Seleksi Paskibra

JULIAN

Julian adalah anak-tetanggaku. Kami tinggal di gedung apartemen yang sama. Walaupun umurku dengan Julian terpaut jauh – tetapi aku kenal-baik dia – seperti teman.Sebab,kami terkadang nge-gym bareng dan jogging bareng. Julian masih duduk di SMA/SMU [High-School].Aku suka Julian, karena dia anak baik dan rajin belajar – dia juga seorang cowok yang cakep.Meskipun begitu,Julian bukan anak alim juga. Sekali-sekali dia juga ikut kebut-kebutan mobil dan motor.Pernah juga Julian tubuhnya berlumuran darah karena ikut tawuran pelajar. Pada suatu kali Julian lama tak kelihatan.Kalau aku jumpa Julian memang secara kebetulan saja -bukan janjian.Misalnya,kebetulan aku jumpa dia di gym atau jumpa dia di jogging track. Waktu aku jumpa Julian lagi, dia bercerita bahwa dia baru saja keluar dari asrama. Ikut suatu pelatihan, yaitu “Pelatihan Untuk Pemuda Calon Pengibar Bendera”. Kata Julian,pelatihan itu terpisah untuk anak laki-laki [pemuda] dan untuk anak perempuan [pemudi].Tentu saja Julian ikut pelatihan untuk laki-laki. Berikut ini adalah pengalaman yang dialami Julian selama dia ikut pelatihan itu.

CERITA JULIAN

1. Orientasi

Sebetulnya aku tidak berminat ikut “Pelatihan Untuk Pemuda Calon Pengibar Bendera”, tapi Kepala Sekolah-ku mengatakan bahwa aku mewakili sekolah dan sepanjang orang-tuaku tidak melarang – aku wajib ikut pelatihan itu. Yah, aku tak punya pilihan – karena orang-tuaku tidak melarang.Aku juga tak mau minta pada orang-tuakau agar aku dilarang ikut pelatihan sialan itu. Dalam hati kecilku ada sedikit rasa ingin tahu seperti apa pelatihan yang terkenal itu.Pelatihan itu makan waktu sebulan dan mengambil waktu liburanku yang dua minggu. Jadi, aku rugi pelajaran dua minggu dan rugi liburan dua minggu.Tapi menurut Kepala Sekolah, aku akan diberi pelajaran tambahan sesudah pelatihan itu agar tidak ketinggalan pelajaran.

Pelatihan itu diadakan di suatu asrama militer atau tepatnya di suatu lembaga pendidikan militer.Sebelum pelatihan dimulai, kami para peserta, harus mengikuti orientasi selama dua hari. Orientasi itu lebih banyak mengenalkan disiplin militer, tata-cara militer, dan baris berbaris. Meskipun orientasi itu hanya makan waktu dua hari tapi karena sifatnya sangat intens – apa yang didapat peserta selama orientasi amat membekas – seperti pencucian otak atau brain-washing. Mungkin karena para pelatih atau instruktur dalam orientasi itu anggota militer semua dan mereka bersikap tegas dan keras ! Setiap kekeliruan diberi hukuman, meskipun bukan hukuman badan seperti dipukul,ditampar atau dicambuk – tetapi sifatnya hukuman fisik,seperti push up, sit up dan pull up. Penegakkan disiplin yang keras seperti itu ternyata diterapkan sepanjang pelatihan sialan itu.

2. Pemeriksaan Kesehatan

Setelah orientasi, kami harus menjalani pemeriksaan kesehatan.Untuk itu semua peserta yang semuanya laki-laki dan jumlahnya tujuh-puluhan orang itu dikumpul -kan di suatu lapangan terbuka bertelanjang-bulat. Kami disuruh menanggalkan-pakaian di kamar kami di asrama dan setelah itu kami harus berbaris telanjang-bulat ke lapangan tempat pemeriksaan-kesehatan.Waktu salah seorang peserta menanyakan kenapa kami tidak menanggalkan pakaian di tempat pemeriksaan kesehatan saja – instruktur yang ditanya menjawab :

“Supaya kalian tidak perlu repot buka baju di tempat pemeriksaan dan harus mencari tempat untuk menyimpan pakaian kalian”

Itulah pertama kali dalam hidupku aku telanjang-bulat di hadapan orang banyak -walaupun bukan aku sendiri yang telanjang-bulat.Memang lapangan itu letaknya masih dalam lembaga pendidikan militer itu.Tapi jaraknya agak jauh dari asrama [ksatrian].Di asrama itu tidak ada perempuan, jadi memang tak ada alasan untuk mengatakan bahwa menyuruh kami untuk berbaris telanjang-bulat sesuatu yang salah atau suatu masalah. Tetapi di lembaga pendidikan ada banyak peserta pelatihan militer lain – meski mereka semuanya laki-laki dan semuanya adalah anggota militer.Walaupun ternyata ketika mereka melihat kami berbaris telanjang -bulat,kelihatannya mereka tetarik juga memperhatikan bagian-bagian tubuh kami yang telanjang itu,utamanya bagian kontol,biji-peler,dan jembut kami!Bahkan ada salah seorang di antara mereka yang sempat berkomentar. Katanya:

“Anak-muda sekarang kontolnya besar-besar”

Hanya ada satu orang dokter [dibantu dua orang perawat leiaki] yang memeriksa sebanyak 70 orang peserta. Oleh karena itu pemeriksaan kesehatan itu makan waktu lama,dari pagi sampai sore. Dalam jangka waktu itu kami tetap telanjang-bulat sampai seluruh peserta selesai diperiksa. Pada waktu makan siang, kami dibagi nasi-kotak.Tetapi kami tetap harus telanjang-bulat dan kami pun makan-siang bertelanjang-bulat.

Pemeriksaan dilakukan di lapangan terbuka di tepi lapangan olah-raga.Waktu kami sedang periksa kesehatan,ada sepasukan militer yang sedang melakukan latihan militer di lapangan itu.Tampak sekali bahwa mereka “tertarik” melihat kami 70 orang pemuda-remaja yang bertelanjang-bulat.Dokter beserta dua asistennya memeriksa kami di meja-periksa di bawah tenda kecil dan di hadapan seluruh peserta. Tetapi peserta harus menunggu gilirannya selama berjam-jam di bawah terik-matahari siang – bertelanjang-bulat. Tidak heran jika tubuh mereka jadi ber-kilat-kilat karena mandi keringat.

Pemeriksaan kesehatan dilakukan terbuka dan kami dapat saling melihat teman kami yang sedang diperiksa tubuhnya dalam keadaan telanjang-bulat! Juga ketika mereka disuruh berdiri – lalu membungkuk – untuk diperiksa lobang pantat-nya oleh dokter. Dokter mengenakan sarung-tangan karet,lalu dia menyodok-nyodokkan telunjuknya ke lobang-pantat peserta itu [rectal toucher].Peserta itu tampak meringis kesakitan.Tapi ada juga peserta yang kontolnya jadi ngaceng waktu lobang-pantatnya disodok oleh dokter.Mungkin karena kelenjar prostatnya tersodok-nikmat dan bahkan sampai-sampai pejuhnya jadi muncrat keluar tidak tertahankan : CROOOOT! CROOOOT! CROOOOT! Peserta itu tersipu-sipu – karena sangat malu – tapi dokter bersikap biasa-biasa dan hanya mengatakan :

“Wah. Air maninya keluar,ya ?” dan peserta itu menjawab tersipu-sipu :

“Iya dokter. Keluar begitu saja nggak terasa”, tampak bahwa mula-mula kontol peserta itu tegang, kemudian menjadi layu lagi setelah pejuh-nya keluar.

Pemeriksaan kesehatan itu dilakukan secara teliti.Berat dan tinggi badan kami diukur dan seluruh bagian tubuh kami diperiksa. Waktu akan periksa tekanan darah, denyut nadi, dan frekuensi nafas,kami disuruh push up dan sit up seratus kali – bertelanjang-bulat ! Katanya untuk mengetahui apakah latihan fisik akan berpengaruh pada kesehatan kami. Khususnya pengaruhnya pada denyut nadi, tekanan darah,dan frekuensi nafas.Ketika salah seorang peserta complain dan mengatakan bahwa dia merasa risih harus push up dan sit up bertelanjang-bulat, salah seorang instruktur militer membentak keras, katanya :

“Kalian laki-laki semua dan disini semua laki-laki. Tidak usah malu-malu kucing!”

Semua peserta dipastikan benar-benar apakah mereka sunat atau tidak. Bagi yang mengaku sudah sunat maka dokter menarik-narik kulit di sekitar “leher” kontolnya untuk mengetahui apakah peserta itu kulupnya hanya sekedar terkelet atau benar-benar sudah sunat.Diantara ke 70 peserta itu ternyata ada juga yang tidak [belum] sunat. Ada juga peserta yang sudah sunat tetapi menurut dokter masih ada kulup yang tersisa dan masih harus dipotong lagi. Kata dokter militer itu pada seluruh peserta :

“Sunat harus sempurna!Harus high and tight!Tidak boleh ada kulup yang tersisa Seluruh kulup harus dipotong habis”.

Dokter militer itu sangat tampan dan tubuhnya atletis,ketat,berotot. Langsing tapi otot-ototnya amat menonjol.Benar-benar tubuh seorang perwira pasukan elite. Sewaktu memeriksa peserta,mula-mula dokter itu mengenakan pakaian seragam. Tapi setelah agak siang, dia buka baju – telanjang dada – mungkin karena gerah atau mungkin juga karena peserta yang diperiksa telanjang-bulat semua. Tubuh dokter itu indah sekali! Kelak dokter itu pula yang menyunat peserta yang belum sunat atau yang masih harus disunat ulang !

Ternyata pada akhir pelatihan – sebelum peserta dipulangkan – semua peserta yang belum sunat, disunat dulu di lembaga pendidikan militer itu. Demikian juga para peserta yang sudah sunat, tapi sunatnya belum sempurna [loose],terpaksa disunat-ulang. Mereka itu disunat secara militer [tanpa anestesi]. Ada di antara peserta yang jatuh pingsan tidak sadarkan diri karena tidak kuat menahan rasa nyeri yang amat-sangat sewaktu kulupnya dipotong perlahan tapi pasti! Ada juga peserta yang menjerit-jerit karena tidak kuasa menahan rasa pedih yang luar biasa itu. Peserta itu terpaksa mulutnya disumbat dengan cellotape lebar dan oleh seorang instruktur yang bertubuh kekar, pelatih karate, dia dihadiahi dua tamparan keras di pipinya kiri-kanan supaya diam [tidak reseh] :PLAKK! PLAKK! Keras sekali! Sehingga waktu ditampar,wajahnya seperti terlempar ke kiri dan ke kanan dan dari mulutnya keluar darah segar.Mungkin karena kerasnya tamparan itu,akibatnya selaput lendir di dalam mulutnya menggores tepi giginya dan luka berdarah! Mulut peserta itu merah oleh darah seperti orang yang sedang makan sirih! [Ha..Ha..Ha..!]

3. Disuruh onani

Sebelum tubuh kami diperiksa, kami diambil darahnya dan kami harus menyerah- kan contoh air kencing kami dan contoh pejuh kami. Kami harus mengeluarkan air-kencing di tempat itu untuk ditampung di botol kecil ,demikan juga pejuh kami. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, kami terpaksa harus kencing dan onani di hadapan seluruh peserta dan seluruh yang hadir. Ada peserta yang sangat PD [Percaya Diri] dan tanpa malu-malu dia mengocok kontolnya sampai pejuhnya muncrat keluar.Peserta itu sama sekali tidak tampak malu atau risih.Tetapi ada juga peserta yang tampak sangat kemalu-maluan dan dengan susah payah dia harus menegangkan dan mengocok kontolnya, supaya pejuhnya bisa muncrat keluar : CROOOT! CROOOT! CROOOT! Sungguh, suatu pengalaman baru bagi -ku – juga bagi para peserta lainnya

EPILOGUE ATAU AFTERMATH

Aku antara percaya dan tidak percaya mendengar cerita Julian itu.Tetapi aku jadi teringat berita di media masa tentang peserta pelatihan seperti itu – yang katanya pernah dipaksa melakukan push up dalam keadaan telanjang-bulat oleh senior atau instrukturnya[?] .Katanya push up macam itu dinamakan “push up dingin” [cold push up]. Jadi, mungkin sekali cerita Julian itu benar ! Kalau benar begitu, pastilah para penyelenggara dan para instruktur pelatihan seperti itu adalah orang-orang yang punya kecenderungan suka sex-sejenis [gay,homosex] !

About sobatabc

I'm just an imperfect man.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s