Istruktur Fitnes

Seperti biasa, setelah selesai fitness aku bersiap-siap untuk mandi. Segera saja kubuka kaos dan celana trainingku. Dengan hanya memakai celana dalam aku mencuci muka terlebih dahulu kemudian minum dari botol Aqua yang kubawa..

Oke, saatnya mandi, pikirku. Kuambil handuk dan perlengkapan shower dari locker. Dan karena sudah sepi aku langsung saja melepas celana dalamku itu, sehingga kini aku benar-benar telanjang bulat. Suasana remang dan agak dingin membuat kontolku agak bangun. Rasanya malam itu aku betul-betul terangsang sejak latihan beban bersama Chad, instruktut baru di gym ini. Saat dia membantuku mengangkat beban, aku dapat mencium bau aroma keringat tubuhnya yang begitu maskulin. Bulu-bulu keteknya yang lebat tersembul keluar diantara lengan u can see nya.

Wajahnya yang kotak dengan alis mata yang tebal serta hidung yang mancung, sungguh membuatku jadi teringat akan Tom Cruise di film Top Gun. Dengan kaos ketatnya, Chad tak dapat menyembunyikan betapa besar dan bidang otot dadanya. Bahkan puting susunyapun terjiplak dengan tegas pada kaosnya yang sudah agak basah dengan keringat. Rasanya saat itu aku ingin sekali ngemut puting susunya, ingin sekali bisa kuremas dadanya. Bahkan saat dia membantuku mengangkat barbel, aku bisa melihat tonjolan burung jantan dibalik celana tipisnya. Seandainya saja..

Aku berusaha keras melupakan semua itu. Namun semakin keras usahaku, semakin ngaceng pula kontolku. Seperti tak mau berkompromi, kontolku seakan menagih untuk dikocok. Kepala burungku yang besar langsung saja menyembul dari balik kulup tipis yang menutupinya. Hal ini membuatku semakin terangsang. Segera saja burungku langsung tegang sekali, begitu tegak menghadap keatas. Dengan panjang batang sekitar 17,5 cm dan urat-urat yang begitu menonjol, membuatku sulit untuk menutupi keterangsangan diriku. Aku takut dan malu kalau nanti tiba-tiba ada orang yang masuk dan ingin mandi juga. Maklum saja, ruangan shower itu dipakai secara bersama-sama dan tanpa penyekat sama sekali.

Dengan semburan air hangat dan bermodalkan sabun cair aku mulai menggosok tubuhku dan berusaha membuat tubuhku serileks mungkin. Dalam hatiku berharap, semoga saja burungku dapat segera jinak sebelum ada yang masuk. Namun kenyataannya justru sebaliknya, tanpa sadar aku sudah mulai mengelus-elus kepala kontolku. Begitu ngaceng sekali dan akhirnya dengan gerakan naik turun, aku mulai ngocok dan berfantasi. Aghh.. rasanya sudah lama aku tidak pernah merasakan gejolak yang begitu menggebu seperti malam ini. Aku semakin meremas kepala kontolku, sampai benar-benar ngaceng luar biasa. Begitu panjang, besar dan keras sekali. Dibawah keremangan cahaya lampu tempat shower, aku bisa melihat kepala kontolku berkilauan akibat gel shower yang kupakai.

Sedang asyik-asyiknya aku berfantasi dan ngocok, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara yang ada dibelakangku.
“Wow, that must be nice body..”.
Aku menengok dengan kaget dan sambil menutupi burungku aku menjawab sekenanya saja.
“Oh kamu, Chad”.
“Baru mau mandi juga” tanyaku sambil menutupi kontolku yang lagi ngaceng berat.
“Iya, kamu sendiri?” dengan sorotan mata yang tajam dia bertanya dan sambil mencuri lihat kearah kontol yang kututupi dengan tangan dan busa sabun sekenanya.

Kuperhatikan secara sembunyi-sembunyi, Chad mulai melepaskan lilitan handuk putih dari pinggangnya. Bodynya sangat bagus. Kulitnya putih kecoklatan dengan lekuk tubuh yang sempurna. Otot-otonya kekar, dada bidang, bahu besar, biseps dan triseps yang sudah terbentuk, dan yang membuatnya semakin sexy adalah otot perutnya yang kekar dengan lekuk pantat yang mmh.. sangat menggoda. Aku tak berani melihat lebih jauh lagi, tepatnya aku tak berani melihat benda berbulu diantara selangkangannya. Pikirku, bagaimana kalau sampai dia tahu, aku melihat dirinya telanjang bulat dan kontolku ngaceng. Wah, pasti dia akan berpikir yang tidak-tidak, bisa-bisa dia nggak mau lagi berteman denganku.

Sedang susah payahnya aku berkonsentrasi membuang semua fantasi dari dalam kepalaku, tiba-tiba Chad bicara, “Kontol kamu lumayan juga”.
Sambil tersenyum dan mengambil posisi shower disebelahku, kukatakan, “Ah, bisa aja kamu Chad.”
“Eh, bener loh. Apa gue yang salah lihat, abis remang-remang dan kamu tutupin pake tangan sih..”, ledeknya.
Aku hanya nyengir dan berharap malam ini bisa menjadi the best night that I ever had.
“O ya? Kontol kamu juga panjang”, kataku sambil melirik kearah selangkangannya.
“Mmh.., kamu suka?”

Aku nyengir lagi sambil manggut-manggut kecil. Dari balik bulu-bulu lebat disekitar selangkangannya, aku dapat melihat dengan jelas bahwa Chadpun sedang ngaceng berat. Kepala kontolnya besar seperti topi baja, ujungnya agak bulat dan garisan sunat dileher kepalanya begitu tegas. Kuperkirakan panjangnya sama denganku, mungkin sekitar 17 sampai 19 cm. Batangnya yang agak gemuk dengan urat-urat yang besar membuat kontolnya semakin terlihat panjang dan besar. Entah bagaimana, tiba-tiba aku merasakan tangan Chad mulai meraba kedua pantatku.
Aku begitu menikmatinya, sampai kemudian dia berkata “Come on, get down on your knees and show me how much you like it.., suck it please!”
Kutatap matanya sebentar untuk memastikan perkataan yang baru saja kudengar. Kemudian Chad meletakan tangannya dipundakku dan menekanku, sehingga membuatku untuk segera berlutut menghadap kearah selangkangannya.
“Ayo dong Ric.., masak sih cuma dilihatin aja. Kamu mau kan isep punya gue, please..”, katanya sambil menyodorkan kontolnya kearah mulutku.

Tanpa berpikir panjang aku mulai memasukan kontolnya yang begitu panjang dan besar kedalam mulutku. Kurasakan Chad mulai memompa kontolnya, dengan menggerakan pantatnya maju mundur didepan mulutku. Tangannya yang begitu kekar memegang tengkuk kepalaku dan ia berusaha memasukan seluruh batangnya kedalam mulutku. Kepalanya yang besar membuat mulutku menjadi sesak, ditambah batangnya yang panjang dimasukannya sampai ke kerongkonganku. Hidungku sampai bersentuhan dengan bulu-bulu disekitar selngkangannya, begitu lebat dan kasar. Bulu-bulu disekitar biji dan pangkal batang kontolnya menggelitik hidungku, sehingga dapat kucium bau aroma maskulinnya.
“Come on Rico, take it all.. yeah.. argh.. argh..”.

Kepala kontolnya aku jilati dengan gerakan lidah memutar dan terkadang aku gesekan gigiku dikepalanya. Lubang kencingnya, aku mainkan dengan ujung lidahku. Dan semakin lama aku rasakan Chad semakin menggelora, kontolnya semakin ngaceng dan urat-urat disekitar kontolnya semakin mengembang dan membuatnya terlihat semakin besar.
“Oke Rico, sekarang giliran gue. Gue mau isep kontol lu!”, katanya sambil mengangkat pinggangku.

Langsung saja kontolku dipegangnya dan kepala kontolku langsung diemutnya. Bibirnya menjepit batangku dengan begitu kuat. Lidahnya memain-mainkan kepala kontolku. Bahkan sedotannyapun begitu kuat. Kakiku sampai lemas dan rasanya aku benar-benar tidak kuat untuk berdiri lebih lama. Sambil memegang kedua pahaku, Chad bergerilya dengan kontolku didalam mulutnya. Mulutnya digerakan maju mundur dengan hisapannya yang kuat, seolah dia mengocok burungku dengan gerakan mulutnya. Lidahnya begitu terlatih saat kurasakan dia menjilati seluruh bagian kepala dan leher kepala kontolku. Namun tidak cukup disitu saja, Chad tiba-tiba meraba dengan kuat selangkanganku. Dipegangnya bijiku kemudian dijilatinya dan disedotnya. Awalnya aku merasakan sakit, namun setelah itu aku merasakan nikmat.

Setelah dia mengetahui bahwa aku tengah menikmati permainannya, Chadpun menyelipkan jari-jarinya diantara pantatku. Selangkanganku menjadi begitu licin saat Chad mulai melumuri tangannya dengan sabun. Digosok-gosokannya mendekati lubang pantatku. Sampai akhirnya aku merasakan jari-jarinya berusaha merangsang sekitar anusku.
“You like it?”, tanyanya sambil berusaha memasukan jarinya ke dalam anusku yang sempit itu.
“Mmh.. yea.. argh..”, jawabku.

Kurasakan satu diantara jarinya telah memasuki anusku. Ditekannya begitu rupa dengan gerakan agak memutar untuk melebarkan lubang anusku. Dikeluarkannya jari yang sudah masuk, kemudian dimasukannya kembali, ditekan, masuk keluar dan direnggangkannya. Sepertinya aku telah salah menilai Chad. Kalau selama ini aku hanya berfantasi, ternyata Chad sudah jauh berpengalaman dengan jam terbang yang sudah tak diragukan lagi

“Oke Rico, gue rasa sudah waktunya buat elu..”.
Dengan was was kubertanya “Maksud lu..?”
“Gue mau rasain asshole elu yang kecil itu.., gue mau ngefuck lu!”
“Tapi.., gue belum pernah, dan.. Chad, punya lu kan gede..”
“Rilex aja.., ke bangku yang disana yuk!”, Chad mengarahkan mataku ke bangku panjang yang ada didekat ruang ganti.
Disuruhnya aku berbaring, dan diangkatnya kedua kakiku. Sambil berlutut, dia menjilati anusku. Lidahnya dimain-mainkan diatas lubang pantatku. Tiba-tiba dia berdiri dan ngangkang membelakangiku.
“Gue paling suka posisi 69 kayak gini, soalnya gue bisa bebas ngisep dan diisep. Enak kan Ric..,?’

Baru mau kujawab, tapi kontolnya sudah disiapkannya untuk memasuki mulutku. Jadilah posisiku kini ditindih oleh badannya yang gagah itu. Pahaku diganjalnya dibelakang sikunya yang kekar, sehingga ia dengan leluasa menhisap kontolku dan juga memainkan jari-jarinya dilubang anusku. Sesekali dilepaskannya kontolku dari mulutnya dan dia langsung menjilati anusku. Makin lama Chad makin berkonsentrasi di daerah lubang pantatku itu. Secara bergiliran, Chad memasukan jarinya dan menjilati anusku. Kurasakan kembali jari-jarinya memasuki anusku dan dengan kedua tangannya, dimasukannya jarinya. Jari telunjuk kanan kirinya dimasukan ke anusku dan ditariknya kearah yang berlawanan untuk melonggarkan anusku yang sempit itu, sambil meludahi anusku dimasukannya lidahnya kedalam rongga pantatku. Lidahnya diputar-putar menggelitik anusku dan kurasakan ada beberapa jari lain ikut masuk juga, masuk keluar, masuk keluar dengan dijilati, begitu terus.

“Kamu bener-bener masih virgin yah.., oke sekarang saatnya gue akan memberi elu latihan yang lain, mau kan?”, Chad langsung berdiri dan mengambil posisi berdiri menghadapi bokongku.
Kontolnya begitu tegang, panjang dengan kepala kontol yang begitu besar.
“Tapi Chad, gue belum pernah..”
“Tenang aja Ric, aku pelan-pelan kok. Kamu tarik nafas panjang dan rasain nikmatnya.. oke.”, katanya menenangkan diriku.

Sambil ngocok sendiri, Chad mulai mengeraskan batangnya yang memang sudah tegang itu. Ditekannya kontolnya keanusku, sesekali digesek-gesekannya. Dan, bless.. Dia memasukan kepalanya yang begitu besar dan batang yang ngaceng banget ke dalam anusku. Anusku langsung meregang, dan kontolku pun ikut menegang.
“Rilex Rico, fill it. Tarik nafas dan rasain kontol yang ada di anus lu.”
“Arghh.. rasanya.. panass.. Chad, arghh..”, kataku sambil tersengal-sengal.
“Sebentar lagi, pasti kamu akan merasakan kenikmatannya..”

Chad memaju mundurkan kontolnya, dengan gerakan memompa dia mulai ngefuck anusku. Dalam beberapa gerakan maju mundur, aku berusaha rilex dan menikmatinya. Ternyata benar, rasanya begitu menakjubkan. Aku benar-benar menikmatinya. Sambil memegang pergelangan kakiku, Chad mengangkat kakiku lurus keatas, dirapatkannya kedua kakiku.

“Mmrghh.. your ass.. really tight, sempurna sekali.. arghh.. arghh..”
“Arghh.., terus Chad, masukin yang dalam..”, pintaku.
“I will honey.. arghh.. arghh. I’m fucking your beautiful ass..”
“Aghh.. aghh..” nafasku tersengal sengal tatkala batang nya bergerak keluar masuk memompa anusku.
“Mmhh yes.. You have a real virgin tight ass.. mmh.. yeahh..”, sambil ngefuck dia terus bergumam memuji bokongku yang sexi dan anusku yang begitu kecil menjepit kontolnya.
“Fuck it hard.. aghh.. come on.. give me more.. aghh..”, kataku.

Tanganku memgang erat pinggiran bench tempatku berbaring. Dan sambil memegang pahaku Chad memompa anusku dengan begitu bersemangat, sesekali dia memukul pantatku.
“Relax.. fill it..”, katanya.

Aku sangat menikmati saat-saat kontolnya digenjot keluar masuk ke dalam anusku. Batangnya yang panjang membuatnya leluasa memainkan ritme keluar masuk kedalam anusku. Sesekali dia sengaja megeluarkan kepala kontolnya kemudian memasukannya kembali, solah-olah memulai kembali dari awal. Hal ini membuatku semakin ngaceng dan benar-benar horny banget. Saat kepalanya yang besar itu dimasukan berulang-ulang aku mulai merasakan lubang anusku mulai memanas dan itu membuatku bertambah horny lagi.

“Aghh.. gue mau keluar”, kataku sambil ngocok kontolku.
“Yeah..?”
“Fuck it, please.. harder.. harder..”, pintaku.
Chad semakin menambah kecepatannya, kontolnya yang panjang semakin dipercepat keluar masuk ke anusku. Kini pahaku dibiarkannya melayang, dia menunduk dan menghisap puting susuku. Dijilati dan digigitnya. Diciuminya dada serta leherku. Akupun dapat mendengar deru nafas Chad yang semakin memburu.

Dan akhirnya, “Arghh.., I’m cum in.. gue keluar.. arghh..”, kataku sambil ngocok dan menyemburkan air mani yang begitu banyak kearah dada Chad.
Dan tiba-tiba, “Oughh, me either Rico.. agrhh.. AGRHH..!”.
Aku merasakan semprotan sperma Chad yang begitu kuat dan hangat di sekujur tubuhku. Dengan tetesan yang kurasakan mengalir turun dari anusku ke bijiku kemudian ke selangkanganku aku melihat air mani Chad keluar begitu banyaknya. Putih, kental dengan aroma yang begitu masculine.

“Mhh.. Rico, I think your ass gonna kill my glans!”, katanya sambil bercanda dan mengerlingkan mata nakal kearahku.
“Well Chad, malam ini sepertinya gue nggak pengen berakhir.. gue pengen selalu ada didekat lu.”
“I’ll be yours, Rico”, katanya sambil memeluku dan mencium bibirku.
“And I think, I’m in love with you. Lu mau jadi boyfriend gue?”, tanyanya.
“Tentu Chad.., tentu gue mau!”, kataku sambil melingkarkan tangan di pinggangnya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Air Susu dibalas Air Mani

Cukup lama aku mengenal Pak Irwan. Laki-laki yang sangat baik dan dermawan. Karena beliaulah aku dapat meneruskan sekolah ke Lanjutan Pertama. Laki-laki tersebut membiayai sekolahku dari kelas 4 SD sampai sekarang. Dan bukan itu saja ketiga adikku juga. Laki-laki tersebut sangat budiman, aku banyak berhutang budi padanya. Inang tak bisa menahan harunya saat Pak Irwan mengulurkan bantuan pada keluargaku dan memberikan modal kepada Inang untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah.

Sejak meninggalnya Amang, kehidupan kami sangat memprihatinkan. Inang harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keempat anaknya. Sebagai anak laki-laki yang paling besar, aku sedikitnya terpanggil untuk membantu meringankan beban Inang, walau usiaku masih sangat-sangat muda untuk bekerja. Umurku 11 tahun dan sudah setahun yang lalu sudah meninggalkan bangku sekolah karena faktor biaya.

Dari hasil barang-barang bekas yang aku dapatkan, sedikitnya membantu Inang untuk memenuhi kebutuhan dasar kami. Dan seperti biasa aku berkeliling mencari barang-barang bekas dari tempat-tempat sampah orang kaya dengan karung goni yang selalu setia di atas pundakku, sementara sebuah gancu mengaduk-aduk tempat-tempat sampah tersebut, mencari barang bekas yang laku untuk dijual.

Setelah mengambil beberapa botol bekas yang berada di dalam bak sampah dan memasukkannya ke dalam karung goni, mataku yang begitu awas dengan barang-barang bekas melihat ember besar yang terletak begitu saja dalam posisi terbalik, kelihatan pecah pada sisi pantatnya.

Dengan sangat hati-hati, mengecek keadaan sekeliling dan merasa aman aku rasa bahwa tidak akan ada yang melihat akan aksi yang akan aku lakukan nantinya dan ditambah dengan dorongan oleh bisikan-bisikan nafsu untuk mengambil barang tersebut, aku langsung membuka kunci grendel pagar rumah tersebut dan memasukinya. Begitu beraninya diriku mengambil ember tersebut dan memasukannya ke dalam karung goni. Keberanianku langsung menciut tatkala mendengar suara keras membentakku dari arah belakang.

“He! Berani sekali kau mencuri di siang bolong begini”.

Tubuhku langsung lemas dan sedikit gemetar, berbalik melihat laki-laki di belakangku yang memandangku dengan tidak bersahabat, melototkan matanya.

“Maaf, Bang” ucapku dengan sura terbata-bata.
“Aku pikir emer ini tidak dipakai lagi” dengan suara gagap ketakutan.
“Letakkan lagi di tempatnya semula, kalau tidak saya panggil polisi”
“Maaf, Bang, jangan.. Jangan panggil polisi Bang” ucapku lagi memohon dan hampir menangis dan meletakkan ember bekas tersebut ke tempatnya semula.
“Sini kau!” bentak laki-laki tersebut dan saat aku mendekatinya, laki-laki tersebut langsung menarik kupingku, menjewernya dengan kuat.
“Kecil-kecil sudah jadi maling, besarnya mau jadi apa, ah?”
“Ampun Bang, aku pikir ember itu tidak dipakai lagi, aku baru kali ini melakukannya”.
“Sudah mencuri, bohong lagi” bentak laki-laki tersebut dan semakin kuat tangannya menjewer kupingku.
“Ampun Bang, ampun” ucapku memohon menahan sakit sehingga aku menangis.
“Kurang ajar, apa tidak pernah diajarkan orang taua kau, ah”

Aku hanya diam menunduk, laki-laki tersebut melepaskan tangannya pada kupingku dan memeriksa karung goniku.

“Apa kau tidak sekolah, ah” bentak laki-laki itu lagi dan aku mengangguk menjawabnya.
“Malas, ah?, mau jadi apa kau ini, sudah tidak sekolah, maling dan sudah besarnya mau jadi rampok yah?”
“Tidak Bang” jawabku.
“Lalu apa?”
“Inang tidak punya uang untuk menyekolahkan kami”

Laki-laki tersebut menatapku tajam, menyimak perkataanku, memastikan apa aku berbohong atau berkata benar padanya. Perasaan lega saat aku di suruh pergi juga akhirnya dan memenuhi janjinya untuk tidak akan menampakkan mulalu di sekitar rumahnya lagi. Berbagai sumpah serapah aku ucapkan dengan pelan pada laki-laki tersebut sambil meninggalkan pekarangan belakang rumahnya.

Sebulan kemudian tanpa sengaja aku bertemu dengan laki-laki galak tersebut dan sedikit terkejut saat laki-laki tersebut mengajakku ke rumahnya dan memberikan ember yang pernah aku incar beserta barang-barang bekas lainnya. Mimpi apa aku semalam, begitu banyak barang-barang bekas yang aku dapatkan hari ini, gumamku.

“Satu karung saja kau bawa dulu, yang satu tinggalkan dulu, nanti kau jeput”

Aku mengikuti saran laki-laki tersebut. Dan hari-hari berikutnya, laki-laki tersebut memberikan barang-barang bekas yang tidak dipakainya lagi kepadaku. Dugaanku ternyata salah, laki-laki tersebut ternyata sangat baik dan selalu menasehatiku. Aku jadi malu mengingat kejadian pertama kali itu dan beberapa kali meminta maaf padanya atas kekeliruanku. Karena ember bocor aku jadi berniat mencuri, karena ember bocor aku jadi malu dan karena ember bocor itu juga aku mengenal Pak Irwan.

Suatu hari, Pak Irwan melihat sendir keadaan keluargaku.

“Hanya rumah berdinding tepas inilah peninggalan Amang anak-anak” ucap Inang.
“Ido sangat membantu saya, penghasilannya dari barang-barang bekas itu bisa menambah untuk membeli beras dan lainnya, sementara sya bekerja di pasar jadi kuli angkat barang atau membantu pedagang menjual barangnya kalau dminta”.

Singkat cerita, aku beserta adikku diangkat Pak Irwan sebagai anak angkatnya, dan aku tidak perlu mencari barang-barang bekas lagi.

“Kau harus sekolah dan juga Adik-Adik mu, sekolah yang rajin biar pintar dan suatu saat kalau sudah kerja kan bisa bantu Inang” pesan Pak Irwan.

Walau aku bukanlah tergolong anak yang pintar, namun aku selalu menurut, mengikuti nasehat Bapak angkatku itu, dan juga Bapak angkat bagi ke tiga adikku, tapi bagimana dengan Inang? Apa Pak Irwan mengangkatnya sebagai anak? Padahal Inang jauh lebih tua dari Pak Irwan, atau Ibu angkat?, ah.. Mana mungkin, tapi jika Pak Irwan mau mengawini Inang, pasti kami akan tinggal di rumahnya yang besar, kami jadi orang kaya, tapi mana mungkin, Pak Irwan khan sudah punya isteri yang cantik dan baik hati, yang pasti kalau Pak Irwan kawin dengan Inang ceritanya akan berubah pastinya yah.

Karena usiaku yang sudah 11 tahun, aku dimasukkan Pak Irwan ke kelas 4 SD, padahal kelas 3 pun aku belum tamat, tapi karena dia seorang guru dan banyak kenalan, akhirnya aku diterima di kelas 4 SD walau harus dalam masa percobaan terlebih dahulu. Kami hanya disuruh belajar dan belajar, semua kebutuhan kami di subsidi Pak Irwan. Laki-laki tersebut pun memberi modal kepada Inang untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah, sehingga lebih membantu kami lagi.

Kata-kata yang mengandung makna berupa nasehat selalu disampaikan kepadaku sehingga memacuku untuk belajar lebih giat lagi agar cita-citaku tercapai dan akan menunjukkan kepadanya bahwa pertolongannya tidak sia-sia.

Setahun kemudian

Seperti biasa, sepulang sekolah aku mampir ke rumah Pak Irwan, masuk dari belakang rumah, seperti layaknya seperti rumahku sendiri, mencari keberadaan Pak Irwan, memberi kejutan kepadanya. Melihat laki-laki tersebut yang sedang duduk santai di sofa sambil menonton TV, akupun mendekatinya dengan perlahan.

“Kena” ucapku sambil menutup kedua matanya.

Pak Irwan menangkap kedua tanganku dan menariknya sehingga tubuhku terangkat ke depan, tangan laki-laki tersebut memegang celanaku, menariknya sehingga badanku terjatuh ke sofa. Pak Irwan ternyata tidak memberikan ampun kepadaku lagi, badanku digelitikinya.

“Akhh.. Ampun.. Ampun Pak” ucapku tertawa, kegelian, meliuk-liukkan badanku.

Keakraban begitu memang sering kami lakukan. Pak Irwan seperti Bapak kandungku, selayaknya keceriaan antara Bapak dan anak, dan hanya dengan Pak Irwan baru aku dapatkan. Laki-laki tersebut terus menggelitiki badanku, tidak menghiraukan aku yang memohon meminta ampun untuk menghentikan permainannya, aku sampai mengeluarkan air mata karena bahagia.

Laki-laki tersebut tersenyum, menghentikan permainannya, menatapku sejenak dan dengan tiba-tiba tangannya langsung mencaplok kontolku, meremas-remasnya.

“Geli.. Geli.. Pak..” ucapku lagi sambil tertawa.

Pak Irwan menarik tubuhku ke depan, meletakkan kepalaku di bantal kursi yang berada di bawah pusarnya dan kembali tangannya menjangkau kontolku, meremas-remasnya.

“Akhh.. Bapak gete (genit)” ucapku.

Laki-laki tersebut hanya tersenyum dan terus meremas-remas kontolku yang berada di balik celana. Mendengar sura desahan-desahan, mataku tertuju ke depan TV dan melihat permainan asyik laki-laki dan perempuan di atas ranjang, dan dalam keadaan telanjang bulat.

Bapak angkatku ternyata sedang menonton film porno dan usiaku yang baru 12 tahun, belum faham betul permainan tersebut. Aku menjadi tertarik dengan tontonan di TV tersebut. Pak Irwan tersenyum melihatku yang begitu serius menonton adegan ngentot.

“Seius sekali kau” ucap Pak Irwan memegang daguku.

Aku tersenyum, tersipu malu dan saat itu pula Bapak angkatku mengangkat bantal kursi dari selangkangannya, kontolnya naik ke atas, tegang dengan bulu-bulu yang lebat dan ikal. Pak Irwan tersenyum menatapku, aku baru sadar, ternyata Bapak angkatku telanjang bulat.

“Bapak, tidak malu” ucapku mengejeknya sambil tersenyum.
“Kenapa malu?, khan hanya ada anak Bapak di sini” ucapnya sambil tertawa, tangannya merangkul pundakku, kepalanya dirapatkan ke kepalaku dan Pak Irwan mencium pipiku.
“Akhh, bapah tambah gete saja” ucapku dan menghapus pipiku yang habis diciumnya.

Pak Irwan tertawa lagi, meraih tanganku dan meletakkan ke kontolnya.

“Pegang kontol Bapak, kontol Arido Bapak pegang juga” bisiknya

Tanganku merasakan batang keras tersebut, sementara Pak Irwan meremas-remas kontolku juga, merasa tak puas, laki-laki tersebut membuka retsleting celanaku dan mengeluarkan batang kontolku yang lemas.

“Wah, kontolmu ternyata panjang juga” ucapnya melihat kontolku yang menjulur dari lubang retsleting.

Tangan Pak Irwan menarik-narik ujung kontolku yang terkatup, kuncup. Aku termasuk orang yang tidak sunat. Gerakkan-gerakkan tangan Bapak angkatku yang meremas-remas dan mengocok-ngocok batang kontolku, membuat kontolku semakin bereaksi, hidup, membesar pada diameter batangnya dan semakin panjang dari bentuk semula dan kulit pada ujungnya melebar, seiring kepala kontolku yang membengkak, membesar.

“Wah, kalau Bapak tahu lebih dulu kau punya batang kontol yang besar dan panjang, Bapak langsung menggarap Ido” ucapnya sambil tersenyum.

Pak Irwan mencium pipiku lagi sebelum pergi meninggalkanku dan kembali tak lama kemudian dengan membawa boneka perempuan telanjang bulat tinggi dan ramping. Laki-laki tersebut tersenyum dan kembali duduk di sampingku.

“Bapak kenalkan dengan Madonna” ucapnya padaku memperkenalkan boneka tersebut dan memberitahukan setiap organ tubuh boneka tersebut.

Aku menolak saat Pak Irwan menyuruh untuk menghisap-isap puting payudara boneka tersebut, Bapak angkatku memberi contoh, dia langsung mengisap-isap puting payudara boneka tersebut, menjilatinya dan menarik-narik puting payudara boneka tersebut bergantian. Aku tertawa melihatnya. Bapak angkatku seperti bayi yang sedang menyusu pada boneka tersebut.

Beberapa lama kemudian, Pak Irwan memasukkan kontolnya ke dalam mulut boneka karet tersebut yang menganga lebar, tersenyum melihatku, tangannya terus menekan-nekan kepala boneka karet tersebut.

“Madonna mau merasakan kontol Arido, dia mau mengisap-isap kontol Arido” ucap Bapak Angkatku.
“Enak Pak?” tanyaku.
“Geli dan enak” jawab Pak Irwan sambil tersenyum dan membuka baju dan celana seragamku.

Aku merasakan kegelian saat mulut boneka tersebut keluar masuk memakan batang kontolku.

“Geli.. Geli.. Pak” ucapku.
Pak Irwan tersenyum sambil terus menggerak-gerakan kepala boneka tersebut.
“Pak.. Gelii” ucapku lagi.
“Akhh..” desahku pelan dan pendek.
Bapak angkatku mengangkat boneka karet tersebut, “Wah.. Air manimu, tertinggal di dalam mulut Madonna” ucapnya menunjukkan cairan kental seperti ludah namun lebih kental lagi.
“Anak Bapak, kecil-kecil sudah menghasilkan” ucap Pak Irwan lagi, menambah kebingunganku lagi. Laki-laki tersebut memelukku sambil mengelus-elus rambutku.

Pak Irwan mengajakku ke kamar mandi, mendudukkanku di sisi bak, sementara Bapak angkatku tersebut jongkok, tangannya meraih kontolku dan.. Dan.. Bapak angkatku tersebut menelan batang kontolku, menarik-nariknya dengan mulutnya, dengan gerakan cepat sehingga kontolku bertambah besar kembali dan memanjang. Pak Irwan mengocok-ngocok batang kontolku, merapatkan kedua bibirnya sehingga batang kontolku terjepit, hingga batang kontolku tenggelam samapai pangkalnya. Tanpa pengetahuan dan tidak tahuanku, aku membiarkan Bapak angkatku melakukannya. Kocokan-kocokan mulutnya pada batang kontolku semakin enak saja, geli rasanya.

Pak Irwan mengeluarkan batang kontolku dari mulutnya, dan lidahnya menari-nari, menjilati seluruh batang kontolku dari ujung, kepala kontolku sampai pangkalnya dan yang lebih enak lagi, saat Bapak angkatku menjilati biji kontolku, mengulumnya satu persatu sambil menarik-nariknya dengan mulutnya dan kedua biji kontolku ditelannya sekaligus dan menarik-nariknya untuk beberapa lama laki-laki tersebut melakukannya dan kemudian menelan batang kontolku berikut kedua biji kontolku secara bersamaan, kembali menariknya dengan pelan.

Akkhh.. Geli dan enak aku rasakan, hangatt..

Untuk beberapa lama Bapak angkatku melakukannya, mengisap-isap kontolku dan terus.. Terus dia lakukan hingga hal yang sama aku dapatkan seperti saat boneka karet tersebut menelan kontolku, aku merasakan gelii.. Gelii yang mengenakkan dan Bapak angkatku mengeluarkan batang kontolku dari mulutnya dan menunjukkan cairan kental dalam mulutnya. Cairan mani kata Bapakku dan langsung ditelannya.

Permainan berikutnya aku dapatkan, dengan waktu yang di atur oleh Bapak angkatku sendiri, sementara aku merasa ketagihan dengan permainan tersebut.

Hari yang telah ditentukan, rasanya aku ingin pelajaran sekolah cepat selesai, supaya aku dapat menemui Pak Irwan dan memintanya untuk mengajarkan permainan berikutnya. Seperti yang sudah di jadwalkan, kembali aku merasakan permaianan Madonna dengan asuhan Bapak angkatku, aku memperkosa lubang kemaluannya, akhh.. Sangat enak.. Enakk.. Enakk, Pak Irwan menyuruhku mendesah jika aku merasakan nikmat.. Dan aku melakukannya, sementara aku mengentot Madonna, Bapak angkatku menciumiku, mencumbu, bibirku, melumat bibirku. Dengan tekhnik-teknik dan ajarannya aku pun mulai membalas setiap cumbuannya. Hangat, nikmat aku rasakan saat bibir Bapak angkatku menyentuh bibirku dan melumat mulutku. Setelah selesai dengan Madonna, kembali Bapak angkatku mengambil alih posisinya, seperti biasa menelan batang kontolku, mengocok-ngocoknya dengan mulutnya, dan kembali air maniku muncrat di dalam mulutnya, dan ditelan langsung oleh Bapak angkatku tersebut.

Malam itu, Pak Irwan menyuruhku untuk ke rumahnya dan saat yang aku nantikan akhirnya tiba, kebetulan satu minggu itu aku tidak berjumpa dengannya, Pak Irwan mengantar istrinya pulang karena ada urusan keluarga katanya. Kami akan melakukannya malam itu sepuasnya, yah sepuasnya. Aku juga sudah sangat merindukannya terutama kerinduan mulutnya yang akan mengocok-ngocok kontolku yang membuatku kegelian, keenakan, kenikmatan, hingga tubuhku mengejang seiring dengan air maniku yang kental muncrat ke dalam mulutnya.

Pak Irwan langsung mengajakku masuk dan tanpa basa-basi lagi aku menelanjangi pakaianku, sementara Pak Irwan yang sudah bertelanjang dada dan hanya memakai sarung saja saat itu, langsung membuka sarungnya dan Bapak angkatku sudah tidak memakai apa-apa lagi. Tubuhnya yang bulat, padat berisi tanpa dibalut sehelai benangpun. Pak Irwan menarik tanganku dan kami berbaring di atas air bad yang sudah terbentang di depan TV. Bpak angkatku mengusap seluruh badanku dengan baby oil, mengocok-ngocok kontolku dengan minyak tersebut hingga kontolku bertambah besar dan panjang, berdiri tegak 90 derajat.

“Madonnanya mana Pak?” tanyaku.
“Kau tidak butuh lagi” jawab Bapak angkatku sambil tersenyum.

Bapak angkatku membaringkan badannya ke air bad, terlungkup dan menyuruhku untuk mengoleskan Baby oil ke punggungnya, ke pantatnya, kedua paha, betis dan kakinya, kemudian laki-laki tersebut menumpahkan sisa baby oil pada belahan pantatnya, meraba-raba lubang pantatnya, hingga terbuka lebar, dan aku pun menaiki tubuhnya sesuai permintaannya, keadaan licin tubuhnya membuat tubuhku meliuk-liuk di atas punggungnya.

“Enak Pak, enak sekali” ucapku memberi komentar, Pak Irwan tersenyum, dan memintaku untuk memasukkan kontolku ke dalam lubang pantatnya. Tanpa banyak tanya lagi aku melakukkannya dan menekan pantatku hingga batang kontolku amblas di dalam lubang pantatnya.

“Aakkhh..” desahku, betul-betul enak.. Nikmat.. Enakk.. Gelii..

Aku mulai menggerakkan pantatku perlahan, namun dasar nafsuku yang besar namun tenaga yang kurang, aku cepat mencapai puncak orgasme..

“Yah, istirahat dulu” saran Bapak dan akan aku lanjutkan kembali.

Aku tidak ingin berlama-lama beristirahat dan mengajak Bapak angkatku kembali untuk menyodomi lubang pantatnya dan aku berhasil melakukannya beberapa kali, sampai Bapak angkatku khawatir dengan fisikku yang tidak akan mampu lagi untuk melanjutkan permainan.

“Jangan dipaksakan, kita masih banyak waktu” ucapnya.

Aku yang sudah merasakan enak, geli dengan permainan yang barusan aku lakukan, meminta Bapak kembali untuk meyodomi lubang pantatnya dan Bapak angkatku tersebut kembali melayaniku.

“Permainan ini, betul-betul enak, gelii, gelii, Pak” ucapku lagi.

Bapak angkatku hanya tersenyum. Dan hari-hari berikutnya aku meminta Bapak untuk menyodominya, memuaskan nafsuku yang sangat besar, dan Bapak dengan setia melayaniku, kami saling bercumbu, berciuman, memacu nafsu kami yang tak habis-habisnya. Aku menyukai Bapak angkatku, sama halnya dengan beliau lebih menyukaiku daripada istrinya, dia lebih terpuaskan dengan laki-laki muda dengan kontol yang besar dan panjang.

Permainan kami terus berlanjut hingga sekarang, sepertinya terjalin perasaan cinta di antara kami, rasa sayang dan saling menyukai bukan antara anak dan Bapak lagi, tetapi mungkin seperti kekasih, kekasih sejenis, tidak ada sang istri. Adakalanya Bapak bertindak sebagai istri atau sebaliknya dengan diriku sendiri, kami saling memuaskan, memacu gairah kami yang lagi panas, apalagi aku mulai tumbuh sebagai laki-laki remaja, dengan perubahan diriku yang nyata, suara, tubuhku, dan organ-organ tubuhku yang lainnya.

Kontolku semakin besar dan dengan panjangnya bertambah beberapa senti, dengan bulu-bulu yang tumbuh subur di sekita kontolku dan selalu di cukur Bapak angkatku, sehingga botak. Dia sangat menyukainya. Apa yang dia sukai otomatis aku menyukainya, aku memberikan semuanya untuk kesenangannya karena dia begitu banyak menolongku dan keluargaku. Atau apa karena aku menyukai laki-laki tersebut sejak awal, atau mungkin karena aku mencintainyakah?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MMN 2

Adi menciumiku dan meremas-remas kontolku. Saya sedikit frustrasi, kenapa dia tak membiarkanku melepas celana dalamku saja? Sambil menepuk pantatku yang padat, Adi berkata, “Tunggingin pantatmu.”

Saya bingung tapi menurut saja. Saya yakin mereka takkan menyakitiku. Mereka itu hanya ingin ngentot denganku saja. Lalu saya merasakan benda tajam menggores celana dalamku, tepat di bagian pantat. SRET! Angin dingin berhembus masuk, menggeletik anusku. Rupanya, Adi sengaja melubangi celana dalamku agar dia bisa ngentotin saya tanpa melepas celana dalamku. Saya kecewa sekali karena saya masih juga tak diizinkan untuk bertelanjang bulat.

“Kamu akan menjadi piala bergilir kami, sayang,” bisiknya sambil mencubit putingku. AARGGH!! Tumben, Adi tidak lagi mmemanggilku ‘Anda’.

Rudi cepat-cepat merentangkan sehelai selimut usang di atas lantai yang kotor dan buru-buru berbaring dia atasnya. Kontolnya yang ngaceng sengaja dikocok-kocoknya agar ereksinya terjaga. Saya kemudian didorong ke arahnya. Saya mengerti bagaimana Rudi ingin mengentotinku. Maka saya merayap ke arahnya dan memposisikan lubang duburku tepat di atas kontolnya, wajahku menghadap wajahnya. Lalu pelan-pelan kontol itu pun amblas masuk.

“AARRGGHH!!” eran Rudi saat kepala kontolnya dicekik oleh otot anusku. Saya sendiri juga mengerang kesakitan saat kontol Rudi memaksa masuk.
“UUGGHH!!” Adi dan Parjo mengelilingi kami dan menyaksikan pertunjukkan kami sambil mengocok batang kontol mereka. Suara becek kocokan kontol mereka bergema dalam ruangan itu.
“AARRGGHH!!” erangku ketika kontol Rudi akhirnya PLOP! masuk. Baru kali ini anusku dientotin kontol. Tak pernah terpikir bahwa saya bakal merasakan nikmatnya dingentotin kontol.
“AARRGGHH..” erangku lagi, memutar-mutar kepalaku.

Rasa sakit mendera anusku, Rudi sementara itu mendorong-dorong kontolnya masuk, menginvasi anusku. Saya hanya meringis kesakitan sambil berusaha untuk mengangkat tubuhku sedikit. Namun terasa sulit sekali.

“AARRGGHH..!! UUGGHH!! Sakit, Mas.. AAHH..!!”
“.. Hhhooh.. Hhohh.. Tahan saja..” Erang Rudi.
“Nanti juga.. Hhhoohh enak kok.. Aaahh.. Uuugghh..” Rudi meraih dadaku dan meremas-remasnya.
“.. Hhhohh.. Saya paling suka.. Uuugghh.. Dada cowok.. Hhhososhh.. Putingnya kecil.. Hhhooh.. Merangsang sekali.. Hhhoosshh..”

Keringat mulai membasahi tubuh kami. Gaya negntot seperti itu sungguh menguras tenaga. Sambil sibuk mengentotin pantat perjakaku, Rudi menggenggam kontolku yang terbalut celana dalamku dan mulai mengocoknya dengan kasar. Berdua kami saling mengerang dan menggeliat-geliat.

“AARRGGHH..!!”

Saya membiarkan diriku dikuasai nafsu jahanam, nafsu antara sesama lelaki. Namun sungguh nikmat sekali rasanya, tenggelam dalam nafsu sejenis. Sayaa ingin Rudi menghabisi anusku, menghujamkan kontolnya sedalam mungkin.

“.. Hhhoohh.. Hhhoosshh.. Aaahh..”
“AARRGGHH..!!” erangku ketika tiba-tiba kontolku berkedut-kedut dan mulai berkontraksi.

Nafsuku yang kutahan sejak tadi akan meledak sekarang! Kepala kontolku membesar dan memuntahkan pejuh. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROTT!! Saya mengejang-ngejang dan menyebabkan kontol Rudi di dalam pantatku ikut mengejang.

“AARRGGHH!! UUGGH!! OOHH!! AAHH..!!” erangku sat orgasme menguasai seluruh inderaku.

Saya hanya merasakan kenikmatan yang luar biasa sementara kontol Rudi terus menyodomiku. Celana dalamku kontan basah semua dengan sperma. Terpicu orgasmeku, Rudi pun akhirnya keluar lagi, untuk yang kedua kalinya. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOT!! Tubuhnya terguncang-guncang dan sodokan kontolnya menghajar duburku tanpa ampun.

“AARRGGHH!! UUGGHH!! HHOOHH!! AAHH!!” Kami berdua benar-benar menikmati orgasme kami, sampai pada tetes terakhir.
“AARRGGhh.. “

Dengan lemas, saya mencoba untuk bangkit berdiri. Kontolku mulai melemas dan bergelantungan, mengeluarkan sisa pejuh. Rudi berguling ke samping lalu bangkit, masih terengah-engah. Kukira semuanya telah selesai, namun tiba-tiba Parjo memelukku dari belakang, kontolnya yang ngaceng terasa sekali bergesekkan dengan pantatku.

“Gantian gue ngentotin loe,” serunya.

Tanpa membrikanku kesempatan untuk protes, Parjo langsung menancapkan kontolnya sedalam-dalamnya dalam lubang duburku. Saya hanya bisa berteriak, “AARRGGHH!!”

Bagaikan binatang buas, Parjo menguasai tubuhku. Gerakan ngentotnya mula-mula cepat, lalu lambat. Kemudian dia kembali mempercepat sodokannya, lalu melambat, begitu seterusnya. Saya hanya menjerit-jerit saat tiba pada ritme cepat, sedangkan ketika measuki ritme lambat, saya hanya mendesah saja. Parjo mmemang ahli mengendalikan ejakulasinya. Gaya ngentotnya yang unik terbukti ampuh untuk menahan laju orgasmenya. Dingentotin Parjo, membuat kontolku bangkit kembali.

“.. Hhhoohh.. Aaahh.. Hhhoosshh..” desahku ketika Parjo melingkarkan tangannya di sekitar batang kontolku dan mengocok-ngocoknya. Benar-benar nikmat sekali dikocok sambil dientotin.
Kata-kata kasar keluar dari mulutnya, “.. Aaahh.. Ooohh.. Bangsat! Ooohh fuck you! Hhohh.. Ngentot loe! Hhhohh.. Kontol! Aahh.. Pejuh! Aaahh.. Enak banget.. Hhhoohh.. Gue suka ngentotin.. Aaahh.. Cowok Cina kayak loe.. Hhhoohh.. Sudah putih, mulus lagi.. Hhohh.. Homo lagi.. Aahh..”

Selama bermenit-menit, dia terus meracau seperti itu. Suara yang hampir mirip suara tamparan dihasilkan dari tertumbuknya pantatku dengan tubuhnya, tiap kali Parjo menyodokkan kontolnya.

“AARRGGHH!!” teriaknya, dan tiba-tiba CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Pejuhnya muncrat tak terkendali, membasahi anusku. Rasanya di bagian dalam tubuhku sudah terlalu becek dengan pejuh Rudi dan Parjo. Pejuh mereka saling bercampur di dalam sana.
“AARRGGHH..!! UUGGHH!! OOHH!! AARRGGHH!!” Parjo terus menggenjot pantatku hingga kontolnya berhenti muncrat.

Sementara itu, tangannya tak henti-hentinya mengocok dan meremas kontolku dari balik celana dalamku yang basah itu. Meskipun saya baru saja ‘keluar’, nampaknya pejuhku akan kembali dimuncratkan.

“AARRGGHH!!” erangku sambil mencengkeram pinggangnya.

CCRROOT!! CCRROOTT!! CRROOTT!! Saat pejuhku tertumpah, tubuhku kejang-kejang dan bertumpu pada tubuh Parjo di belakangku. Dialah yang dengan sabar memegangiku dan menahan gejolak orgasmeku.

“AAHH.. UUHH.. OOHH.. HHOOSSHH.. AAHH..” CRROTT! Dan usailah semuanya.

Celana dalamku berbau tajam dengan sperma, dan tentunya lebih basah lagi. Begitu Parjo mencabut kontolnya, pejuhnya mengalir keluar dan turun ke pahaku. Saya masih tersengal-sengal dan bahkan tak mampu berbicara.

Tiba-tiba Adi mendekatiku dan mulai menciumiku dari belakang. Saya tahu apa yang diinginkannya. Dia pun ingin menyodomiku. Meksipun agak ogah berhubung saya sudah dua kali ngecret, namun saya kasihan juga padanya sebab sorot matanya nampak memohon sekali. Mau tak mau, saya biarkan Adi menyisipkan kontolnya masuk ke dalam anusku yang becek. Mudah sekali baginya untuk masuk. Dan terus terang, saya hampir tak merasakan rasa sakit apa-apa. Mungkin karena anusku sudah terbiasa, dan mungkin juga karena banyaknya pejuh yang melumasi lubangku.

Kembali, saya mendaki sebuah perjalanan menuju puncak orgasme. Adi pun ingin mengocok kontolku. Dia memaksa kontolku yang lemas itu untuk bangun sekali lagi. Saya hanya memejamkan mataku sambil menggeliat-geliat. Rasanya nikmat sekali merasakan tangannya meremas-remas kontolku. Kembali saya memasrahkan diriku dan membiarkan Adi mempermainkan kontolku. Sementara itu, pinggulnya sibuk bergerak-gerak seperti piston kereta api, memompa kontol ke dalam tubuhku. Kontol Adi merupakan kontol yang terbesar di antara mereka semua. Berhubung pantatku sudah banjir pejuh, Adi merasa hangat dan basah sekali menusukkan kontolnya di dalam tubuhku.

“.. Hhhoohh.. Aaahh.. Aaahh.. Hhhoosshh..”

Waktu terus berlalu sampai akhirnya saya merasakan gejala ejakulasi Adi. Tanpa dapat dicegah, Adi menggeram seperti hewan buas dan kepala kontolnya mengembang. Sedetik kemudian CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!

“AARRGGHH!! UUHH!! HHOOSSHH!! AARRGGHH..!!” Adi menumpahkan seluruh pejuh yang dimilikinya, napasnya berat dan terengah-engah. Kurasakan lubang anusku kaku dan menganga. Aliran pejuh masih terus saja mengalir keluar. Tiba-tiba, tiba giliranku untuk ngecret. Astaga, mereka benar-benar ingin menguras persediaan spermaku.

“AAGGHH!!”

Dan seperti biasa pejuh tersembur keluar dari lubang kontolku, meskipun tidak sebanyak yang tadi. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOT!! Namun orgasme yang kurasakan tetap nikmat.

“AAHH!! OOHH1!! UUHH!!” celana dalamku sudah tak sanggup lagi menampung spermaku. Sperma itu pun akhirnya menyerap keluar dan jatuh ke atas lantai, menciptakan genangan pejuh di sana-sini.

Setelah itu, tubuhku melemas dan Adi harus memapahku. Tak terkatakan betapa letihnya saya. Anusku menganga lebar, dan menumpahkan semua pejuh yang tersimpan di dalamnya. Tak ayal lagi, lantai bengkel itu hampir banjir dengan sperma. Bau seks begitu terasa dan menusuk. Kami semua berbaring di atas handuk saling berpelukkan. Saya menjadi pusat perhatian dan berbaring diapit di antara Adi dan Parjo.

Adi nampaknya suka sekali padaku. Tak henti-hentinya dia menciumiku dan meraba-raba sekujur tubuhku. Selama itu, celana dalamku masih juga belum dilepaskan padahal celana dalam itu sudah basah sekali berlumuran sperma. Tanpa perlu dijelaskan, kalian pasti sudah tahu bahwa tubuh kami semua masih dipenuhi keringat dan pejuh. Namun, kami tak peduli dna tetap saling berpelukkan. Adi menciumiku dan berbisik,

“Tahu enggak, sebenarnya Papamulah yang mengatur semua ini. “
“Apa?” tanyaku tak percaya. Namun saya masih lemas sekali.
“Benar. Papamu itu langganan setia kami dan kami sering berhomoseks bareng-bareng. Dia hanya ingin kamu pun merasakannya agar kalain berdua nanti bisa saling negntot,” jelas Adi, tetap memelukku mesra.

Ternyata Papaku cabul sekali. Dia bahkan tega meminta 3montir seksi ini untuk mengambil keperjakaanku. Tapi tak apa. Saya sendiri kini sudah yakin akan homoseksualitasku. Nanti, setibanya saya di rumah, Papaku akan merasakan akibatnya. Saya akan mengentotin pantatnya sampai dia minta ampun. Aaahh.. Tunggu saja, Pa.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Proyek Biologi

Selama hampir setengah jam, Eddy menjelaskan panjang lebar tentang penelitian kami. Ketika sesi tanya-jawab dimulai, kami baru menyadari kenapa tidak ada perempuan yang hadir dalam acara itu. Seorang pria berusia 40-an berdiri dan mengajukan pertanyaan.

“Bagaimana cara kalian mengambil sperma? Apakah kalian saling mencoli kontol atau saling fellatio?” Tanpa malu, pria itu menggunakan kata ‘kontol’ dan ‘coli’.

Eddy dan saya langsung terkejut dengan pertanyaan itu. Tapi dengan tenangnya, Eddy berkata.

“Kami saling bermasturbasi. Kami menemukan cara itu sangat santai dan menyenangkan. Ada pertanyaan lain?”

Seorang pria yang lain berdiri.

“Kalau kalian menganggap penelitian itu menyenangkan, itu berarti kalian berdua terangsang?”
“Ya, kami terangsang. Kalau tidak, kami takkan bisa menyemprotkan sperma kami,” jawab Eddy, berusaha nampak tenang menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh tersebut.

Diam-diam, kontolnya mulai ngaceng berat. Saya dapat melihat tonjolan di balik celananya dengan jelas dari tempatku berdiri.

“Kami menginginkan peragaan langsung saat kalian mengambil sampel sperma kalian,” minta seorang pria.
“Peragakan bagaimana cara kalian saling bermasturbasi.”

Mendadak, seluruh penonton menjadi antusias, memaksa kami untuk memperagakannya. Eddy dan saya akhirnya menuruti permintaan mereka, lagipula kami memang diharuskan untuk memperagakan sesuatu. Kami berdua sangat gugup. Dengan agak gemetaran, kami bergerak ke tengah panggung. Eddy mulai membuka celana panjangku. Saat celana panjangku merosot turun ke lantai, para hadirin bersorak ramai.

Acara yang tadinya formal kini mulai berubah seperti acara strip-tease homoseksual. Giliranku untuk melepas celana panjang Eddy, juga diiringi sorak meriah penonton. Demikianlah, pelan-pelan, kami menelanjangi tubuh kami. Entah kenapa, kami mulai berani dan percaya diri. Saat itu, Eddy dan saya sudah benar-benar telanjang bulat dengan kontol ngaceng. Kontol kami tertangkap kamera dan ditayangkan di dalam monitor raksasa di belakang kami. Penonton berdecak kagum sambil berbisik-bisik.

Beberapa di antara mereka mulai membuka pakaian mereka. Ada yang bertelanjang dada, ada yang merosotkan celana panjangnya, ada yang mengeluarkan kontol mereka, bahkan ada juga yang benar-benar bugil seperti kami. Eddy dan saya kini yakin bahwa kami telah diundang hadir dalam sebuah acara homoseksual berkedok penghargaan untuk penelitian ilmiah. Kami sama sekali tidak merasa tertipu. Bahkan kami merasa bangga sekali, dan sekaligus terangsang! ;) Beberapa pria mulai menyemangati kami.

Rasa malu mulai meninggalkan kami. Saya sengaja meliuk-liukkan tubuhku agar para pria yang menonton kami terangsang. Kubungkukkan tubuhku dan memperlihatkan lubang anusku pada mereka. Serentak mereka bersorak sambil berdecak kagum. Di layar monitor raksasa terpampang jelas anusku yang berkedut-kedut. Eddy mendekatiku dan langsung menciumiku dengan bernafsu. Kusambut ciumannya dan penonton pun bersorak. Eddy sengaja memutar tubuhnya agar kamera dapat menangkap gerakan liar lidah kami. Eddy menciumku dengan penuh hasrat dan nafsu. Bibirku disedot-sedot dn lidahku dijilat-jilat. Air liur kami bercampur dan kami tidak merasa jijik sekalipun.

Beberapa menit kemudian, adegan ciuman panas berakhir dan saya mulai bergerak turun. Bagaikan penari erotis homoseksual, saya meliuk-liukkan badanku seraya berjongkok. Pantatku menghadap ke arah penonton, menggoda mereka untuk menyodomiku. Lidahku menjilat turun, menyapu tubuh Eddy yang hangat. Eddy mendesah-desah nikmat dan suaranya bergema keras di ruangan besar itu berkat mikropon besar yang bergantung di atas kami. Penonton juga ikut mendesah-desah seraya merangsang tubuh mereka sendiri. Bagi yang mempunyai partner, mereka tidak segan-segan ‘make love’ di tempat itu. Ada yang berciuman dan ada pula yang saling meraba-raba.

“Aahh.. Oohh.. Hhoohh.. Aahh..” desah Eddy.

Kembali suaranya dipantulkan ke setiap sudut ruangan oleh mikropon itu. Para penonton mendesah mengikutinya. Kepala kontol Eddy sudah telanjur basah dengan cairan precum. Beberapa tetes precum telah berjatuhan ke atas lantai berkarpet. Buru-buru saya memposisikan lidahku di bawah kepala kontol itu agar sisa precum dapat terselamatkan. Mm.. Enak sekali. Lidahku menyapunyapu bagian bawah kepala kontolnya, membuat Eddy kembali mendesahkan kenikmatan yang dirasakannya.

“Oohh.. Hhoosshh.. Aahh..”

Saya terus saja menjilati kepala kontol itu dan kuperas cairan kelelakiannya itu. Eddy mengerang-ngerang sambil menggenggam pundakku. SLURP! SLURP! SLURP! Ah, nikmat sekali kontol Eddy. Precum-nya mengalir masuk ke dalam mulutku seiring dengan hisapanku. SLURP! SLURP.

“Aahh.. Aahh..” erangnya, kontolnya semakin menegang.
“Aahh.. Oohh..” Eddy mulai giat menggenjot mulutku.

Dengan pasif, saya hanya berjongkok di hadapannya dan membiarkannya memakai mulutku sebagai pelampiasan hasrat homoseksualnya. Precum yang membanjiri mulutku terasa semakin banyak seiring dengan berjalannya waktu.

Perubahan drastis pada tubuh Eddy mulai kurasakan. Napas yang semakin memburu dan kepala kontolnya yang membengkak adalah gejala-gejala dari orgasme. Eddy akan segera berejakulasi dan takkan dapat dihentikan.

“Aahh.. Oohh.. Endy.. Aahh.. Gue mau.. Ngecret.. Aahh.. Bersiaplah.. Aahh.. Oohh..”

Dan CCRROOTT!! CRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!

“AARRGGHH!! AARRGGHH!! OOHH!! UUGGHH!! AARRGGHH!!”

Sperma Eddy ditembakkan bertubi-tubi tepat ke dalam kerongkonganku. Saya tak perlu bersusah-susah untuk menelannya sebab pejuh hangat itu langsung meluncur ke dalam perutku. Penonton bersorak-sorak ramai dan menyemangati Eddy. Mereka senang sekali melihat Eddy ngecret di dalam mulutku. Kepuasan mereka dapat disamakan dengan kepuasan para penonton melihat bola ditendang masuk gawang dan gol. Eddy terus saja mengerang dan mengejang-ngejang. Tubuhnya berkilat-kilat dengan keringat dan dadanya bergerak naik-turun.

“Aahh..” Lalu Eddy menarik kontolnya keluar.

Saya merasa seperti pelacur dengan pejuh di mulut saya, tapi saya suka. Tanpa malu, saya berbalik dan membiarkan kamera menyorot mulutku yang belepotan pejuh. Para penonton berdecak-decak seraya berbisik-bisik.

Untuk acara berikutnya, pihak panitia menyediakan sebuah meja panjang yang kokoh. Sebuah kaemra tambahan juga di pasang di bagian atas panggung. Saya tidak pernha bermimpi bakal menjadi bintang porno homoseksual dan disaksikan banyak orang. Ketenaran itu memang mengasyikkan. Dan tibalah untuk acara berikutnya. Eddy dan saya kembali naik ke atas panggung.

Saya berjalan agak mengangkang sebab di dalam anusku telah dipasang sebuah kamera mini. Kamera itu tersambung dengan monitor raksasa yang dikendalikan jarak jauh. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran close-up dari kontol Eddy yang akan sibuk menghajar lubang anusku. Tubuhku agak menggigil. Bukan karena gugup, tapi karena AC ruangan itu yang terasa semakin dingin. Apalagi saya ‘kan telanjang bulat. Para penonton menatap tubuhku dan Eddy dengan sorot bernafsu.

Kini hampir sebagian besar dari para penonton sudah bertelanjang bulat. Sebagian mendapat partner kilat, sebagian lagi threesome atau orgy, dan sisanya lebih memilih untuk solo. Beberapa pria telanjang terlihat di antara bangku penonton sedang sibuk menghisap kontol partner mereka masing-masing. Desahan-desahan cabul pun terdengar, padahal acara utamanya masih belum dimulai.

Lampu di ruangan itu mulai diredupkan sementara lampu di panggung utama dinyalakan. Semua mata tertuju pada Eddy dan saya. Eddy telah membaringkan tubuh telanjangku di atas meja panjang yang telah disediakan. Kedua kakiku direntangkan lebar-lebar. Monitor raksasa langsung menayangkan posisis kami dari atas. Tampak wajahku tersenyum mesum dengan penuh antusiasme. Eddy berbisik padaku bahwa dia akan segera membor lubangku. Saya mengangguk dan bersiap untuk menerima kontolnya. Dan acara pun dimulai.

Kontol Eddy yang menempel di lubang anusku mulai memaksa masuk. Rasanya agak sakit saat kepala kontol itu bergerak masuk. Anusku dipaksa untuk menelan kepala kontol itu. Rasa sakitku bertambah sebab kami tidak memakai pelicin. Bibir anusku bergesekkan dengan kontol Eddy dan saya pun mengerang.

“AARRGGHH..” Selama bermenit-menit, Eddy berjuang untuk mendorong kontolnya masuk. Saya berusaha sekuatku untuk membuka anusku namun tetap saja susah.
“AARRGGHH!!” Entah kenapa, kali ini terasa agak susah.

Eddy yang mulai frustrasi langsung saja menyodomiku kuat-kuat, walaupun kontolnya belum masuk sepenuhnya. Jadi dia menyodomiku dengan kepala kontolnya saja. Rasanya tetap saja sakit dan nikmat.

“AARRGGHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!!” Saya menjerit-jerit sekuat-kuat, meronta-ronta. Kudengar para penonton mulai berkasak-kusuk dan berkomnetar.
“Oohh.. Hhoohh.. Aahh..” desah Eddy, terus memaksakan kontolnya.

Sambil menyodomiku, kontol itu terus bergerak maju. Lubang anusku ebrkedut-kedut, menahan sakit. Terasa sekali bahwa bibir anusku mulai lecet. Meskipun tidak berdarah, sakitnya sangat terasa. Tapi saya malah sangat menikmatinya. Bukannya saya sado-masochist, tapi saya merasa nikmat sebab sakit itu ditimbulkan dari ngentotan kontol. Jadi tentu saja saya terangsang:.

“AARRGGHH!!” Eddy berteriak saat lubangku akhirnya jebol. PLOP.
“Hhoohh.. Hhoohh.. Hhoohh..” Eddy terus mendesah-desah, menahan kenikmatan yang tak terkira saat anusku menjepit batang kontolnya. Cairan precum mulai membanjiri anusku untuk melumasi jalan kontolnya.

Di monitor raksasa, kini ditayangkan kontol Eddy yang sedang asyik menyodomiku. Kamera mini did alam anusku telah dihidupkan dan menangkap setiap gerakan kontol Eddy. Saya, terengah-engah, menyaksikan monitor itu dan menjadi semakin terangsang.

“Aahh.. Aahh.. Fuck me! oohh.. Ngentot.. Aahh.. Kontol.. Aahh.. Ngentotin gue.. Aahh..” Saya melontarkan kata-kata jorok seperti cowok murahan.
“Aahh.. Oohh..” Para penonton mendesah-desah melihat kontol Eddy menghajar anusku. Cipratan precum menempel di lensa kamera mini itu sehingga gambar di monitor menjadi agak kurang jelas.

Saat kutolehkan kepalaku ke arah penonton, saya disuguhkan adegan-adegan panas yang membuat kontolku semakin ngaceng. Semua penonton kini asyik terlibat dalam adgan seks mereka masing-masing. Ada yang sibuk mengentot, ada yang dingentot, ada yang menghisap kontol, ada yang dihisap kontol, ada yang coli, ada yang asyik meraba-raba badannya. Semuanya sedang berhomoseks. Sungguh sangat erotis.

“Aahh.. Oohh.. Aahh..” Suara desahan mereka bergema di ruangan itu dan dikencangkan lewat speaker.
“Aahh.. Aahh.. Aahh..”

Suasananya terlalu ‘panas’. Saya tidak tahan lagi. Rasa nikmatku akibat disodomi kini bertambah berlipat ganda. Kurasakan anusku licin dengan precum Eddy. Kontolku yang ngaceng bergesekkan dengan perut Eddy yang rata. Kontolku berdenyut-denyut sambil melelehkan precum. Aahh.. Saya tak tahan lagi. Anusku sedang disodokin kontol, kontolku dicoli’in perut Eddy, dan suasana di sekitarku penuh dengan kebejatan dan kecabulan. Siapa yang tahan.

“Aahh.. Oohh.. Eddy.. Aahh.. Gue.. Ngecret.. Aahh..”

Dan kontolku pun menembakkan pejuhnya. CCRROTT!! CRROOTT!! CRROOTT!! CCRROOTT!! Badanku mengejang-ngejang dan menggeliat-geliat. Kontraksi otot anusku mencekik kontol Eddy dan membuatnya memuntahkan pejuhnya.

“AARRGGHH!! OOHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!!” erangku, terengah-engah.

CCROOTT!! CRROOTT!! Pejuhku menyembur ke atas dan mendarat kembali di atas wajah dan tubuhku. Tubuh Eddy juga terkena cipratan pejuh saya. Oh, pokoknya merangsang kontol, deh. Aahh.. CCRROOTT!! CRROOTT CRROOTT!!

“AARRGGHH!!” Eddy mengerang keras sekali dengan kontolnya jauh di dalam badanku.

CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Dan Eddy-ku pun ngecret.

“AARRGGHH!! OOHH!! AARRGGHH OOHH!!”

Monitor raksasa menayangkan kontol Eddy yang memuncratkan pejuhnya di dalam anusku. Namun, gambarnya langsung berubah putih sebab kamera mini itu sudah dibanjiri pejuh Eddy yang putih dan hangat. Tayangannya pun segera diubah untuk menangkap ekspresi wajah Eddy yang kesakitan bercampur kenikmatan saat kontolnya berorgasme di dalam diriku.

“AARRGGHH!!” CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!

Hampir pada saat yang bersamaan, dari barisan penonton terdengar erangan-erangan orgasme.
“AARRGGHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!!” Satu demi satu menggeliat-geliat. Bahkan muncratan pejuh sesekali terlihat dengan jelas. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!
“UUGGHH!! OOHH!! AARRGGHH!!” CCRROOTT!! CCRROOTT!! Para penonton berorgasme dan berejakulasi. Tanpa segan-segan, mereka menyuarakan kenikmatan mereka dan memuncratkan pejuh mereka. Ah, sungguh tak terbayangkan.
Pelan-pelan, suasana mulai menjadi tenang kembali. Eddy membantuku bangun. Pejuhnya langsung meleleh keluar dari anusku yang menganga seperti angka 0. Aahh.. Suasana di ruangan mewah itu masih berbau pejuh dan keringat. Butuh hampir setengah jam sampai semua dari kami kembali berpakaian rapi. Sisa-sisa pejuh pun sudah dibersihkan oleh tim kebersihan yang sengaja diewa oleh tim panitia. Eddy mengakhiri acara itu dengan berkata.

“Dan demikianlah penelitian kami tentang sperma. Saya harap Anda sekalian menikmatinya.”
Dan para penonton menyambutmnya dengan tepuk tangan yang riuh. Satu jam kemudian diisi dengan foto bersama dan salam-salaman. Eddy dan saya capek sekali saat semua hadirin telah meninggalkan ruangan itu.
Tim panitia pun mendatangi kami. Kami diberitahu bahwa semua rekaman yang mereka ambil pada hari itu akan dikompilasikan menjadi sebuah video porno homoseksual dan akan dijual ke luar negeri. Kebayang gak sih? Jadi bintang gay porn dalam semalam? Mimpi apa kami semalam? ;) Sayangnya video porno itu tak bisa dipasarkan di dalam negeri dikarenakan KUHP anti homoseksual yang baru dan norma-norma kesusilaan dalam masyarakat kita.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Om Usman

Om usman itu adik tiri ibuku, dia tinggal di rumah sejak dia mulai SPG (Sekolah pendidikan guru). Waktu itu aku masih kecil, masih kelas 5 SD. Salah satu kebiasaan om usman yang tanpa sengaja aku ketahui adalah dia Om usman itu adik tiri ibuku, dia tinggal di rumah sejak dia mulai SPG (Sekolah pendidikan guru). Waktu itu aku masih kecil, masih kelas 5 SD. Salah satu kebiasaan om usman yang tanpa sengaja aku ketahui adalah dia selalu tidur dengan telanjang bulat. Waktu itu malam hari, di rumah kedatangan saudara papa, jadi aku dan papa pindah tidur ke kamar atas tempat om usman tidur.

Mungkin dia lelah sehingga dia sama sekali tidak tahu saat aku dan papa masuk ke kamarnya. Papa menghidupkan lampu kamar dan saat itulah aku pertama kalinya melihat laki-laki dewasa telanjang. Sejak saat itu aku selalu terbayang kejadian itu, dan suatu malam memutuskan untuk pindah tidurnya ke kamar om usman yang memang adem kalau malam hari karena terletak di lantai 2 yang setengah terbuka.
Aku berjalan pelan menaiki tangga, dan kemudian membuka pintu kamarnya. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan saat itu, tapi dia sangat terkejut saat melihatku masuk membawa guling. Lampu meja belajarnya masih menyala sehingga masih terlihat tubuh telanjangnya dan saat itu aku sangat ingat kontolnya sedang ngaceng penuh. “Adi mau tidur sini ya om,” ujarku tanpa memberi kesempatan Om Usman untuk bangun dari tempat tidurnya dengan langsung merebahkan diriku di kasur. Om Usman tampak bingung, tapi akhirnya dia tetap di kasurnya. “Adi, pintunya dikonci aja dulu. Nanti ada yang naek kayak malem-malem itu sama papa,” kata om usman. Aku kunci pintunya lalu kembali ke tempat tidur, dan menghadap dirinya yang sepertinya agak canggung.

Lalu aku memegang batang kontolnya yang masih ngaceng dan om usman sama sekali tidak menyuruhku melepaskannya. “Ini apa om?” tanyaku sambil mengusap-usap jembutnya, saat itu aku sudah tau kalau itu jembut tapi aku kan hanya pura-pura. “Jembut,” ujarnya dengan suara yang sangat pelan. Jembut om usman aku usap-usap, kadang aku tarik-tarik biar lurus. Jembut om usman memang sangat lebat, mungkin pengalaman pertama ini yang membuatku selalu bernafsu kalau melihat cowok yang berjembut sangat lebat. “Kok jembutnya tumbuh juga ya om di titit,” kataku sambil mendekatkan wajahku ke batang kontolnya terutama di bagian pangkal yang ditumbuhi jembut. Lalu aku memegang buah pelernya dan juga dipenuhi bulu-bulu jembut.

Lalu aku memegang-megang batang kontolnya dan tanpa sengaja aku membuat gerakan mengocok yang sama sekali tidak aku sadari kalau itu adalah cara orang mengocok. Kadang batang kontol aku putar-putar sambil aku rebahan di kasur. “Di, di lepasin dulu,” ujar om usman. “Kenapa om?” tanyaku tanpa mau melepas. Nampaknya om usman tak bisa menunggu berlama-lama lagi dan muncratlah spermanya berkali-kali dari lobang kencingnya, sebagian kecil ada yang mengenai jari-jariku yang masih melingkar di batang kontolnya yang berwarna ungu tua dan berurat kekar. “Kok om usman kencing sih?” tanyaku penuh dengan keheranan. Om usman masih belum menjawab, nampaknya dia masih mengatur nafasnya. Setelah itu dia berkata “Kalo sudah besar, nanti kencingnya kayak gini di,” “Oh gitu, tapi kok lengket ya,” “Eh jangan dipegang, tunggu..” Om usman lalu bangkit dari tempat tidur, dan dia mengambil sebuah kain dari balik kasur. Dia mengelap tanganku dan juga spermanya yang berhamburan di perut dan dadanya. “Adi jangan bilang siapa-siapa ya?” ujarnya. Aku mengangguk mengiyakan.selalu tidur dengan telanjang bulat. Waktu itu malam hari, di rumah kedatangan saudara papa, jadi aku dan papa pindah tidur ke kamar atas tempat om usman tidur.

Mungkin dia lelah sehingga dia sama sekali tidak tahu saat aku dan papa masuk ke kamarnya. Papa menghidupkan lampu kamar dan saat itulah aku pertama kalinya melihat laki-laki dewasa telanjang. Sejak saat itu aku selalu terbayang kejadian itu, dan suatu malam memutuskan untuk pindah tidurnya ke kamar om usman yang memang adem kalau malam hari karena terletak di lantai 2 yang setengah terbuka.
Aku berjalan pelan menaiki tangga, dan kemudian membuka pintu kamarnya. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan saat itu, tapi dia sangat terkejut saat melihatku masuk membawa guling. Lampu meja belajarnya masih menyala sehingga masih terlihat tubuh telanjangnya dan saat itu aku sangat ingat kontolnya sedang ngaceng penuh. “Adi mau tidur sini ya om,” ujarku tanpa memberi kesempatan Om Usman untuk bangun dari tempat tidurnya dengan langsung merebahkan diriku di kasur. Om Usman tampak bingung, tapi akhirnya dia tetap di kasurnya. “Adi, pintunya dikonci aja dulu. Nanti ada yang naek kayak malem-malem itu sama papa,” kata om usman. Aku kunci pintunya lalu kembali ke tempat tidur, dan menghadap dirinya yang sepertinya agak canggung.

Lalu aku memegang batang kontolnya yang masih ngaceng dan om usman sama sekali tidak menyuruhku melepaskannya. “Ini apa om?” tanyaku sambil mengusap-usap jembutnya, saat itu aku sudah tau kalau itu jembut tapi aku kan hanya pura-pura. “Jembut,” ujarnya dengan suara yang sangat pelan. Jembut om usman aku usap-usap, kadang aku tarik-tarik biar lurus. Jembut om usman memang sangat lebat, mungkin pengalaman pertama ini yang membuatku selalu bernafsu kalau melihat cowok yang berjembut sangat lebat. “Kok jembutnya tumbuh juga ya om di titit,” kataku sambil mendekatkan wajahku ke batang kontolnya terutama di bagian pangkal yang ditumbuhi jembut. Lalu aku memegang buah pelernya dan juga dipenuhi bulu-bulu jembut.

Lalu aku memegang-megang batang kontolnya dan tanpa sengaja aku membuat gerakan mengocok yang sama sekali tidak aku sadari kalau itu adalah cara orang mengocok. Kadang batang kontol aku putar-putar sambil aku rebahan di kasur. “Di, di lepasin dulu,” ujar om usman. “Kenapa om?” tanyaku tanpa mau melepas. Nampaknya om usman tak bisa menunggu berlama-lama lagi dan muncratlah spermanya berkali-kali dari lobang kencingnya, sebagian kecil ada yang mengenai jari-jariku yang masih melingkar di batang kontolnya yang berwarna ungu tua dan berurat kekar. “Kok om usman kencing sih?” tanyaku penuh dengan keheranan. Om usman masih belum menjawab, nampaknya dia masih mengatur nafasnya. Setelah itu dia berkata “Kalo sudah besar, nanti kencingnya kayak gini di,” “Oh gitu, tapi kok lengket ya,” “Eh jangan dipegang, tunggu..” Om usman lalu bangkit dari tempat tidur, dan dia mengambil sebuah kain dari balik kasur. Dia mengelap tanganku dan juga spermanya yang berhamburan di perut dan dadanya. “Adi jangan bilang siapa-siapa ya?” ujarnya. Aku mengangguk mengiyakan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Satpam Bank

Namanya Jon Hutabarat, nama depannya kayak nama dari orang dari daerah barat. Tapi itu nama aslinya dan nempel di name tag seragam satpamnya yang ketat. Sebagai satpam bank, dia sedikit beda. Kalau satpam-satpam lain biasanya tinggi besar sedangkan dia sedikit pendek, aku rasa tingginya kurang dari 170 cm. Kulitnya putih banget dengan tangan yang berbulu tidak terlalu lebat.

Wajahnya ganteng dan cute tapi terlihat banget muka bataknya yang keras dengan bibir yang tidak terlalu tebal berwarna kemerahan. Cambangnya dibiarkan tumbuh dengan rambut yang cepak, kesannya dia laki-laki banget. Kalau dari belakang dia sangat menyenangkan untuk dilihat. Badannya terlihat tegap dan pantatnya seksi banget, keras dan agak menonjol apalagi dia pakai celana satpam yang ketat sehingga cetakan celana dalamnya terlihat. Belum lagi kalau di lihat dari depan, tonjolan kontolnya terlihat besar.
Pernah suatu siang aku kesana, aku melihat dia sedang berdiri dekat pintu. Entah apa yang membuat dia begitu, tapi aku melihat batang kontolnya sedang ngaceng tercetak jelas di celananya dengan posisi miring dan aku semakin yakin dia nggak pakai celana dalam saat itu karena kepala kontolnya juga tercetak. Tapi nggak lama dia masuk dan kemudian keluar lagi dengan keadaan normal.

Aku melihat dia sekitar 2 minggu saat aku harus ke bank BRI untuk transfer. Kesan pertama melihat dia yang saat itu sedang berada di depan box ATM bener-bener ngebuat aku gak kuat. Aku terus putar otak, bagaimana caranya agar aku bisa mendekati dia. Sampai akhirnya aku nekat untuk menelponnya di Bank. “Kamu siapa?” tanyanya saat menerima telepon dariku. “Yudi.” jawabku singkat. “Ok, kamu ada perlu apa?” Ditanya seperti itu aku jadi bingung dan gugup. Aku terdiam nggak tahu apa yang harus aku ucapin. “Kalau kamu nggak jawab saya tutup teleponnya ya, soalnya saya lagi banyak kerjaan.”

Entah darimana timbul keberanian itu dan langsung saja terucap, “Boleh nggak aku ngisep kontol kamu?” tanyaku yang kemudian kaget sendiri dengan keberanian itu. Nggak ada jawaban apapun dari ujung sana. “Halo…” kataku kemudian. Aku pikir dia pasti menutup teleponnya, tapi kemudian … “Kamu jangan bercanda, saya lagi tugas.” “Nggak kok, saya serius. Kalo kamu mau, saya rela kamu ngelakuin apa aja sama aku di tempat tidur.” Kembali nggak ada suara apapun dari ujung sana untuk beberapa lama, dan aku dengan perasaan deg-degan menunggu. “Aku nggak pernah ngelakuin itu sama laki-laki, tapi kalo kamu mau kita bisa besok.” “Bener..??” teriakku kaget banget. “Iya.” “kenapa nggak malam ini?” “Malam ini aku mau ngentot pacarku, besok giliran kamu, gimana?” Akhirnya kami sepakat untuk bertemu besok sore di kos dia dan aku meminta dia menunggu dengan pakaian satpamnya.

Sore yang aku tunggu akhirnya datang juga. Dengan perasaan yang campur aduk, aku datang ke alamat yang dia berikan. Setelah aku ketuk, pintu terbuka dan dia menyambutku dengan tersenyum lalu mempersilahkanku masuk. “Oh jadi kamu yang nelpon itu. Aku sering liat kamu di bank.” Aku mengangguk dan tersenyum malu. “Bagaimana, mau langsung?” tawarnya. Aku nggak perlu menjawabnya dan langsung mendekatinya, kemudian mengelus-elus tonjolan di celana bagian depannya. “Aku tahunya enak ya dan aku nggak mau ngapa-ngapain kontol kamu.” katanya. Aku menjawab hanya dengan anggukan dan tanganku terus mengusap-usap tonjolan kontolnya.

Kemudian aku buka bajunya, aku sangat suka sekali melihat badannya yang tegap apalagi saat dia mengangkat tangannya saat aku membuka kaus dalamnya, kedua tangannya itu terlihat kekar dan keras sekali dan ketiaknya penuh dengan bulu, aku nggak terlalu suka bulu ketiak yang lebat dan biasanya membuatku agak sebal, tapi wajah ganteng dan dada kekarnya membuat semua itu nggak penting. Dadanya terbentuk meski bukan sepeti binaragawan. Dadanya bidang dan bersih dari rambut dengan kedua pentil yang kecil tapi menonjol dan sekeliling pentilnya tumbuh rambut-rambut. Lalu aku melihat ke pusarnya dan disana banyak di tumbuhi rambut yang aku yakin tumbuh menyemak di pangkal kontolnya.

Aku langsung memegang kedua pentilnya dan pelan-pelan memilin-milinnya, lalu tiba-tiba aku mendengar dia mendengus agak keras. Nampak dia sangat suka kalau kedua pentilnya dimainkan dan itu membuatku semakin semangat. Dia kusuruh duduk dipinggir tempat tidur dan aku mulai menjalankan aksiku. Aku menghisap-hisap pentilnya seperti bayi yang sedang menyusu, dan pentilnya semakin menonjol serta kian keras. Dia mulai meracau pelan saat aku menyesapi pentilnya dan semakin keras gumamnya saat ujung pentilnya aku jilati juga dengan ujung lidahku sementara tanganku mengusap-usap dada kekarnya yang sudah terbentuk.

Pentilnya kugigit-gigit pelan sambil aku tarik-tarik kemudian aku hisap dengan kuat. Dia terus mendesah dan bergumam keenakan. Lalu tanganku mulai bergerak ke bawah dan mengusap bulu-bulu yang tumbuh disekitar perutnya dan pelan-pelan membuka ikat pinggangnya sambil mulutku terus mengeyot pentilnya. Nampaknya sensasi kenyotanku di pentil dan gerakan tanganku yang membuka celana panjangnya pelan-pelan sampai dia hanya memakai celana dalam saja membuat dia semakin bergairah. Beberapa kali dia dengan sengaja menumbur-numburkan kontolnya yang masih di dalam kolor ke badanku.

Aku berdiri dan melepas semua pakaianku sampai telanjang bulat. Kontolku sudah ngaceng berat dan dia tersenyum melihat keadaanku itu. “Gede juga kontolnya.” katanya kemudian. “Tapi kontol kamu pasti lebih besar kan?” tanyaku. “Liat aja sendiri.” Aku perhatikan dia yang sekarang tidur terlentang dengan celana dalam putihnya sebentar. Badannya benar-benar luar biasa, sepertinya dia diberi waktu lebih banyak saat dibuat dulu sehingga dia lebih mempesona dari laki-laki kebanyakan.

Kakinya berbulu lebat dan pahanya meski tidak terlalu besar tapi kekar sekali dengan aksen bulu-bulu yang membuat bagian bawah perutnya ini menjadi seksi sekali. Aku berjongkok di lantai, lalu membuka kedua kakinya pelan-pelan hingga terbuka lebar. Seksi sekali melihat pemandangan itu dari sudutku berada. Aku merapatkan kedua kakinya sementara wajahku berada ditengah-tengah kedua pahanya dan menjilat-jilat mulai dari dengkul kirinya dan bergerak pelan ke selangkangannya. Lalu lidahku memutar-mutar di paha bagian dalamnya dan tangan kiriku mengusap-usap paha atasnya yang berbulu itu.

Sampailah ujung lidahku tepat di celana dalamnya bagian bawah. Aroma laki-laki segera tercium olehku. Aku cium-cium pelernya yang masih terbungkus dengan bibirku, entah apa bahasa tepatnya tapi aku biasa mengatakan “menguwel-uwel” bibirku nggak keruan di pelernya. Aku tarik keatas pinggiran celana dalamnya dan menarik satu biji pelernya keluar. Biji pelernya besar dan berbulu lebat, pasti banyak pejuh yang tersimpan disana. Aku membayangkan semprotan pejuhnya pasti banyak kalau pelernya seperti ini, pasti enak dan banyak sekali kalau aku telan pejuhnya.

Dia masih tidur terlentang saat aku mulai mengemoti biji pelernya yang aku keluarkan satu itu. Aku kemot pelan sekali dan bagian bawahnya aku jilati. Kadang aku kesulitan juga karena bulu yang tumbuh di biji pelernya suka rontok dan mengganggu lidahku. Setelah puas aku masukkan lagi biji pelernya itu dan aku melihat dia sedang menggigit ujung bantal, aku yakin dia pasti ngerasa enak sekali.

Dia menatapku saat kedua tanganku memegang pinggiran karet celana dalamnya dan pelan-pelan mulai kuturunkan. Ternyata tidak seperti dugaanku, bulu jembutnya tidak terlalu banyak sepertinya dia mencukurnya beberapa hari yang lalu. Tapi kontolnya membuatku sangat surprise. Dia ternyata masih punya kulup dan kepala kontolnya yang berwarna merah keunguan sudah menyembul keluar dari kulit kulupnya dan sudah basah!

Aku paling suka kulup dan aku menjadi begitu bergairah. “Gila masih ada kulupnya,” kataku. “Kenapa, nggak suka kulup ya?” tanyanya “Aku suka banget kulup.” Dan tanpa membuang-buang waktu segera aku menjamah kontolnya yang sudah super ngaceng itu. Kontolnya tidak terlalu besar diameternya tapi panjang banget dan kepala kontolnya lebih gede dari batangnya sehingga menambah seksi dirinya.

Kulit kulupnya kemudian aku tarik-tarik sampai menutup kepala kontolnya dan rupanya kulupnya panjang sehingga masih tersisa. Aku gigit-gigit pelan lalu kuturunkan lagi kulupnya sampai kepala kontolnya terlihat jelas dan dia rupanya sangat suka juga dibegitukan. Dia menggigit lagi ujung bantalnya. Lalu giliran batang kontolnya menjadi sasaranku berikut. Aku pegang batang kontolnya dan aku tempelkan diperutnya, lalu lidahku menjalari di seluruh batang kontol bagian bawah sampai aku berhenti di lubang kencingnya dan lidahku kuputar-putar disekitar pinggiran kepala kontol bagian bawahnya itu.

Dia menyentak-nyentaknya kedua kakinya saat aku melakukan jilatan di pinggir kepala kontolnya itu dan sentakannya semakin keras saat ujung lidahku bermain-main menggeliti lobang kencingnya yang terus menerus ngeluarin cairan bening. Wajahnya terlihat merah dan terlihat berkerut seperti menahan sesuatu yang luar biasa. Dia bangun dan gerakan tangannya menyuruhku berhenti. Badannya yang putih kini terlihat memerah dibagian atas dan dia tersengal-sengal mengatur nafas sambil sesekali menggelengkan kepalanya.

“Kenapa, kamu nggak suka ya?” Dia menatapku, “Aku hampir keluar tadi. Kamu lihai banget, semua yang aku suka tadi kamu lakuin” ujarnya. Aku tersenyum senang. “Aku entot kamu sekarang aja ya.” “Tapi kontol kamu kan belum aku isap.” “Nggak usahlah, aku nggak kuat. Nanti aku keburu muncrat, aku mau ngerasain ngentot laki-laki.” Aku setuju dan tadinya dia mau cari-cari sesuatu buat ngebasahin batang kontolnya. “Nggak usah, aku jilat aja. Aku suka dientot kering aja, soalnya gesekan batang kontolnya berasa banget.” “Nanti sakit lagi” kata dia. “Nggak kok, malahan enak banget.” ujarku menyakinkannya. Dia mengangkat kedua bahunya tanda terserah aku. “Mau posisi bagaimana?” tanyaku. “enaknya gimana?” dia balik bertanya. “Kamu pernah ngentot pacar kamu posisi kamu di bawah nggak?” Dia menggeleng. “Ya udah kita coba gaya itu aja.”

Dia merebahkan kepalanya di kasur dan aku mengangkangi kontolnya. Aku turun pelan-pelan dan saat ujung kepala kontolnya yang aku pegangin itu menyentuh lobang anusku aku berhenti sebentar untuk menarik nafas, ini sesuatu yang paling aku tunggu. Dia menatap ke arah kontolnya dan aku pelan-pelan memasukkan kepala kontolnya sedikit demi sedikit. Aku meringis dan menggigit bibir bawahku saat kepala kontolnya yang besar itu mulai masuk setengahnya. Lobangku mulai terbuka sangat lebar, karena kepala kontolnya salah satu yang paling besar yang pernah masuk ke lobang anusku.

Aku meringis dan mengeluarkan suara tanda aku sedikit kesakitan karena memang kontolnya masuk dalam keadaan kering tanpa pelumas. dan PLOPP…!!! masuklah semua kepala kontolnya dan aku mendesah lega. Saat aku membuka mata dia sedang menatapku dengan muka yang mengernyit seperti merasakan sesuatu yang aneh. “Sakit ya?” tanyanya. “Nggakk.. hhh … enakkkk.” Aku mulai menaik turunkan pantatku dan dia terlihat mulai menikmatinya, terbukti dia mulai semakin banyak menggeram. Bahkan setelah beberapa lama ketika aku menaikkan pantatku dia menghujamkan batang kontolnya ke atas pertanda dia ingin terus mengocok lobang pantatku.

Aku istirahat sejenak di atas perutnya dan menggeol-geolkan pantatku untuk memutar-mutar batang kontolnya dan dia menggeram keras lalu dengan sekuat tenaga menghujam-hujamkan kontolnya sampai aku hampir jatuh. Melihat dia semakin ganas, aku memutuskan berganti gaya yang biasa. Posisi aku dibawah dengan memberikan bantal tipis dipantat biar lobang pantatku agak naik dan memberikannya kesempatan mengentot lobangku sekuat yang dia bisa.

Kedua kakiku kutekuk dan dia membimbing batang kontolnya masuk kembali ke lobang pantatku lalu menekannya kuat. Aku mengeluarkan suara seperti hendak buang hajat saat dia memasukkan batang kontolnya, rasanya sakit sekali karena dia memasukkannya dengan paksa dan sekuat tenaga. Dia sepertinya kesetanan dan menjadi buas sekali. Tanpa memberiku kesempatan untuk mengatur nafas, dia mulai memompa lobang pantatku sekuat tenaga. Mukanya mengernyit menahan enak dengan suara geraman dia pompa lobang pantatku dengan batang kontolnya dalam tempo yang sangat cepat.

Posisi seperti ini membuatku sangat nyaman, batang kontolnya yang panjang membuat ujung kontolnya dengan mudah menyentuh sesuatu di dalam lobang pantatku yang membuatku merasa begitu keenakan. Wajahnya memerah serta keringat menetes banyak sekali dan dia menggeram keras sambil terus mengentotin pantatku tanpa henti. Sensasinya luar biasa dan dia sudah begitu kesetanan dengan liarnya ngentotku sampai tempat tidurnya berderit-derit.

Nggak banyak gaya yang bisa aku buat karena dia sudah begitu liar, tapi itu nggak penting karena aku sudah merasa enak. Semakin lama erangannya semakin keras dan mulutnya terbuka lebar serta tusukan kontolnya semakin kuat, pantatku dipukul-pukul oleh pelernya. Aku sudah nggak tahan lagi, apalagi saat melihat ekspresi muka gantengnya yang keras itu saat mengentotku liar dan menahan enak membuatku … CROTT … CROTTTTT… CROOTTTT… Pejuhku tumpah ruah keseluruh badanku dan ke kasur, banyak sekali. Ini pasti pejuh terbanyak yang pernah aku semprotkan.

“Keluarin dimukaku aja.” kataku saat melihat dia semakin terengah-engah. Dia menarik batang kontolnya dan mengarahkan dimukaku. “ARGHHHHHH … SETANNNNNN” geramnya sambil memukul-mukulkan batang kontolnya di wajahku, sakit tapi enak sekali. Lalu … kembali CROTTTTTTTT …CROTTT…CROTTT….CROTTTTTTTT Semburan panas keluar dari lobang kencingnya membasahi seluruh wajahku. Dia teriak keenakan meski suaranya ditahan biar tidak didengar orang. Seperti juga aku, pejuhnya bahkan beberapa kali lebih banyak menyemprot dari pada pejuhku.

Dia selesai menyemprotkan pejuhnya dan mengatur nafas. Aku memegang batang kontolnya dan menjilati sisa pejuh yang masih mengalir dari lobangnya. Kadang aku poleskan ke seluruh pipi dan bibirku jika masih ada sisa pejuhnya yang meleleh. Dia kemudian bangun dan duduk selonjor di kursi plastik, dan kedua kakinya terbentanglebar di atas kasur membuat pemandangan yang indah buatku.

“Gimana?” tanyaku. “Setan, enak banget.” Dia terdiam begitu juga denganku. “Besok kita ngentot lagi yah, malam ini aku mau nonton sama pacarku.” katanya. Aku tersenyum dan mengangguk senang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Proyek Jembatan

Setelah aku amati aku mulai paham, rumah itu tempat para pekerja menaruh bahan bangunan dan mungkin sebagai tempat mereka menginap saat malam hari.
Otak homoku segera berputar dan darahku berdesir saat aku membayangkan mereka mungkin menginap di rumah sementara itu. Masih aku melamun tiba-tiba seseorang datang dari arah samping, “Permisi mas,” ujarnya. Aku kaget karena tak siap akan kedatangan seseorang. Aku melihat seseorang yang tingginya kurang lebih 160cm dengan badan berkulit sawo matang dan badan yang kekar, rambutnya klimis dan tampangnya tidak terlalu tampan tapi sangat laki-laki. Ia tidak memakai baju dan hanya mengenakan celana jeans lusuh selutut sehingga dadanya yang kekar dan terbentuk serta perutnya yang berkotak-kotak seakan-akan melambai-lambai ke arahku. Belum lagi banyak bulu-bulu yang tumbuh di perut bawahnya. “Oh ya. Aduh jadi kaget, biasanya nggak ada orang,” kataku. “Iya, kenalkan saya Darno. Begini saya tadi sudah ijin sama pemilik tanah sebelah, karena kebetulan ada proyek perbaikan jembatan jadi kami minta ijin untuk tinggal sementara selama kurang lebih seminggu di tanah sebelah,” “Oh begitu. Ya sudah tinggal aja, yang punya tanah itu juga yang punya rumah ini,” kataku. “Ya terima kasih, sekalian nih mas. Kalau nggak keberatan kita bisa tidak mandi atau cuci baju di sumur belakang ini?” tanyanya.
HAHHHHHH…..!!!! “Apa aku nggak salah denger, MANDI…????!! di sini, disumur belakang rumahku!??!” kataku dalam hati. Ingin rasanya aku berlari dan mencium sumur itu untuk mengucapkan terima kasih, karena mandi disitu berarti semoga telanjang. “Oh ya nggak apa-apa mas, silahkan aja airnya kebetulan banyak dan bersih. Daripada mandi di kali nanti kena gatal-gatal,” kataku berpromosi. “Lagipula disini nggak ada siapa-siapa kecuali saya, jadi ya kalo mo mandi atau nyuci nggak usah risih segala.” Ia hanya tersenyum dan mengangguk, “kalau begitu saya permisi dulu ya mas, nggak enak masih ada kerjaan.” Dan aku masuk dengan hati berdegub-degub kencang menanti yang bakalan terjadi.
Benar saja, sekitar jam 4 sore aku mendengar tali sumurku berbunyi, dan aku cepat-cepat masuk ke kamar belakang yang aku jadikan gudang. Letak jendela kamar belakang tepat disamping sumur sehingga apapun yang terjadi disana pasti terlihat. Seperti sore itu aku melihat ada 4 orang pekerja yang sudah ada disana, mereka bergantian menarik tali sumur dan mandi, tapi aku sedikit kecewa karena tak ada satupun dari mereka yang telanjang, mereka mandi hanya memakai celana pendek.
Kemudian datang 2 orang lagi. Tubuh mereka berdua sama seperti lainnya dan aku mendengar mereka saling menyapa dengan ke 4 pekerja yang sudah ada disana terlebih dahulu dan tanpa basa-basi mereka menurunkan celana pendek mereka hingga kontol mereka terlihat jelas. Darahku mendidih melihat pemandangan itu, kontol 2 kuda jantan ada dihadapanku. Yang satu segera bergabung dengan mereka tanpa ada rasa risih sedikitpun, sementara satunya mencuci celana pendeknya. Aku melihat keempat orang itu sempat melirik ke arah mereka berdua, tapi mungkin ego mereka sesama lelaki membuat mereka akhirnya tidak perduli lagi.
Wah rasanya senang sekali, hari itu lebih dari 20 kontol dengan beragam ukuran bisa aku lihat. Terkadang mereka saling bercanda dengan menyentil batang kontol lainnya, atau ada yang diam-diam menarik jembut temannya yang cukup lebat. Ada yang bercanda dengan mempertontonkan gerakan ngocok kontol, ada juga yang memang ngocok kontolnya betulan, seneng banget melihatnya. Aku tak pernah bosan melihat mereka meski aku hanya jadi pengamat pasif saja.
Namun ada satu yang menarik perhatianku, ada seorang pekerja yang aku kenal bernama Widatmanto, teman-temannya biasanya memanggil dia Wiwit. umurnya sekitar 23 tahun, badannya tegap sekali dengan kulit sawo matang. Tingginya sekitar 160cm dan tidak terlihat terlalu tinggi, dan aku tahu setiap sore dia selalu ngocok diam-diam dan sudah 2 hari ini aku melihat dia sering ngocok kontolnya di pagi dan siang hari saat aku pulang untuk makan siang (terlalu dipaksakan karena aku sesungguhnya ingin ngintip aktifitas sumur siang mereka).
Kalau dia datang pasti kontolnya sudah tegang, ukurannya sekitar 16cm dan gemuk batangnya dengan kepala kontol yang besar. Dia sering menggesek-gesekkan batang kontolnya di tembok sumur yang licin, naik turun dan kadang diputar-putar, lalu biasanya dia mengerang kalau mau ngecrot. Sayangnya dia tidak tinggal disitu jadi aku tidak bisa banyak bicara dengannya.
Siang itu aku sudah mempersiapkan diri dan aku tahu dia pasti datang saat keadaan sepi. Dan tepat sekali, sekitar jam 1 siang dia datang padahal aku hampir saja akan pergi karena jam istirahat kantorku sudah habis. Tiba-tiba dia datang dan setelah tengok kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang dia segera mengeluarkan batang kontolnya. Pintu belakang sengaja tidak aku kunci agar saat aku membuka tiba-tiba dia tidak sempat memasukkan kontolnya kembali ke dalam celana.
Pintu belakang aku buka dengan cepat dan aku bergerak keluar. Dia terlihat kaget dan tak siap dengan kehadiranku, namun aku sudah mempersiapkan semuanya dan aku bersikap biasa saja. “Oh maaf ada orang ya.” ujarku. Dia tersenyum canggung dan kontolnya masih menempel di dinding sumur. “Sampean lagi onani ya mas?” tanyaku langsung. Dia tersenyum lagi dan menjawab, “iya mas, aku nggak tahan rasanya pengen ngocok terus.” “Ya udah, terusin aja.” Dia masih malu-malu dan batang kontolnya tetap menempel tanpa bergerak. “Malu ya aku liatin, biasa aja lah mas aku aja biasa ngocok tiap malem.” ujarku. “Apa sampean mau aku bantuin? kalo mau ya masuk, nanti tak kocokin?” kataku semakin berani. Dia terlihat ragu dan aku melihatnya. “Belum pernah dikocokin ya mas, udah nggak usah malu-malu aku nggak bakal bilang siapa-siapa kok.”
Dia akhirnya masuk ke dalam rumah. Baru saja satu kakinya masuk ke dalam rumah, aku sudah memegang batang kontolnya dan menariknya ke dalam. Dia terlihat kaget, tapi aku bergerak cepat dengan menggunakan kakiku aku menutup pintu dan aku segera berlutut lalu mulai mengocok batang kontolnya yang besar dan berurat. Dia masih terlihat malu-malu dan hanya memperhatikanku. Sementara tangan kiriku mengocok batangnya, tangan kananku bergerilya dengan mengelus-elus kedua biji pelernya. Dia mulai mendesah-desah keenakan dan dia mulai menggerak-gerakkan kontolnya yang masih dalam genggamanku.
Kocokanku pada kontolnya semakin kencang dan dia juga mulai semakin aktif gerakannya. Aku hentikan aktifitas tanganku pada kontolnya sejenak dan dia menatapku dengan pandangan tidak setuju. “Sebentar ya,” kataku pelan menjawab ketidaksetujuan matanya. Aku membuka pakaianku satu persatu sampai telanjang bulat, kemudian aku tatap tubuh berototnya yang masih berpakaian lengkap hanya bagian celana lusuhnya saja yang sudah melorot sampai lulut. “Mas buka dong bajunya,” pintaku. Dia terlihat ragu, “Mau diapain mas?” tanyanya kemudian. “Sudah buka aja, pokoknya sampean pasti ngerasa enak,” Tuntutan birahinya yang sedang tinggi membuat dia pasrah dan membuka seluruh pakaiannya sampai bugil. Tubuhnya sangat seksi, tahu sendiri bagaimana bentuk tubuh mereka yang bekerja sebagai tukang atau kuli itu.
Aku berlutut tepat dihadapan kontolnya, kemudian aku elus-elus batang kontolnya yang bener-bener sudah tegang. Aku berniat mempermainkan emosinya dulu baru kemudian aksiku. “Wah nih kontol pasti udah ada yang punya ya?” tanyaku sambil mengelus-elus batang kontolnya dari bawah sampai ke ujung kepala kontol. Dia terlihat geli dan menggeleng, “Belum ada, siapa sih yang naksir aku,” “Tapi kalo kontolnya segede gini pasti banyak yang mau,” ujarku sambil kemudian mengecup lobang kencing di kepala kontolnya dengan bibirku. Aku bisa merasakan gelinjangnya dan tak lama cairan precum keluar meleleh dari lobang kontolnya. Dia tak menjawab pertanyaanku matanya terpejam.
“sudah pernah ngentot belum mas?” tanyaku lagi. Dia membuka matanya dan menatapku, “sudah, hampir tiap hari,” “Wah sama siapa?” kali ini aku bertanya sambil meremas lembut kantong pelernya, dia kembali menggelinjang. Belum sempat dia menjawab, aku menjulurkan lidahku dan menjilati seluruh bagian pinggir topi kepala kontolnya. “Ayo dong mas dijawab,” pintaku sambil meletakkan batang kontolnya di hidungku dan menggesek-gesekkannya, aroma kontolnya sangat khas, dan cairan lengketnya menempel di hidungku membuat suasana semakin seksi.
Dia terengah-engah, mungkin selama ini belum pernah ada yang memperlakukan kontolnya seperti itu. “Sama … sama lonte,” jawab dia akhirnya setelah aku kembali mengecup ujung kepala kontolnya. “Wah sama lonte kan bayar, mendingan sama aku gratis.” kataku. “KAlau sama lonte pasti belum pernah diginiin,” lanjutku kemudian dan setelah berucap itu aku langsung memasukkan batang kontolnya ke mulutku. Dia terlihat kaget dan tubuhnya sedikit tersentak, tapi kedua tanganku memegang pinggangnya sehingga aku bisa konsentrasi pada hisapanku.
Kontolnya yang punya panjang sekitar 16cm dengan diameter sekitar 4,5 cm itu setengahnya masuk ke dalam mulutku. Aku keluarkan lagi kemudian aku masukkan lagi sampai sedikit lebih dalam dari kepala kontolnya dan saat itu aku langsung menghisapnya kuat-kuat. Dia mengerang-erang dan aku merasakan kontolnya berdenyut-denyut, aku tahu dia akan segera ejakulasi sehingga aku buru-buru melepas batang kontolnya dari mulutku. “Kok dilepas?” tanyanya dengan nada sedikit kecewa. “Nanti sampean keburu keluar, kan belum ngentot aku,” Dia menatapku lagi dan kali ini agak lama, “Memangnya mas ini mau aku entot?” “Sama kontol segede ini? mana mungkin aku tolak,” ujarku. Aku kemudian memposisikan diriku dan memintanya mendekat dan menempelkan batang kontolnya di belahan pantatku. “Sampean entot aku ya, sama seperti sampean ngentot lonte-lonte itu,”
Dia langsung mengerti apa yang aku maksud, dia meludah lalu membalurkannya di sekujur batang kontol dan kemudian menempelkan kepala kontolnya di lobang anusku. Dia pasti belum pernah ngentot laki-laki sebelumnya karena dia langsung menekan batang kontolnya sekuat tenaga sehingga aku merasakan bagai disuntik dengan jarum besar saat kepala kontolnya membelah lobang anusku. Dia sama sekali tidak berniat berhenti sebentar untuk memberi kesempatanku bernafas karena dia langsung memasukkan seluruh batang kontolnya yang gede sampai mentok ketika bulu-bulu jembutnya yang sangat tipis karena habis dicukur menempel dikulit pantatku.
Dasar birahinya sudah dipuncak dia langsung memompa anusku dengan kontol besarnya tanpa perduli dengan diriku. Hebatnya dia langsung memompa kontolnya sekuat tenaga, meski terasa sakit sensasi pompaan batang kontolnya membuat rasa nikmat cepat menggantikan rasa sakit sebelumnya. Apalagi saat batang kontolnya hampir amblas semua dia seolah-olah menumbuk diriku sehingga aku bergoyang hebat dan berusaha agar tetap ditempat. Kantong pelernya yang menggelantung panjang juga kerap kali mengenai dan memukul-mukul biji pelerku sehingga terasa sedikit ngilu.
Batang kontol itu terus memompa lobang anusku dan nafasnya semakin menderu kencang. Apalagi saat ujung kepala kontolnya menyentuh sesuatu di dalam lobangku, rasa nikmat semakin terasa. Tak terasa tubuhku diselimuti keringat dingin karena rasa enak yang luar biasa. Aku berusaha untuk bertahan tapi rasa nikmat yang diberikan pekerja dengan nafsu besar dan liar ini membuatku tidak lagi bisa menahannya. Akhirnya pertahananku bobol, tubuhku bergetar dan rasa nikmat yang luar biasa secepat kilat berkumpul dari segala arah dan menyatu diujung lobang kencingku. Aku merasakan denyutan yang cepat dan berkali-kali dalam waktu singkat membuatku mengerang, lalu ….. CROTTTT …CROTTT…CROTTTT Spermaku muncrat berkali-kali sampai membasahi karpet yang ada di bawahku dan sudah sampai berkali-kali denyutan itu berhenti. Lalu sisa spermaku mengucur pelan dari kepala kontolku yang menghadap ke bawah.
Belum sempat aku bernafas, tiba-tiba kedua tangannya memegang bahuku lalu dengan suara yang kuat dia menghujam-hujamkan batang kontolnya, ARGGHHHH … ARRGHHHH… ARGGGHHH kira-kira begitu bunyi erangannya. Aku merasakan sampai lututku seolah bergerak beberapa senti kedepan. Lalu dia membenamkan seluruh batang kontolnya kemudian memutar pinggulnya tak karuan dan mengerang keras … ARGGGGHHHHHHH…. CROTTTTT …CROTT.. CROTTTT Aku merasakan semburan sperma berkali-kali didalam lobang anusku dan aku bisa merasakan betapa banyak semprotan spermanya seolah-olah dia belum pernah mengeluarkannya bertahun-tahun. Sperma yang tak tertampung meleleh keluar dan menjalar pelan dipaha belakangku dan jatuh kelantai.
Dia menjatuhkan kepalanya dipunggungku dengan batang kontol yang masih di dalam lobang pantatku. Aku mendengar dengusan nafasnya yang cepat, aku tahu dia sedang mengatur kembali nafasnya. Aku tersenyum puas akan kenikmatan yang kurasakan dan yang dia berikan baru saja.
Hari itu tidak seperti biasa karena ada pekerjaan aku pulang sekitar jam 17.30. Masuk rumah dan hanya mengenakan kaus dalam serta celana panjang seragam kantor aku bergegas ke belakang untuk mengangkat jemuranku tadi pagi. Saat aku di dapur aku mendengar suara orang mandi. Biasanya jam segini sudah tidak ada yang mandi lagi, jadi aku intip dari jendela dan ternyata ada 3 orang yang sedang mandi dan mencuci pakaian termasuk Wiwit yang kemarin ngentot denganku.
Melihat Wiwit sedang mandi telanjang dan kontol gagahnya yang berhasil memberiku kepuasaan, kontolku segera bereaksi lagi. Aku segera melepas celana panjang serta kaus dalamku dan hanya mengenakan celana dalam usang yang agak longgar. Maksudnya ingin menggoda Wiwit agar mau ngentot lagi denganku malam ini. Jadi aku segera keluar dan mereka yang ada disitu menengok. “Oh masih ada yang disini ya,” kataku pura-pura kaget. Aku menatap Wiwit dan dia juga menatapku lalu penampilanku saat itu. “Iya mas,” kata Darno si kepala tukang yang berambut cepak banget ini yang sedang mengeringkan badannya yang tegap itu dengan handuk. Gila … dalam keadaan dingin seperti ini saja kontolnya gemuknya ngegelantung dan yang bikin aku semakin kesengsem Jembutnya ternyata lebetttt banget.
Aku segera menuju tempat jemuranku dan dari sudut mata aku bisa melihat sepertinya Wiwit mendekati teman-temannya dan seperti mengatakan sesuatu dengan cepat. Setelah selesai aku angkat jemuran aku berjalan balik ke pintu dan diluar dugaan Wiwit mengatakan sesuatu yang bener-bener ngebuatku shock berat. “Mas Yud, kapan aku bisa ngentot mas lagi?” Aku bagai disambar petir dan segera kutatap ke area sumur itu melihat reaksi semua yang ada disitu.
Mereka semua ternyata sedang menatapku, ada yang tersenyum ada yang diam saja dengan mata ke arahku. Kontol-kontol itu sungguh menggoda dan aku nggak mampu lagi mengendalikan diri. “Sekarang aja yuk?” kataku penuh nafsu. “Gue boleh ikut mas?” tanya Darno, kepala tukang yang perutnya penuh bulu dengan kontol yang sudah setengah ngaceng. Aku dekati dia dengan tangan kananku memegang cucian. Tangan kiriku segera menyambar batang kontolnya dan meremas lalu aku tarik dia ke dalam. “Yang laennya kalo mau ikutan aja ke dalam,” kataku.
Terdengar suara agak riuh. “Nanti aku nyusul lah, tanggung nih,” kata seorang lagi yang sedang nyuci. Jadinya aku berjalan masuk sambil menuntun kontol Darno yang sekarang sudah ngaceng abis di dalam genggamanku. Kontol Darno ternyata lebih gemuk lagi dari kontol Wiwit dan terasa sekali lebih keras. Aku segera letakkan jemuranku di kursi sesampainya di dalam rumah dan segera berlutut.
Enaknya membayangkan akan ngentot dengan tiga tukang. Nggak perlu romantis-romantisan segala, langsung tancap dan entot, bener-bener gayanya laki-laki.
Kulirik ke wajah Darno dan dia menanti apa yang akan aku lakukan. Aku mulai mengocok-ngocok batang kontolnya sambil kuciumi arona di bawah biji pelernya. Aroma yang begitu khas. Tangan kiriku menekan batang kontol Darno hingga bagian bawah batangnya terlihat dan kepala kontolnya menyentuh sekitar perut. Aku julurkan ujung lidahku untuk menjilati bagian antara pangkal batang kontol bagian bawah dengan biji pelernya. Nikmat sekali.
Aku gigit-gigit kecil daerah itu sambil dibarengi sedotan-sedotan berkekuatan lemah. Dia menggelinjang sambil mendesah pelan. Kuciumi lagi daerah itu dengan hidung dan perlahan ujung lidahku menjalar naik ke atas melewati bagian tengah dari batang kontol bagian bawahnya yang agak menonjol. Dia terus mendesah dan ketika hampir sampai lidahku di bagian lobang kencingnya, aku merasakan rasa dari cairan yang sangat aku kenal. Rupanya dia sudah mengeluarkan cairan bening pembuka dan cairan itu terus mengalir. Aku jilati cairan itu, menelannya dan segera menuju sumber cairan itu.
Kukecup sedikit lobang kontolnya untuk membuat sensasi geli dan dia menyukainya. Kembali ujung lidahku bermain dan kuputar-putar di daerah itu serta bagian bawah kepala kontolnya. Sesekali gigitan pelan kulakukan di pinggir-pinggir kepala kontolnya. Ku tatap batang kontol nan gagah itu sekali lagi. Aku tahu apakah mulutku sanggung melewati kepala kontol yang gede banget itu. Disaat itu aku mendengar pintu belakang terbuka dan ada langkah-langkah yang mendekati kami.
Aku menarik nafas dan kubuka mulutku lebih lebar dan berhasil. Aku berhasil melewati kepala kontol itu dan sekarang aku sudah menyedot-nyedotnya dengan jemariku memilin-milin batang kontol Darno. “Gila .. enak banget …Shhhh ahhhh…” erang Darno. “Aku belum pernah di kenyot seperti itu, biniku mana mau” kata suara lain yang ternyata tukang bertubuh tinggi yang tadi sedang mencuci baju. “Sedotan dia enak, kamu bakal ketagihan,” kata suara yang aku kenal, Wiwit. Dia sudah di belakangku dan menarik celana dalamku hingga terlepas.
Sungguh aku sudah tak perduli apapun yang akan mereka lakukan yang jelas aku menikmati ini. Tangan kananku memegang pantat tukang bertubuh tinggi itu dan mendorongnya ke arahku hingga kepala kontolnya menyentuh pipiku. Sementara Wiwit sudah menempelkan batang kontolnya yang juga sudah ngaceng penuh diselah-selah belahan pantatku dan ia menggesek-gesekkannya. “Ini lobang yang bikin aku ketagihan. Lebih enak dari memek manapun, kalian bakal percaya gak bakal ada memek manapun yang pernah kalian entot yang lebih enak dari lobang dia.” kata Wiwit setengah promosi sambil tertawa-tawa.
Darno terus mendesah, dia sungguh menikmati sedotanku. “Enak no?” tanya tukang bertubuh tinggi yang sekarang kontolnya aku kocok-kocok. “He-eh,” jawab Darno pendek dengan mata yang terpejam menahan enak. Aku melepaskan sedotanku pada kontol Darno. Aku beralih ke kontol tukang bertubuh tinggi itu. Kontolnya tidak segemuk Darno tapi panjang sekali, sekitar 19cm seperti Darno jembutnya juga sangat lebat. Tapi aku sangat menaruh perhatian pada kantung pelernya. Kantung pelernya itu tertutup habis oleh bulu-bulu jembutnya yang lebatnya kelewatan banget.
Aku dengan rakus langsung mengenyot-ngeyot satu persatu biji pelernya yang membuatku kelimpungan. “Argghhhh…” tukang itu berteriak kaget. “Mas Darno, gesekin kontol mas di rambutku yah,” pintaku ke Darno. Dia mengangguk, sementara aku merasa kepala kontol Wiwit menempel-nempel di lobang pantatku, aku yakin dia bakal mengentotku sebentar lagi. Sensasinya sungguh enak, gesekan batang kontol di rambutku dan terkadang bagian bawah batang kontolnya yang hangat juga menggesek pipiku. Tukang bertubuh tinggi itu juga sudah mulai banjir cairan bening yang aku sedot terus sampai habis.
Darno kemudian melihat Wiwit yang menonjok-nonjok pelan lobang anusku dengan kepala kontolnya. “Wit, lo kan udah ngentot dia kemaren. Gue ngentot dia dulu ya, gue pengen nyoba,” kata Darno. Aku semakin sumringah mendengar ucapannya. Darno yang berbodi keren dan berkontol sangar ini bakal ngentotku, lobangku menjadi empot-empotan karena bahagia. Lalu aku mendengar Darno berkata padaku, “Pasti enak nih ngentot sama elo, tunggu aja ya sampe nanti kontol gue ngebelah lobang pantat lo”
Tukang bertubuh tinggi itu mendekat ke arah dimana kontol Darno sudah bersiap-siap mengentotku, begitu juga Wiwit. Mereka ingin melihat secara jelas kontol Darno menerobos lobang pantatku. Aku melirik kearah kontol Darno dan astaga, kontol itu benar-benar terlihat keras dan aku akan merasakannya sebentar lagi. Dengan kontol seperti itu, aku siap dientot dia kapan aja, termasuk sekarang. Aku segera memposisikan diriku agar dia bisa mengentotku dengan mudah.
Sekarang saatnya, tanpa basa-basi Darno langsung menekan kontolnya ke dalam lobangku. Aku menarik nafas berusaha menahan sakit saat separuh batang kontolnya masuk. Tukang bertubuh tinggi itu terlihat antusias dengan masuknya kontol Darno. Dia berkali-kali menatapku saat Darno sedang menekan kontolnya masuk. “Seret no..” tanyanya. Darno mengangguk dengan ekpresi muka sedang berusaha keras memasukkan kontolnya. “Gila nih lobang sempit bener,” katanya. “Coba kamu pilin pelan-pelan batangmu, pasti bisa,” Wiwit memberi saran.
Bener-bener gila sensasi nikmatnya. Dua laki-laki jantan berbadan tegap dengan kontol ngaceng teracung-acung sedang membantu kontol temannya yang juga jantan dan besar masuk ke lobangku. Melihat Darno kesusahan, aku lebarkan kedua kakiku agar lobangku semakin terbuka dan dia bisa masuk dengan lebih mudah. Keringat mengucur dari wajah dan badan Darno sehingga dia terlihat jauh lebih seksi dari sebelumnya. Dia menggeol-geolkan kontolnya seperti mata bor dengan jempol diatas batang kontol dan telunjuknya di bawah batang kontol untuk menopang gerakan ngebornya dan … PLOP…!!!! Masuklah kepala kontolnya yang besar itu.
Aku merasa lebih lega dan mulai merasakan rasa sakit lagi, tapi aku nggak bisa berlama-lama merasa sakit karena tiba-tiba dia langsung menimpakan seluruh beratnya ke badanku dan dengan cepat seluruh kontolnya amblas dan ujung kontolnya langsung mengenai sesuatu di dalam lobangku. Aku menjerit antara rasa sakit yang tiba-tiba dan rasa enak di dalam lobangku.
Wajahnya penuh dengan peluh dan dia menatapku sambil tersenyum. “Gimana, enak gak kontol gue?” ujarnya sambil menggeol-geolkan lagi pantatnya, sehingga bulu jembutnya yang lebet dan menempel dikulit pantatku terasa menari-nari dan menggelitikku menimbulkan rasa geli dan sensasi nikmat. “Argghhh… shhh… enak…” desisku sambil melonjok-lonjakkan pantatku ke atas. “Udah No, cepetan entot. Dia sepertinya udah nggak sabar.” kata tukang bertubuh tinggi itu.
Darno kemudian menarik keluar batang kontolnya sampai sebatas kepala kontol lalu ditekan lagi masuk. Dia mulai memompaku dan kontolnya terus memompa lobangku dengan kecepatan penuh. Aku seperti merasakan dimasukin mesin bor, tapi rasa enak terus menerus menerpaku. Aku semakin gila-gilaan menggeliat dan berkali-kali menahan diri agar nggak cepat keluar karena entotannya bener-bener enak. Dia terus mendengus dan memompaku. Dia tersenyum saat melihat ekspresi wajahku yang keenakan. “Gimana enak kan entotan gue?” tanya sambil terus ngentotku. “Ahhh setan …!! enak banget kontol lo… entot gue lebih keras .. ayo…” aku semakin liar. “Nih lo rasain sendiri,” katanya. Dia sama sekali nggak main-main, kontolnya ditusukkan dengan sangat kuat ke lobangku karena tenaga kulinya yang luar biasa. Aku betul-betul terengah-engah… “Terus … terus … ahhh enak…” ujarku.
Tukang bertubuh tinggi itu memposisikan dirinya seperti sedang push-up dengan kedua biji pelernya yang menggantung itu menempel di bibirku dan batang pelernya menempel melebihi daguku, sementara kepalanya menghadap Darno yang sedang mengentotku. “Tenang aja kang, nanti juga dapet giliran …” kata Darno saat melihat tukang bertubuh tinggi itu memperhatikan entotannya. “Akhhh …. enak sekali … arhhhh” Aku menjilati kedua telur terbungkus jembut itu, rasanya enak sekali. Aroma khas laki-lakinya membuatku semakin bergairah, belum lagi entotan Darno, aku terus mengelinjang keenakan.
Kulihat Wiwit duduk dilantai sambil ngocok kontolnya yang gede itu dan dia tersenyum saat melihatku sedang menatapnya. Aku benar-benar ingin kontol dan entah apa yang mempengaruhi otakku, tiba-tiba aku berkata “Ngentot berdua aja..” ujarku dengan susah payah. “Ayo masukin satu kontol lagi ke lobang gue,” Darno menghentikan entotannya. “Gila lo, mana bisa… satu aja masuk susah apalagi dua.” katanya. “Bisa,” ujarku. “Ayo gue udah nggak sabar pengen kontol lagi.” “Ya udah biar aku coba aja,” ujar Wiwit yang sepertinya juga nggak sabar pengen ngentot aku lagi.
Darno menarikku dan menaikkan ku ke tubuhnya sehingga dia dalam posisi menggendongku, tapi kontolnya tetep masih di lobangku. Aku rebahkan kepalaku dibahunya. Enak sekali sensasi ini, digendong laki-laki jantan dan kontolnya menancap keras di lobangku. Wiwit merebahkan tubuhnya, lalu Darno menurunkan aku. Dia memutar aku sehingga posisiku berganti dan wajahku menghadap wajah Wiwit. Aku rendahkan tubuhku dan tukang bertubuh tinggi itu tiba-tiba membantu dengan memegangkan batang kontol Wiwit yang sudah ngaceng itu dan mengarahkannya ke lobangku.
“Arghhh…” Erang Wiwit saat tukang bertubuh tinggi itu memegang kontolnya dan mengarahkan ke lobangku. Lalu Wiwit mendesakkan batang kontolnya. Karena lobangku sudah terbuka oleh kontol Darno dengan mudah kontol Wiwit masuk. “Ah… enak … ayo mulai entot gue … ayo cepet…” aku membakar gairah mereka. Darno langsung tancap gas begitu juga Wiwit. Dua kontol laki-laki jantan itu beradu di dalam lobangku. Aku berniat mengisap kontol tukang bertubuh tinggi itu, tapi dia menolaknya. “Jangan, nanti aku ngencrot di mulut kamu lagi. Aku mau ngentot kamu dulu,”
Aku yakin mereka berdua yang sedang mengentotiku ini juga merasakan sensasi lain selain enaknya mengentotku, yaitu gesekan antara batang kontol mereka sendiri. Gerakan mereka semakin liar, terutama Darno sampai-sampai Wiwit bilang agar Darno jangan terlalu kuat ngentotku karena susah buat dia mengimbangi. Tapi Darno tak perduli dan aku merasakan batang kontolnya semakin mengembang… “Argghhhh… SETAN …!!!!!” teriak Darno. Dan … CROT … CROT …. CROT, semprotan demi semprotan pejuh Darno memenuhi lobangku dan karena lobangku juga ada kontol lainnya, pejuh Darno meleleh keluar dan turun lewat batang kontol Wiwit dan membasahi jembut Wiwit. “Arghh .. pejuh kamu anget bener no, sialan kena kontolku sama pejuhmu,” ujar Wiwit. Darno hanya tersenyum saja. Sementara tubuhku sudah penuh peluh dan aku dirasuki rasa enak yang amat sangat.
Tukang bertubuh tinggi itu segera ambil kesempatan, dia menarik Darno. “Cepet lah .. aku dah nggak tahan,” Lalu kontol Darno tercabut dari lobangku dan dengan kasar dia menggantikannya. Kontol itu dengan cepat masuk dan ia langsung memompaku. Bunyi kecipak-kecipok dalam lobang pantatku yang penuh dengan sisa-sisa pejuh Darno di rojok oleh dua kontol menimbulkan rasa nikmat yang tak bisa aku tahan.
Kontolku menggembung dan kemudian aku mengerang keras … aku nggak bisa menahan diri lagi. CROT…CROT .. CROT …CROT … Semprotan pejuhku sudah tak karuan arahnya, menyemprot kesana kemari aku sudah tak perduli. Badanku bergoyang-goyang dientot dua orang dan aku sendiri kelojotan karena rasa enak yang luar biasa. Sepertinya tadi berliter-liter pejuh menyembur dari lobang kencingku.
“Aku juga mau ngecrot…” ujar Wiwit dengan suara tersengal-sengal. “Jangan dikeluarin di dalam,” ujarku cepat. “Keluarin dimulutku, ayo cepat.” Wiwit bereaksi dengan langsung mencabut kontolnya dari lobangku dan berdiri menghampiri mulutku. Batang dan kepala kontolnya penuh dengan pejuh dari Darno dan tukang bertubuh tinggi itu, dan aku sangat senang karena ini yang kuinginkan. Pejuh dua orang yang tadi mengentotku sudah bersatu.
Aku segera menyambar batang kontol nan licin itu dan memasukkannya di mulutku dan kukenyot-kenyot. “Aw… Argghhh .. Arghhhh…” erang Wiwit tak karuan. Tak lama … Crottttttt satu, tiga, lima , tujuh … sembilan semprotan keluar dari lobang kencingnya dan semua aku telan. Ahhh bener-bener enak. Aku keluarkan batang kontol itu dari mulutku dan terus aku jilat-jilat untuk membersihkan sisa-sisa pejuh di sekujur batang kontolnya sampai kering tak bersisa.

Posted in Uncategorized | Leave a comment