kepalanya dengan kasar, akhirnya ia mencium dan menjilati kepala kontol saya, mula-mula perlahan gaya amatir, tapi kemudian ia cepat menjadi pandai. Jilatan dan kulumannya mampu membuat saya meringkik, kemaluan Alex saya isap-isap semakin penuh gairah dan saya sedot-sedot. Seperti orang latah, Alex melakukan hal serupa, kontol Alex tiba-tiba mengencang dan berdenyut-denyut dalam mulut saya………crroooooooooooooooot ……… crooooot……!! Alex melepaskan pejunya dalam mulut, ia terpekik, ia menekan kontolnya dalam-dalam, tenggorokan saya seperti disodok ! kontolnya langsung saya cabut dari mulut, cairan kental Alex saya telan bulat-bulat, saya jilati dan saya klomot kepalanya sampai Alex kegelian dan mendorong kepala saya jauh-jauh ! “Kamu buas sekali ya……!” katanya terkejut melihat saya mengulum dan menjilati kepala kontolnya sampai hampir bersih. Ia berbaring mengangkang, saya terus saja berlutut sambil mengulum penisnya yang mulai melemas. Alex membiarkan saya terus mengoral kemaluannya, ia mengelus dan memijit-mijit punggung saya, lantas katanya :”Ayo saya bikin kamu juga keluar, saya nggak mau egois !” Kemudian ia menyuruh saya tiduran, ia mengepit penis saya dan menggeseknya sampai saya kegelian, setelah itu ia tiduran miring, mulutnya dihadapkan ke alat vital saya, dijilatinya dan langsung dimasukkan mulut, sisa batang saya yang ketinggalan digenggamnya dan dikocok-kocok sehingga membuat saya merasa diawang-awang, sejenak kemudian penis saya memuntahkan peju segar………Alex menjilati sperma yang meleleh di batang kontol saya sampai saya ngesot-ngesot kegelian. Dengan dagu dan pipi belepotan peju Alex menghambur memeluk saya, ia mencium saya dan berkata :”satu sama ya !”

Sambil berpelukan kami duduk berdua memandang keluar jendela, memandang Lembah Kadewatan yang agak berkabut, langit bermandikan bintang. Saya merasa kedinginan, saya menyelimuti tubuh kami berdua, sambil meneguk Brem kami terus berpelukan. Alex menciumi saya berulang kali, ia sungguh merasa bahagia. Fajar menjelang, matahari mulai naik, cahayanya kemerahan di seling warna biru tua, biru muda, terlalu indah semuanya dilukiskan, mata kami menjadi berat. Sambil bertelanjang di bawah selimut kami berpelukan dan terlelap.

Kami bangun hampir saat makan siang, selimut dan sprei acak adut, saya buru-buru menelpon klien saya dan mengajak mereka makan siang bersama. Besok saya harus membawa tour “the other side of Bali” pesertanya gerombolan the haves dari Amerika, pencinta perhiasan dan barang-barang seni bermutu tinggi. Saya menawarkan Alex, mengikuti tour saya atau pergi sendirian. Ia memilih ikut rombongan saya besok. Siangnya kami makan di Café Wayan, masakannya enak, suasananya juga ramah, klien-klien saya adalah pemesan perhiasan perak, atau lukisan. Kami makan dengan akrab dan urusan saya sekejab beres, karena dapat dikoordinasi dengan baik. Sehabis makan Alex saya pinjamkan motor teman dan ia keliling-keliling sesuka hati, sementara saya memeriksa jadwal perjalanan rombongan tour besok.

Kira-kira jam 18.00 sore Alex kembali ke rumah, ia mengajak mandi sama-sama, sayangnya saya sudah mandi. “Mandi saja sendiri, nanti malam baru kita mandi sama-sama” kata saya, Alex kelihatan agak kecewa, lantas ia bertanya : “Kita makan dirumah saja ya, aku kepingin merasakan makan di rumahmu seperti apa“ tapi terus terang saya sedang malas memasak, lebih senang makan di luar, lagipula bahan baku makanan sedang kosong. “Sudah nanti ada waktunya kita makan di rumah, sekarang kita makan di Batan Waru saja, kamu pasti suka makanannya” jawab saya. Alex sengaja saya ajak makan di sana, karena pengunjung di sana orang-orang terpelajar, sama seperti pengunjung Ary’s Warung atau Café Wayan.

Sambil makan Alex bercerita tentang keluarganya. Mereka sebelumnya tinggal di Minneapolis, katanya di sana banyak bekas GI, tentara US yang bertugas di Jepang dan membawa pulang istri dari Okinawa atau Fukuoka. Ayahnya dulu dinas di militer di Okinawa, selesai bertugas pulangnya menenteng oleh-oleh istri Jepang. Ia juga bercerita tentang pacarnya dahulu, yang orang Swedia, tapi ia sudah bosan, alasan lain juga karena ia kuliah di kota yang berbeda. Lebih lanjut ia menceritakan kuliahnya yang baru masuk, ia mahasiswa termuda, ia bercerita tentang kekasih barunya, seorang cewek Asia, mereka sering ML di pagi hari, sebelum kuliah, apartment mereka bersebelahan. Ia mengaku belum pernah ML dengan lelaki, saya adalah orang lelaki pertama baginya. Ia tidak kelihatan canggung, apalagi menyesal, ia menganggap segala sesuatu harus dinikmati secara total. Kejadian semalam baginya terlalu indah, katanya :”Suatu hari saya akan datang dengan pacar saya ke sini, Bali sungguh luar biasa, saya beruntung kamu menjadi host yang sangat baik” Alex tidak menanyakan apakah saya homo atau apakah saya punya pacar, orang bule bukan orang yang busy body, tidak mau tahu urusan orang. Malam itu kami pulang dan tidur di kamar masing-masing.

Keesokan harinya jam 08.30 saya sudah siap di depan Wantilan, seberang Puri Saren dengan 17 buah sepeda, Alex menemani peserta tour, suasana pagi sangat menyenangkan. Kami bersepeda menyusuri Jalan Suweta ke utara, menyusuri sawah mampir di rumah Made Bentul, pelukis Dewi Saraswati, mampir di rumah Wayan Repot pembuat bingkai lukisan, mampir ke pengrajin beads perak dan emas di Petulu mutar ke Andong dan makan siang di daerah Ceking, sawahnya indah berteras-teras. Setelah itu kami turun ke Selatan ke daerah Mas, kami berhenti di beberapa gallery, tapi yang terbaik adalah Gallery Ida Bagus Nyana Tilem. Di situlah patung-patung kayu terbaik yang dibuat di Bali, gallery khusus bagi mereka yang berselera tinggi. Meski harganya mahal, tetapi patung mereka fine-art, langganan mereka raja-raja, ratu-ratu, presiden, dan orang-orang hebat. Bagi kaum selera rendah silahkan pergi saja ke Pasar Sukawati.

Semua peserta tour sudah ngos-ngosan, usia mereka rata-rata 50 tahun ke atas, tetapi mereka bahagia, memborong banyak barang, kesemua itu akan diantar ke rumah saya. Jam 16.00 mereka saya ajak pulang ke rumah, cukup jauh, setiba di pondok saya, mereka saya persilahkan main-main di sungai. Seperti anak kecil mereka berebutan nyemplung ke air, pelayan-pelayan saya hilir mudik mengantarkan kopi dan aneka kue yang dihidangkan di atas rumput beralas taplak kotak-kotak merah putih. Seperti piknik saja. Jam 18.00 sebuah bis kecil datang dan membawa tamu-tamu saya pulang ke Amandari, semua mencium pipi saya mereka puas dan senang dengan perjalanan hari itu. Alex juga merasa senang, katanya :”Kamu memang host yang baik, trip tadi bagus….bagus sekali !” ia memuji, saya senang juga dan merasa lega. Malam itu saya mengajak beberapa teman dekat makan malam menyambut kedatangan Alex, ada beberapa teman Bali, rata-rata yang dulu sekolah di Amrik dan beberapa yang pernah sekolah di Eropa, ada 4 teman lain dari Jawa. Kami pergi makan di Warisan, Krobokan, jauh memang ! Tapi namanya menyenangkan tamu kemana saja boleh donk ! Pemilik Warisan adalah teman baik saya Dayu Sri, makanannya enak, suasananya juga romantis. Berbagai minuman membuat Alex sekali lagi hanyut dengan romantisme, tanpa malu-malu ia memegang tangan saya, matanya menatap mesra. Teman-teman saya pada bingung berbagai komentar diumbar antara lain :”Gile mujur amat sikh lu ! dapet brondong begini lucu” Alex sudah mulai mabuk, kemanjaan dan kekanak-kanakannya timbul. Kami pulang tengah malam, di mobil Alex ketiduran, sampai di rumah ia jalan terseok-seok dan langsung naik ke kamarku. Saya melepaskan baju dan celananya, membasuh muka, tangan, kaki dan tubuhnya, saya paling benci orang naik ranjang tanpa membersihkan badan. Tapi Alex menganggap perbuatan saya membersihkan badannya sebagai bagian dari romantism, cilaka…….gairahnya langsung naik ! Kemaluannya belum dipegang sudah ngaceng, ia menarik pinggang saya dan meloloskan kaos dan melomoti puting saya habis-habisan. Celana pendek saya ditarik paksa sampai robek, Richard Geere yunior itu menindih tanpa bicara, menggauli saya penuh semangat. Tangannya menjalar seperti gurita, lidahnya disapunya ke sekujur badan saya, liurnya yang beraroma alcohol melekat dan membasahi dada, leher dan selangkangan, perut saya habis diklomoti, mulutnya mulai menghirup dan mengisap penis saya. Alex yang kekanak-kanakan itu rupanya doyan sex ! Kemaluannya yang bagai pualam nampak bergoyang-goyang dari sela-sela paha dan pantatnya. Saya mulai bergairah, saya remas pantat yang molek itu, saya gigit sampai Alex menguik, lidah saya mulai menjulur dan mengelomot belahan pantat dan lubang anusnya yang masih sempit. Anusnya bersih dan wangi, saya sedot lubang anusnya dan saya jilati sampai ludah saya menetes dan mengalir membuat bijinya geli. Alex mendesah nikmat, ia mulai lebih berani, ia membalikkan badan menghadap muka saya dan menjejalkan penisnya yang sudah merah ke mulut saya. Sluuuuuup…….hmmmmmm sebentar saja kontol itu sudah menikmati permainan lidah saya, Alex mengejan-ngejan menahan rasa birahi yang bergolak tak karuan. Pantatnya maju mundur perlahan, ia meremas pentilnya sendiri, mengusapnya dan mencubit-cubit puting di dadanya supaya keindahan bersetubuh ini semakin menggelora. Kemaluan saya sudah ngaceng-ceng-ceng-ngaceng habis-habisan. Saya mendorong mundur Alex…..dan tabrakanlah kontol saya dengan pantatnya, tanpa ampun saya dorong kemaluan saya ke titik sasaran….lubang anus Alex yang masih perawan. Bahunya saya tekan dan saya naikkan pantat sekuat-kuatnya…….kontol saya menembus lubang pantat Alex tanpa permisi…….bleeeeeeeeeeeeeesssss ! Alex menjerit keras :”Aaaaaaaghhhh !!” pelayan saya berlari naik tangga dan mengetuk pintu, mereka terkejut dengan teriakan Alex, mereka pikir Alex terjatuh dari jendela. Alex tertawa sambil menahan nyeri, ia duduk menggantung dengan setengah kemaluan saya menancap di dalamnya. Ia berbisik :”Busyeeettt…. ternyata rasanya sakit sekali, penasaran kenapa homosex senang disakiti begini !” meski merasa kesakitan Alex bertahan ingin meneruskan sodomi session ini. Ia nekad menurunkan pantatnya dan sekali lagi ia menjerit sambil tertawa keras-keras, hal ini mengakibatkan otot cincinnya merapat dan mengempot berulang-ulang. Kontol saya jadi semakin enak, tanpa sadar saya mengangkat pantat saya dan memainkan gaya mesin jahit, tangan saya menahan tubuh Alex supaya ia tetap menempel dan tidak melepas kontol yang menancap di anusnya. Gerakan naik turun dan hujaman kontol saya hanya mampu Alex mendelik, mulutnya melongo seperti huruf O besar ! Supaya ia happy, tangan kanan saya akhirnya turun dan meremas-remas kemaluannya yang menyusut, saya gosok dan kocok, saya plintir dan telapak tangan saya basahi dengan ludah supaya bisa mengocok kemaluan Alex lebih nyaman.

Alex mulai keenakan, kontolnya mencuat dan menegang, saking enak dan geli, Alex jadi sempoyongan, pinggulnya ngelendot ke kiri ke kanan sehingga memluntir dan memutar kontol saya dalam anusnya. Goyangan dan goncangan yang saya kerahkan akhirnya membuat saya mencapai klimax, saya mendorong pantat saya tinggi-tinggi, menekan bahu Alex ke bawah, kontol saya memuncratkan peju bertubi-tubi…preeeeeetttttt…preeeeettttt pet !!! sekali lagi saya hujam kontol saya sedalam-dalamnya, Alex melolong dan menjepitkan anusnya kencang-kencang. Saking kegelian, ngilu dan nikmatnya tanpa sadar kemaluan Alex saya kocok sejadi-jadinya, Alex melenguh panjang, ia semakin menggoyang-goyangkan pantatnya, bahkan ia melonjak-lonjak di atas selangkangan saya, tool saya yang sudah muncrat rasanya seperti dicengkeram, rasanya luar biasa ketat dan licin, basah, enak nggak terkira, kontol saya nggak jadi lemes deh ! Kenceng lagi dan ngaceng seperti belum ngecret. Gantian sekarang saya mengaduh dan meronta-ronta, telapak tangan saya meremas dan mengocok kemaluan Alex simpang siur, semakin dahsyat dan…..peju Alex tiba-tiba saja menerjang wajah saya seperti mitraliur…… preeeeeeeet….creeeeeeeett….creeeeeeeeet……creeeeeeet…….ceeeeet…ceeeet…ceeeet !!! Alex memekik dan memekik keenakan, tubuhnya kejang-kejang, duburnya menyempit dan menjepit tool dalam duburnya..”Aaaaaaaaaaaggggggghhhhhhhhhhhh………….Leeeeeeeeexxx !!! ……..saya nggak kuat menahan gairah untuk meledak kedua kalinya………..srrrrrrrroooooooooottttttttt…..ssssrrrooooottt !!! peju saya membanjir dan mengalir sampai jauh seperti Bengawan Solo……..paha dan selangkangan saya basah keringat, basah air mani……lelehan peju bahkan membasahi sprei putih ranjang pengantin ! Alex terkulai lemas, kemaluan saya lunglai dan membebaskan diri dari anus perjaka negeri seberang. Kami berdua ngos-ngosan, sama-sama layu, sama-sama terjerembab setelah mengarungi puncak asmara.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pulau William

Sejak kecil Wiliam, yang sehari-hari dipanggil Bill, sudah dideteksi sebagai anak jenius.Karena William lahir di negara maju [Amerika Serikat], maka dia mendapat-kan pendidikan anak dengan kebutuhan khusus. Berkat pendidikan yang tepat yang telah diberikan kepada William maka kecerdasan dan kemampuan berpikir William berkembang pesat. William atau Bill adalah seorang pemuda kulit-putih yang tampan dengan rambut hitam.Darah Asia dan Italia yang bercampur baur di tubuhnya membuat Bill tidak terlalu bule kulitnya dan tampil macho dan sexy !

Pada usia remaja William sudah berhasil lulus gelar Doktor [S-3, Ph.D.] dan menemukan berbagai hal baru. Entah apa. Aku tidak paham, karena aku gaptek [gagap teknologi] dan aku juga buta TI [Tehnologi Informasi] atau IT [Information Technology]. Salah seorang temanku mengatakan bahwa William menemukan atau mengembangkan sesuatu yang mirip dengan Friendster, Facebook atau Twitter, yang kemudian menghasilkan uang jutaan dollar Amerika Serikat [US $] .

Aku tak tahu, apakah seorang anak jenius atau anak indigo juga ada yang punya kecenderungan suka-sejenis [gay, homosex]. Tapi nyatanya, demikianlah halnya dengan William.Pada saat nama William sudah masuk daftar orang-orang kaya dan terkaya di dunia, dia baru berusia delapan-belas tahun.Tentu saja pada usia yang semuda itu nafsu-berahi atau libido William sedang hot-hotnya atau sedang pada puncaknya.Sebagai anak jenius, maka William bukan hanya pandai berpikir dan menciptakan berbagai hal baru di bidang IT, tetapi dia juga sangat inovatif dalam menciptakan permainan-permainan sex-sejenis.Fantasi atau khayalan sex-nya melambung ke angkasa seakan melampaui batas-batas atmosfir bumi!Salah satu fantasi William adalah memiliki surga [Surga Dunia] dimana dia bisa berbuat semaunya dan sesukanya.

Kebetulan salah satu hobby William adalah travelling.Dengan kekayaannya yang tak akan habis-habisnya sampai beberapa turunan, maka William bisa travelling kemana saja. Tapi salah satu favorit William adalah ke Pasifik Selatan.Di wilayah itu ada beberapa negara pulau kecil yang menjadi tujuan wisata di Pasifik.Bahkan kemudian William tertarik untuk tinggal di salah satu negara di Pasifik Selatan dan dia dianugerahi hak sebagai Warga Negara Kehormatan [Honorary Citizen]. Hak itu diberikan karena William telah membangun beberapa sekolah dan rumah-sakit bagi penduduk negara sialan itu dan dia juga dekat dengan orang-orang yang berkuasa disitu. Dengan uangnya yang hampir tidak terbatas maka William bisa berbuat apa saja!

Demikianlah, dengan status Warga Negara Kehormatan maka William diboleh-kan membeli dan memiliki tanah “eigendom” di negara kecil itu. William kemudian membeli sebuah pulau di utara. Pulau itu terpencil letaknya,luasnya kurang dari satu hektar dan sama-sekali tidak berpenduduk. Akan tetapi pulau itu banyak ditumbuhi tanaman sehingga suasananya seperti hutan kecil.

Dengan kekayaannya, William membangun sebuah rumah, dermaga, lapangan terbang kecil[air strip] dan berbagai fasilitas lain seperti pembangkit tenaga listrik mini dan instalasi penjernihan air. William lalu mempekerjakan beberapa remaja penduduk asli [semuanya laki-laki] untuk mengurus pulau itu dan melayani diri-nya.Tentu saja William hanya merekrut pemuda-pemuda yang berwajah tampan, bertubuh atletis,ketat-berotot,berkontol besar[sunat],berjembut dan berbulu ketek lebatt!William juga membayar suatu perusahaan penerbangan pesawat kecil New Zealand untuk membuat jadwal khusus singgah di pulaunya sebulan sekali.Di luar jadwal penerbangan itu,maka pulau milik William itu hanya bisa dijangkau dengan kapal atau perahu melalui jalur laut.

RETURN TO EDEN

William memberi nama pulau miliknya itu Return to Eden [Kembali ke Eden] yang disingkat RTE dan William sangat suka tinggal disitu.William tak perlu memindah -kan kantornya, meskipun basis usaha William [Markas Besar, Head Quarters] terletak di Pantai Barat Amerika [San Francisco].Sebab,dengan IT atau Informasi Tehnologi modern maka William pun bisa mengendalikan kantornya dari RTE itu dengan telepon,e-mail faksimili atau cara lainnya. Sejak memiliki RTE, William hampir tidak pernah lagi pulang ke daratan Amerika Serikat [mainland].

Sebagai seorang lelaki gay tentu saja Wiliam amat terpikat pada lelaki penduduk asli Pasifik Selatan itu! Betapa tidak, lelaki disana berkulit cokelat-terang dengan tubuh besar,kekar,atletis,berotot.Sebagai lelaki homosex[dan seperti terjadi pada semua laki-laki homosex] maka sejak masih umur empat tahun William sudah ter-tarik secara sexual pada sesama jenis. Meskipun William orang kulit putih tetapi dia menyukai lelaki yang berkulit coklat atau hitam yang dianggapnya lebih sexy!

Setelah beberapa kali berkunjung ke negara Pasifik Selatan itu William juga jadi tahu bahwa kontol lelaki disana juga besar-besar semua dan disana dianut tradisi sunat. Karena, mereka itu satu rumpun dengan bangsa Samoa dan Maori yang menganut tradisi sunat pada lelaki. Sehingga, semua penduduk asli lelaki dewasa dan remaja disana sudah tidak-berkulup lagi [cut]. Mereka “dipotong kulupnya” pada usia menjelang remaja dalam suatu upacara tradisional yang hanya boleh dihadiri oleh lelaki dewasa. Dalam upacara itu pemuda remaja yang akan disunat berbaring terlentang di tanah dalam keadaan bertelanjang bulat.Beberapa orang laki-laki yang kekar dan kuat memegangi tangan dan kaki pemuda itu kuat-kuat agar tidak bergerak atau berontak waktu kulupnya dipotong!. Kemudian seorang dukun menarik kulup pemuda itu jauh-jauh ke depan dan dengan sebilah pisau dukun sialan itu memotong kulup pemuda itu:”Sret!”.Diikuti jerit kesakitan pemuda itu :”AGH!”,dan potongan kulup pemuda itu terlempar berlumuran darah.Mereka yang hadir pun bersorak dan bertepuk-tangan sambil berteriak serentak secara bersama-sama [in unison], kata mereka:

“HE IS NOW A MAN!”,artinya kira-kira:”DIA SUDAH JADI LELAKI SEKARANG!”Lalu sang dukun mengolesi luka-sunat pemuda itu dengan minyak-sunat dan pemuda itu dibiarkan telanjang-bulat dalam keadaan sangat kesakitan! Agar dia merasa-kan sendiri betapa nyerinya proses menjadi laki-laki dewasa: “The Passage to Manhood”.

Tentu saja William suka sekali hadir di acara sunatan pemuda seperti itu.William terangsang melihat geliat-gelinjang kaget [karena amat kesakitan] dari pemuda yang disunat itu.William juga suka sekali melihat tarikan rona kesakitan di wajah pemuda remaja yang disunat itu! Sambil menonton acara penyunatan itu, diam-diam kontol William pun tegang-mengeras : ngaceng !

Uniknya, karena semua yang hadir lelaki dan acara selalu dilakukan ditepi pantai dan demi “solidaritas” dengan pemuda yang disunat, maka semua mereka yang hadirpun bertelanjang bulat!William suka-sekali melihat lelaki penduduk asli yang kekar,berotot,berkulit coklat terang,dan berkontol besar itu bertelanjang-bulat. William juga tak mau kalah dan dia juga ikutan telanjang-bulat – meskipun setiap kali melihat pemuda yang disunat itu tergelinjang kaget karena kesakitan – kontol William jadi ngaceng !!! William juga rajin menjaga bentuk tubuh dan ototnya.Dia juga sudah sunat dan ukuran kontolnya juga lumayan gede,maklum dia berdarah Caucasian [Kulit Putih, Eropa].

PERMAINAN CABUL

William sudah lama ketagihan main-cabul dengan penduduk asli negara sialan itu.Penduduk asli di negara itu amat terbuka pada pembaharuan dan perubahan. Oleh karena itu,ketika William memperkenalkan hubungan sex-sejenis – pemuda-pemuda remaja [lelaki] disana tak ragu-ragu untuk mencoba dan menikmatinya. Apalagi William kemudian memberi sekedar tip pada pemuda remaja lelaki yang baru dicabulinya.Lapangan-kerja sangat terbatas di negara pulau itu. Banyak di antara angkatan kerja negara itu yang pergi ke Australia dan New Zealand untuk mencari pekerjaan.Sebagian dari para pemuda itu ikut recruitment scheme yang disediakan Australia setiap musim panen buah-buahan.Para pemuda itu direkrut dan lalu dipekerjakan sementara – sebagai pemetik-buah di Australia!

“Lapangan-kerja baru” yang diperkenalkan William di ibu-kota negara itu [yaitu pasang-badan untuk dicabuli] segera tersebar dari mulut ke mulut. Akibatnya, sebelum William pindah ke pulaunya, banyak pemuda remaja yang datang ke hotel tempat William menginap di ibu-kota negara itu untuk menawarkan dirinya jadi pelampiasan nafsu William.Jika pemuda yang datang memenuhi selera-cabul William, maka pemuda itupun “dipakai” selama beberapa hari untuk dicabuli.

Bahkan William suka menyuruh pemuda yang sedang dipakainya untuk telanjang bulat sepanjang hari di kamar hotel.Sehingga, William bisa menggerayangi tubuh pemuda remaja itu, mengisap kontolnya, atau menyodomi silitnya [lobang pantat, bool] kapan saja dia mau! Jika pemuda yang datang itu tidak memenuhi selera cabulnya,maka William pun memberinya tip sekedarnya dan menyuruhnya pergi!

William juga suka sekali melihat pemuda-pemuda Pasifik main rugby bertelanjang -dada.Otot-dada mereka amat menonjol ke depan dan dihiasi oleh sepasang puting-susu yang tegang dan melenting. Perut mereka rata dan membentuk six-pack,berkat kegiatan fisik mereka mendayung perahu di laut setiap hari untuk mencari ikan!Bulu-ketek lelaki Pasifik Selatan umumnya lebat semua dan William suka melihatnya! Pada waktu pemuda-pemuda itu berlatih rugby, William betah sekali menonton berjam-jam.Sebetulnya,dia bukan menonton pertandingan rugby yang “hanya begitu-begitu saja”,melainkan dia “menonton” tubuh ketat telanjang dada dan bulu-ketek serta bulu-perut mereka[kalau ada].

Oleh karena itu, William juga membangun lapangan olah-raga di Pulau Return to Eden itu.Sehingga dia juga bisa menyaksikan pertandingan rugby yang dilakukan para kacungnya. Semula William menyuruh kacung-kacungnya main rugby ber- telanjang-bulat. Tapi kemudian William jadi khawatir kalau biji-peler mereka jadi kondor [burut,hernia] akibat berolahraga tanpa kancut penahan biji-peler.Karena itu William mendesain [merancang] pakaian-dalam laki-laki [suatu suppoter atau jockstrap] yang bisa menahan biji-peler, agar tidak kondor.Tapi bagian kontolnya tetap terbuka.Sehingga kontol si pemakai tampak “nongtot” keluar dan William dapat memandangi kontol kacung-kacungnya sepuas-puasnya waktu mereka sedang main rugby! Ta’i !

Waktu cerita ini ditulis, kacung-kacung William sudah biasa main rugby mengena-kan supporter rancangan William itu,yang bagian kontolnya terbuka.William amat terangsang melihat kacung-kacungnya yang berkulit coklat,bertubuh kekar,ketat berotot itu main rugby nyaris telanjang-bulat dengan kontol mereka nongtot dari jockstrap rancangan William itu.Oleh karena itu sambil William menonton rugby di pulaunya itu William juga diam-diam ngeloco sampai pejuhnya jadi muncrat: CROOOOT! CROOOOT! CROOOOT!

TELANJANG BULAT

Di Return to Eden William menyuruh pemuda-pemuda yang bekerja jadi kacung-nya untuk bertelanjang-bulat sepanjang hari.Para pemuda penduduk asli itu tak keberatan bertelanjang-bulat, karena di desa-desa mereka, mereka juga biasa hanya berpenutup sekedarnya – yaitu sarung pendek tanpa baju. William sendiri juga ikutan, dia selalu telanjang bulat saja. Apalagi mereka jadi bisa menghemat pakaian mereka.Untuk menetralisir bau-badan pemuda-pemuda Pasifik Selatan itu William menerapkan “hukum besi wajib mandi dua kali sehari” kepada para kacung-nya.Mereka juga diharuskan mengoleskan deodoran stick di kedua belah -ketiak mereka setiap beberapa jam sekali. Deodoran-stick itu dibeli oleh William dan diimpor langsung dari New Zealand atau Australia.

Untuk menghilangkan bau-badan para kacungnya,dengan kekayaan pribadinya, William juga berkonsultasi dengan para dokter spesialis kulit,ahli kosmetik, dan pakar obat tradisional Cina dan Asia Tenggara. Setahun kemudian pakar-pakar yang disewa William berhasil menemukan ramuan yang mampu menghilangkan bau-badan para remaja Pasifik Sialan sialan itu.Bulu-ketek mereka juga tak perlu dicukur untuk mencegah bau-badan!William lalu membeli paten obat bau-badan sialan itu agar dia bisa memproduksi dan menjualnya ke pasar kapan saja dia mau atau dipakai sendiri untuk menghilangkan bau-badan kacung-kacungnya!

Jika berada di pulaunya,maka kemana-mana William selalu didampingi oleh salah seorang kacungnya itu.Jika sedang menonton TV atau sedang santai berbaring dipantai,selalu ada seorang pemuda penduduk asli yang mendampinginya.Dalam keadaan begitu tangan William selalu aktif dan pro-aktif menggerayangi bagian -bagian tubuh pemuda yang berada di sampingnya itu [telanjang-bulat].Bagian tubuh kacung-kacungnya yang jadi favorit yang dan sering digerayangi William adalah : puting susu, dada, perut, kontol, biji-peler, ketiak dan hamparan jembut! Kegiatan rutin itu selalu berakhir dengan acara perlocoan [pengonanian] kontol pemuda itu sampai pejuhnya muncrat keluar : CROOOOOOT! CROOOOOOT! CROOOOOOT!Pemuda-pemuda remaja itu merasa OK-OK saja diloco kontolnya oleh William, karena memang mereka sedang berada dalam usia “suka ngeloco” [coli, onani, masturbasi] atau sedang berada dalam masa yang dikenal sebagai: “spermy youth period” [masa remaja penglocoan].

Sekali-sekali William juga menyodomi lobang-pantat pemuda-pemuda itu atau William yang minta boolnya dientot oleh pemuda-pemuda sialan itu[gantian].Jika sedang kemaruk lelaki, maka William juga tidak ragu mengisap kontol pemuda- pemuda itu dengan mulutnya.Tentu saja sampai pejuh mereka muncrat keluar : CROOOOOT! CROOOOOT! CROOOOOT! Pejuh yang muncrat itu langsung dihirup dan ditelan oleh William.

Supaya kacung-kacungnya mempunyai vitalitas tinggi dan tetap bisa ngaceng keras dan lama,serta mampu terus-menerus mengeluarkan pejuhnya setiap saat, maka William memesan Ginseng Peru [Maca] untuk menambah gairah-sexual, berahi, libido, dan vitalitas sexual dirinya dan para kacungnya!Selain itu,secara rutin, William juga membagikan Viagra dan Cialis kepada kacung-kacungnya itu!

William juga menjaga menu-makanan pemuda-pemuda remaja yang jadi kacung-nya itu.Secara khusus William mengimpor daging-kambing dan telor-ayam dari New Zealand atau Australia agar kacung-kacungnya bisa makan daging-kambing dan telor tiap hari dan kontol mereka jadi ngacengan seperti kontol Arab. Kacung -kacungnya juga disuruh minum madu Arab yang diimpor dari Saudi Arabia atau Yaman.Menurut William,madu Arab sangat manjur untuk meningkatkan libido dan produksi pejuh.Majoon juga diimpor dari India agar dapat ditenggak oleh kacung-kacung William dengan dosis tiga kali seminggu.

Oleh karena itu, semua kacung William di Pulau Return to Eden [yang semuanya selalu harus bekerja sambil telanjang-bulat itu],kontolnya selalu tampak sedang ngaceng-berat [atau sedang setengah ngaceng]!Kacung yang sedang setengah ngaceng adalah kacung yang kontolnya barusan diloco William sampai pejuhnya muncrat-keluar tak tertahan :CROOOT! CROOOT! CROOOT! Banyaaak sekali! Sedangkan William sendiri sudah ngacengan dari sononya.Sebab kontol dan biji -peler William memang gede banget – ukuran monster cock – nyaris menyamai ukuran kontol kuda Arab atau kuda Australia ! Padahal William juga masih ikutan makan daging-kambing,telor-ayam,madu Arab dan dia masih menenggak Viagra, Cialis, Maca, dan Majoon bersama kacung-kacungnya.Tak heran jika William jadi hypersex ! Kata William :

“That is what I want : Paradise on Earth.”, artinya: “Itu yang gw mau-in : Surga Dunia”.

Pernah suatu pagi William iseng dan dia mengocoki kontol beberapa pemuda yang jadi kacungnya di Return to Eden itu dan William tak menyia-nyiakan pejuh kental para pemuda Pasifik Selatan itu.Oleh karena itu William menghirup seluruh pejuh mereka yang muncrat pagi itu, sampai perutnya kekenyangan ! Ternyata, pagi itu ibu William dari Amerika meneleponnya dan bertanya :

“Have you had your breakfast Bill”,artinya :”Loe udah sarapan blon,BIll ?”, dan dengan enteng William menjawab :

“Yes Mum.I had. I’m full”, artinya : “Iye Nyak. Udeh sarapan. Aye udeh kenyang”. Tentu saja maksud William perutnya kekenyangan akibat minum pejuh pemuda-pemuda Pasifik Selatan itu. William pernah menceritakan gaya hidupnya di Pulau Return to Eden itu kepada temannya yang tinggal di Belanda.Kebetulan teman-nya yang orang Belanda itu sama seperti William – juga lelaki homosex – dan dia berdecak kagum mendengar cerita William. Katanya dalam Bahasa Belanda :

“Lekker leven,zeg!”, artinya “Wah hidup enak, ya!”

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mas Dodi

Namanya Dodi, dia ada di daerah tempat gue tinggal karena ada urusan pekerjaan selama 1 minggu. Umurnya udah nyaris 40, tapi badannya masih bagus biarpun perutnya agak sedikit gendut tapi masih proporsional. Aslinya dari semarang, kulitnya coklat tingginya kurang lebih 175an karena ga jauh beda sama gue.

Dia tinggal di tempat gue kos, persis disebelah kamar gue, selama satu minggu aja. wajahnya yang dewasa en terlihat cowok deh, bikin gue ser-seran tiap liat dia. Tapi gue sama dia ga punya banyak kesempetan bicara karena dia selalu pulang malam. Ada kebiasaan dia yang gue suka banget. Tiap dia mandi pasti cuman pake celana dalem aja keluar dari kamarnya.

Kamar gue ada di lantai 2 barengan 2 kamar laennya, Kebetulan kamar mandi persis disebelah kamar gue, jadi kalo mo ke kamar mandi pasti lewat kamar gue. Awalnya gue lagi browsing di laptop sekitar jam 10an pas dia pulang. Saat itu pintu kamar gue emang gue buka, ga lama dia keluar cuman bawa alat mandinya plus handuk kecil di sampirin di pundaknya dan lewat depan kamar gue cuman pakai celana dalam segitiga. Gue kaget banget sekaligus terangsang pastinya.

Gak lama dia balik lagi. “Mas, kamar mandinya ada yang pakai ya?” tanya dia. “Oh enggak, tadi saya dari kamar mandi mungkin pintunya ketutup, lampunya lupa matiin” jawab gue berusaha setenang mungkin meskipun gue jelas banget ngeliat jendolan di depan celana kolornya dan bulu jembutnya yang sebagian kecil menyeruak keluar dari samping-samping celana kolornya. “Makasih ya,” katanya. DIa balik lagi ke kamar mandi dan itu satu-satunya percakapan gue sama dia sampai akhirnya malam sabtu itu.

Dia pulang lebih sore dari biasanya. “Tumben mas udah pulang?” tanya gue pas papasan mau keluar beli makan. “Iya, kerjaan udah selesai.” jawabnya. “Sepi banget ya?” “Iya mas, kalo dah hari jumat gini yang laen pada pulang, keluar dulu mas nyari makan,” Dia ngangguk dan gue ga ketemu dia sampe sekitar jam 12an ada suara gembok dipintu gerbang di ketok-ketok manggil nama penjaga kos gue.

Kayaknya si Pak’e lagi ga ada atau mungkin dah tidur gue keluar dari kamar dan nengok ternyata . “Sori mas ngerepotin,” kata dia. “Saya cuman sebentar sih jadi ga dikasih kunci gerbang” “Gak apa-apa mas,” kata gue “Belum tidur mas?” tanyanya setelah pintu gerbang dibuka dan kita naik tangga ke lantai 2. “Belum, masih nonton dvd” Dia balik ke kamarnya dan gue lanjut nonton dvd.

Trus dia ke kamar gue yang emang ga pernah gue tutup kecuali mandi sama tidur. “Boleh ikut nonton mas, belum bisa tidur” tanyanya. “EH silahkan aja mas, baru mulai kok filmnya,” .. “Keluarga dimana mas?” tanya gue setelah beberapa lama nonton. “Anak istri di semarang, besok juga pulang.” jawabnya. “Cepet amat,” “Iya, kerjaan dah selesai makanya hari ini bisa pulang cepet. Kalo mas sendiri keluarga dimana?” “Di Palembang mas,” “Wah jauh juga ya, pulangnya tiap kapan?” “Ya dua bulan atau tiga bulan sekali” “Trus istri anaknya?” “Saya belum punya mas,” Dia tertawa “Saya kira udah ada. Nunggu apa lagi mas?” Biasanya kalo di tanya seperti ini gue bakal bilang “Nunggu calonnya”, tapi entah kenapa tiba-tiba gue bilangnya ke dia, “Saya gak suka cewek mas”

Deg .. jantung gue berdebar setelah ngomong itu, gue sempet liat dia agak bingung dengan jawaban gue barusan, tapi gue bodo amat, toh besok ga liat dia lagi ini. “Maksudnya belum ada cewek mas?” tanya dia mastiin. “Enggak mas, saya ga suka cewek, saya sukanya cowok” jawab gue. Dia terdiam sejenak trus ngeliat TV “Maksudnya mas ini sukanya sama cowok, kayak gay gitu?” tanya dia akhirnya. Gue ngangguk. “Oh” komentarnya pendek, trus matanya ke TV lagi.

“Ga pernah nyoba sama cewek mas? cewek itu enak banget loh mas,” kelakarnya Gue ketawa. “belum pernah sama cewek, lebih Enakan cowok mas” “Ya belum dicoba udah bilang ga enak, saya aja sebelum nikah dan punya anak sering gonta-ganti cewek,” “Sampe digituin juga mas?” tanya gue mancing “Iya, kayaknya rugi kalo enggak,” jawabnya sambil senyum. “Bener deh mas, pasti sekali kena jadi pengen sama cewek terus,” “Nah itu mas, saya udah kena sama cowok, jadinya pengen sama cowok terus” DIa tertawa lagi.

“Memangnya kalo sama cowok kamu ngelakuin apa?” tanya dia lagi. “Ya isep-isep kontol, sampe anal juga mas” jawab gue kepalang basah, sekalian aja gue vulgarin kata-kata gue. “Emang ga sakit mas?” “dulu-dulu waktu pertama sih iya mas, tapi sekarang mah malah enak hehehe” Dia tersenyum lagi. “Tapi bener deh mas, mas harus coba sama cewek juga, saya yakin mas pasti suka kalo dah nyoba,” kata dia lagi. “Hehe mas ini, mas juga kan belum pernah nyoba sama cowok kan, masa udah bilang ga suka,” Dia tertawa kikuk, “Ini mah kalo mas mau aja ya,” kata gue. “Kalo mas mau coba, mas boleh kok nyoba sama saya,” Dia ga jawab, cuman senyum aja dan akhirnya kita berdua terdiam nonton tivi lagi.

“Kayaknya sekali-kali boleh juga mas,” kata dia akhirnya. Gue senyum, “bener nih mas?” dia ngangguk, “pengen tau juga rasanya, tapi saya ga mau ngisep punya mas yah,” kata dia Wih gue girang bukan kepalang, laki-laki straight yang ternyata kena gue gaet. Gue bangun dari tempat tidur dan berjalan mau nutup pintu “Mas ke tempat tidur aja,” kata gue sambil nutup pintu. Dia terlihat agak gugup berbaring di tempat tidur.

Gue ga mau ngerusak suasana dengan berusaha mencium dia, cowok begini cuman ada seks di otaknya, jadi gue langsung ngeraba selangkangannya. Gue remes-remes tenjolan kontol dicelana pendek yang dia pakai. Dia terus memperhatiin gue. Kedua tangan gue sekarang ngelus-elus kedua pahanya yang berbulu lebat dan ujung-ujung jari gue masuk ke celananya sampai mengenai biji pelernya yang masih kebungkus kolor. beberapa kali gue lakuin itu, dan sekarang gue nyiumin tonjolan kontolnya dari luar celana yang semakin terlihat bengkak, dan sesekali gue gigit pelan.

Trus gue gulung bajunya ke atas dan berusaha membukanya, tapi dia berinisiatif membukanya sendiri. Gue jilatin puting kirinya yang sedikit berbulu di sekelilingnya dengan ujung lidah dan menghisapnya. Gue denger suaranya melenguh pelan, pertanda dia menyukainya. Gue gigit-gigit pelan dan kemudian menghisapnya lagi. Tangannya sekarang mulai mengusap-usap rambut gue, kemudian hal yang sama gue lakuin ke puting kanannya dan dia terus melenguh pelan.

Perlahan gue kecup pelan-pelan setiap jengkal kulit badannya menjuju ke pusar dan sedikit bermain disitu. Pusarnya seksi, banyak bulu-bulunya, kemudian kecupan gue beralih ke antara bawah pusarnya dengan karet celana atasnya yang sudah agak turun. Bulu-bulunya jelas mengarah ke suatu tempat di dalem celananya. Kemudian gue usap-usap jendolannya lagi dan kemudian gue turunin celana pendeknya sampai lepas.

Ternyata kepala kontolnya sudah mencuat keluar dari karet celana dalamnya, warnanya elap keunguan, besar banget sampe gue kaget dan ngebayangin kalo kepala kontol sebesar itu di dalem lobang pantat gue. Dari lobang di kepala kontolnya udah keluar cairan bening yang menetes ke samping kepala kontolnya dan sedikit membasahi kulit daerah itu. Sekarang gue jilatin lagi sisi-sisi dalam kanan kiri pahanya hingga karet samping celana dalamnya yang jembutnya keluar menyeruak.

Bibir gue mengecup biji pelernya yang masih terbungkus kolor dan kemudian ujung lidah gue menyusuri garis batang kontolnya yang tercetak jelas di kolor sampai mengenai lubang kontolnya yang masih mengeluarkan cairan bening, gue jilat-jilat disitu dan rasanya agak asin. Gue lirik dia terus memperhatikan gue, kedian gue isep cairan bening dia ke mulut gue dan kembali ujung lidah gue bermain ke lobang kontolnya, muter-muter di bawah garis bawah kepala kontolnya, sampe dia melenguh keenakan.

“Ah .. isep aja, udah ga tahan” ujarnya gue tersenyum dan kemudian menurunkan celana dalamnya sampai lepas. Bener-bener pemandangan yang luar biasa, kontolnya punya panjang sekitar 17cm, tapi sangat gemuk, mungkin lingkarannya sebesar 5cm dan dihiasai hamparan rimbunan jembut yang luas dan lebat. Begini nih kalo kontol cowok straight, mereka cuek banget sama jembutnya tumbuh liar, ga repot-repot ngerapihin kayak cowok gay, jadinya cowok gay yang punya fetish sama jembut lebet jadi bener-bener terangsang. Kedua biji pelernya juga tertutup sama rimbunan jembut yang tumbuh di daerah itu. Gue cium rimbunan jembutnya, meskipun lebet banget ternyata wanginya tetep seger, tanda dia juga ternyata bersih.

Gue ngejilatin garis di batang kontolnya yang bawah dan mengecup kepala kontolnya yang semakin banyak ngeluarin cairan bening dan kemudian memasukkan kepala kontol yang gemuk banget itu kedalem mulut gue. “Ahhh ..” dia mendesah agak sedikit lebih kuat ketika kepala kontolnya gue masukin ke dalem mulut dan gue sedikit kenyot agak keras. Agak susah masukin dan ngulum kepala kontol itu, tapi gue berusaha merilekskan sebisa mungkin mulut gue dan akhirnya kontol gendut itu berhasil memenuhin mulut gue.

Gue sedot-sedot kuat dan dia suka, terbukti dengan erangannya yang lagi semakin agak keras dan jari-jarinya ngacak-acak rambut gue. Gue keluarin batang kontol itu dari mulut gue, karena nafas gue sesek banget. “Mas, kontolnya gede banget, ampe sesek nafas ngisepnya,” DIa senyum dan berkata, “Suka nggak,” “SUka banget mas,” Sekarang giliran biji pelernya gue garap, satu-satu biji pelernya gue masukin mulut, gue gelitik pake lidah gue isep perlahan dan gue ngerasain dia menggelinjang, apalagi saat ujung lidah gue mainin daerah antara lobang pantat dan bji pelernya, dia menggelinjang lebih hebat lagi.

Gue bener-bener dah ga tahan, “Mas entot saya ya,” ujar gue. dia ngangguk. Trus gue ambil kondom dan pelicin. Gue ga ngebiarin dia masang kondom sendiri, gue pengen masangin pake mulut gue. Gue taruh kondom diujungkepala kontolnya dan dengan gerakan menghisap gue gulung kondom ke batangnya, ternyata susah karena batangnya yang gemuk itu, sehingga akhirnya gue pake tangan juga.

Setelah menaruh lebih banyak cairan pelicin daripada biasanya di lobang gue dan udah ngolesin pelicin juga di kontol dia yang sekarang terbalut kondom. “Mas, nanti masukinnya pelan-pelan ya, soalnya kan ini bukan memek, jadi harus agak pelan pertamanya,” Dia ngangguk dan kemudian gue taruh bantal di bawah pantat gue biar lobang gue bisa dia liat, dan gue bantu arahin kepala kontolnya ke lobang gue.

Dia mulai menekan pelan, tapi meskipun dia berusaha sepelan mungkin dan pelicinnya udah banyak tetep aja susah, karena kepalanya memang besar dan lobang gue kecil. Akhirnya dia lebih kuat menekan dan gue menggigit bibir bawah menahan rasa sakit saat kepala kontol itu berusaha masuk. Meski gue berusaha serileks mungkin tetep aja rasa sakitnya ada karena ukuran yang jumbo itu. sampai akhirnya kepala kontolnya berhasil masuk semua, dia menahan sedikit agar gue membiasakan diri dengan kepala kontolnya. “Tenang aja mas,” kata dia. “Saya udah biasa ngentot cewek, jadi saya tau triknya yang penting mas rileks dulu,” Gimana ga terangsang gue pas dia ngomong itu. “Lanjut?” tanyanya. Gue ngangguk.

Dia kembali menekan batang kontolnya perlahan sampai akhirnya tanpa gue baru sadar udah masuk semua batang kontolnya setelah gue ngerasain gesekan kasar jembutnya di kulit pantai gue. Terasa bener-bener penuh. Dia mulai menarik batang kontolnya perlahan hingga sebatas kepalanya dan menekan lagi, terus begitu sampai tanpa gue sadarin kecepatan dia ngerojok lobang pantat gue ternyata udah semakin cepat. Gue ngeliat mukanya yang jantan dan badan telanjangnya yang bermandikan keringat sedang memompa batang kontolnya di lobang gue bener-bener bikin gue terangsang hebat dan kontol gue ngaceng sekeras-kerasnya bahkan tanpa gue sentuh.

Rasa enak mulai terasa di suatu tempat di dalem sana dan dengan cepat menyebar ke seluruh badan gue, “Arrggggghhh .. shhhhh .. ahhhh.. mas, enak mas” erang gue saat dengan konsisten dia ngerojok lobang gue. “Enak gak, suka kontol saya masukin lobang kamu,” ujarnya terengah sambil menatap gue “Ahhh .. mas enak mas, enak banget ..” sekarang kedua kaki gue melingkar dipinggangnya dan dia semakin bebas ngentotin gue. GIla bener-bener gila rasa enaknya gak bisa gue lukisin. Mungkin hanya psikologis gue karena dia laki-laki straight dan berhasil gue rayu buat ngentot gue, selaen emang entotan yang bener-bener enak.

Bunyi pok pok pok saat badan bawahnya menghajar lobang gue juga sebuah rangsangan audio yang luar biasa, bunyi nafasnya yang terengah-engah, keringatnya yang bercucuran, apalagi dia suka mengencangkan irama entotannya sekenceng-kencengnya, pejuh gue berkali-kali nyaris muncrat kalo gak sekuat tenaga nahannya. Dia juga saat seluruh batang kontolnya sudah masuk semua suka sekali meliuk-liukkan pinggulnya sehingga batang kontolnya terasa ngebor berputar di lobang gue.

Suara erangan pelan dia sekarang semakin menjadi-jadi… “Arrgghhh.. lobang kamu enak .. arhhh, ahhh .. shhhh” Kocokan yang luar biasa itu akhirnya membuat pertahanan gue jebol, rasa enak akibat gesekan dan hantaman batang kontolnya di lobang gue bener-bener keterlaluan enaknya. Gue ga sanggup lagi. “Masss, ahh mas .. saya mau keluar .. arhhhhh ..” Kedua kaki gue yang melingkari pinggangnya semakin kuat melingkar .. Ahhhh.. ahhh .. ahh kepala gue berayun-ayun atas bawah saat pejuh gue mau keluar … dan Crot .. crot .. crot .. crot pejuh gue muncrat berkali-kali di atas perut gue bahkan sampai kena hidung dan bawah mata karena begitu kuat semburannya. Luar biasa enaknya. Gue terngah-engah mengatur nafas, sementara dia terus menggenjot gue dan wajahnya yang coklat sekarang terlihat bersemu keunguan, mulutnya mengernyit memperlihatkan kedua baris giginya yang menahan dan erangannya semakin menjadi-jadi.

Gue yakin dia mau keluar. “mas, jangan keluar di dalem ya, keluarin dimulut saya aja,” pinta gue. DIa nggak menjawab, bahkan hantamannya semakin menjadi-jadi dan tiba-tiba dia mencabut batang kontolnya dan dengan cepat melepas kondom lalu memasukkan sebagian kepala kontolnya ke mulut gue yang udah siap…

Arrhhhhhhhhhhh .. dia melolong tertahan .. dia mengejang sampai terlihat urat-urat lehernya dan Crot .. crot .. crot .. crot … pejuhnya yang hangat muncrat berkali-kali dalam mulut gue dan sebisa mungkin gue telen semuanya. hhhh .. dia mengatur nafasnya tapi gue ga ngelepasin batang kontolnya dari mulut gue. Gue berusaha ngisep seluruh pejuhnya sampai habis.

Akhirnya dia menarik batang kontolnya dan langsung merebahkan badan telanjangnya yang penuh keringat kayak habis mandi itu di samping gue, masih terus mengatur nafasnya. setelah dia semakin normal bernafasnya gue naik ke atas badan telanjang dia. Dia menatap gue. “Gimana mas enak kan ngentot sama cowok?” tanya gue. Dia tersenyum dan narik badan gue ke badan dia. “Bener-bener gila, kamu emang hebat bikin saya terangsang,”

dan akhirnya kita membersihkan diri. Pagi-pagi gue dah pergi ke tempat temen dan saat dia pergi gue ga ketemu sama dia. Seks sama dodi yang bener-bener luar biasa.

Posted in Uncategorized | Leave a comment